Kisruh. Sepekan terakhir ini ada banyak sekali keriuhan dalam sosial media kita. Tentang narasi yang dilontarkan Xpose Uncencored yang ditayangkan Trans 7 pada 13 Oktober 2025 lalu. Narasi yang terkesan menghina ulama, mendiskreditkan pesantren dengan beberapa tradisinya, setidaknya ada 3 pembahasan utama yang membuat santri dan alumni Lirboyo meradang.
1. Pesantren dikaitkan dengan budaya feodal, karena santrinya harus berjalan jongkok bahkan ngesot di depan kiai/bunyai
2. Para kiai menjadi sangat kaya raya karena mendapatkan banyak amplop dari santri. Disebutkan dalam tayangan itu, kiai membeli mobil harga miliaran, sarung harga jutaan dll.
3. Santri menjadi pembantu gratisan karena membantu kiai membersihkan rumahnya, dll.
Yang paling memantik amarah para santri ini adalah video Kiai mereka yang dimunculkan tengah turun dari Alphard. Kiai Anwar Mansur, pengasuh Pondok Lirboyo-Jawa Timur.
Mari kita bahas satu persatu.
Pertama, tentang jalan jongkok dan kaitannya feodalisme. Relasi antara santri dan kiai yang dinilai tidak demokratis. Kiai adalah otoritas tertinggi, sedangkan santri adalah “bawahan” yang harus tunduk, patuh tanpa boleh mendebat. Bagi orang luar, bisa jadi terlihat seperti ini. Tetapi mengapa banyak santri yang berkata, “yang gak pernah mondok gak akan paham.”?
Karena pesantren punya mekanisme sendiri dalam mengelola relasi itu. Pesantren memiliki tatacara sendiri dalam mendidik para santri. Hal-hal yang memang tidak sepenuhnya dipahami atau mungkin disalahpahami oleh orang luar pesantren.
Perilaku zahir yang sama, bisa dimaknai berbeda. Ada yang menyebutnya feodal, tetapi bagi para santri itu sendiri, hal seperti itu dinamakan “adab”. Sebuah cara penghormatan pada kiai karena ilmu yang dimiliki. Maka bersikap hormat, membantunya, taat para perintahnya, merupakan satu rangkaian pengabdian.
Mungkin kita pernah melihat video ketika ada seorang ustadz mengendarai motor, lalu para santri yang tengah berjalan itu berhenti seketika hingga sang ustadz berlalu. Itu bukan feodal, itu adalah aplikasi dari adab yang diajarkan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim bahwa santri tidak boleh berjalan di belakang guru, tidak mendahuluinya. Kitab ini menjadi rujukan bagi para santri dalam belajar Adab.
“Okelah kalau hanya menghormati, tapi tidak usah sampai jongkok dan ngesot juga kali. Berlebihan itu namanya.” Entah kata siapa, banyak sekali ucapan serupa ini.
Entah bagaimana dengan suku lain, tapi kalau di Jawa hal ini sangat biasa. Kita lewat depan rumah orang, dan orangnya ada di terasnya saja kita “wajib” menyapa. Itu biasa. Kebiasaan orang desa yang bukankah belakangan ini dikagumi oleh orang kota yang terpesona dengan gaya hidup slow living?
Menyapa, mengangguk hormat, menunduk, bahkan jalan ngesot saat sungkem, ini sangat biasa bagi masyarakat Jawa. Dalam khasanah keilmuan Islam, kita menyebutnya dengan ‘urf yakni adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Meskipun ada perbedaan pendapat antar ulama, sejauh mana batasan penghormatan pada seseorang. Namun selagi masih dalam batasan yang tidak diniatkan untuk menyembah seseorang, maka hal itu diperbolehkan.
Jadi kalau dikatakan feodal, sepertinya kurang tepat. Sebab apa yang tampak pada zahirnya, belum tentu memiliki esensi sama. Maka untuk mengetahuinya, kita perlu tabayyun dan memahami makna sebenarnya. Kita bisa mencari tahu, kita bisa bertanya tanpa prasangka.
Kedua, tentang kiai yang menerima banyak amplop dari jamaahnya dan memperkaya diri. Mobil milyaran dan sarung harga jutaan. Sungguh, narasi ini adalah buah simalakama bagi para kiai. Ketika ia kaya (karena punya bisnis sukses), orang-orang akan mencibir. “Kiai kok kaya? Harusnya sedekahin ke orang yang membutuhkan.” Padahal ia tidak tahu sedekah apa saja yang tersembunyi darinya. Meskipun sedekah terang-terangan, akan banyak lagi orang yang mencibit “sedekah kok terang-terangan, riya itu namanya.”.
Sebaliknya jika kiai itu miskin, orang pun akan menghina “tuh kan miskin, jadi kiai itu madesu.”. Ibarat anak dan ayah menaiki keledai, segalanya akan terlihat salah di mata orang yang hatinya dipenuhi kebencian.
Ketiga, santri membantu kiai. Entah salahnya di mana ketika seorang anak membantu orang tuanya. Sedangkan kiai adalah orang tua santri selama di pesantren, maka membantunya tentu bukan masalah. Dalam potongan video mungkin bagi mereka terlihat seperti perbudakan, entah pada bagian mananya? Sedangkan kata “budak” sendiri maknanya adalah orang yang kehilangan kemerdekaannya, propertinya juga hak atas dirinya. Lalu bagaimana membantu pekerjaan rumahnya disebut perbudakan? Sepertinya terlalu kejauhan...
Sekarang sungguh miris, karena banyak dari pesantren modern yang terkesan membanding-bandingkan dan terlihat lebih hebat dari pesantren tradisional itu. “Pilih pesantren yang benar, maka tidak akan kau temui raja-rajaan.” Duh, lagian. Ini narasi yang bukannya ngadem-ngademin malah semakin manas-manasi. Secara tidak langsung mereka merasa jauh lebih baik dibandingkan pesantren tradisional yang usianya sudah ratusan tahun itu.
Memang ada perbedaan kultur, ada perbedaan metode dalam menghormati kiai. Tetapi bukankah esensi dari pendidikan Islam agama itu sama? Yakni berakhlak mulia. Jika metode akhlak orang lain tidak sama dengan kita, bukan berarti kita jauh lebih berakhlak dibandingkan mereka.
Ya bisa jadi memang perbedaannya terlalu banyak. Tidak ada cium tangan, tidak ada jalan jongkok dsb tapi pesantren yang usianya sudah ratusan tahun itu adalah pusat pendidikan masyarakat yang sejak zaman dulu tidak mendapatkan akses pendidikan yang baik karena dihalangi oleh kolonial. Kita tentu mafhum juga, mereka dibayar tidak selalu dengan harta, tapi tak sedikit yang menitipkan putra-putrinya hanya dengan ucapan terima kasih, beserta hasil bumi yang tak seberapa. Kontribusi pesantren tradisional yang tak terbilang sejak zaman kolonial tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Jasanya sangat besar dalam menjaga tradisi keilmuan klasik di negeri ini. Meskipun ada sebagian yang melenceng dari akarnya, itu sesuatu yang wajar. Juga kasus-kasus yang mencoreng nama baik pesantren, memang meresahkan, tetapi tidak bisa dipukul rata bahwa semua pesantren seperti itu.
Mari kita berandai-andai. Andaipun benar di pesantren ada ngesot-ngesot, kiainya kaya raya, dan santrinya membantu kiai, lalu, masalahnya apa? Di mana ruginya kita? Apa dampaknya bagi kita? Bukankah semua hal itu di luar dari wilayah kita? Mereka bahagia melakukannya, mereka tidak membahayakan kita. Akhlak para santri itu baik, mereka juga berprestasi, mereka yang hari ini diframing negatif adalah orang-orang yang selalu shalat berjamaah lima waktu dan tepat waktu. Mereka yang diejek itu adalah orang-orang yang bangun di sepertiga malam untuk shalat dan memohon ampunan Allah. Mereka yang dihina itu adalah orang-orang yang dzikir dan shalawatnya begitu banyak. Para santri yang dipandang sebelah mata itu adalah orang-orang yang melestarikan tradisi ulama, ngaji kitab kuning, memperdalam ilmu-ilmu agama, dengan tak lupa mempelajari bahasa Arab yang belum tentu kita mampu. Mereka adalah orang yang sibuk menghafal dan murojaah Quran selagi kita justru sibuk scroll sosial media. Walaupun ada di antara mereka yang melakukan kesalahan, tentu manusia bisa saja melakukan kesalahan. Sebagaimana kita juga berpotensi untuk berbuat salah. Namun sebagai sesama muslim, pertama kali kedepankanlah dulu husnuzon itu.
Biarkanlah mereka, jangan kita mengganggunya....

