Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan. Tampilkan semua postingan
20.44

Karangantu, Pelabuhan Berkelas Internasional yang Kini Dilupakan

by , in

Oleh: Yuni Astuti



Karangantu. Mungkin bagi yang belum tahu, akan merasa seram dengan nama itu. Namun, Karangantu bukan sekadar nama tempat yang tidak bermakna. Ada sejarah besar di sebaliknya.

Mitos nama Karangantu menurut cerita rakyat adalah ketika itu ada warga Belanda yang membawa hantu-hantu di dalam guci. Ternyata guci itu pecah dan hantunya keluar semua. Maka tersebutlah nama pelabuhan itu Karangantu.

Abad ke-15 dan ke-16 adalah masa-masa kejayaan Kesultanan Banten. Sebagai kerajaan maritim, Banten maju dalam hal perdagangan internasional. Bertepatan saat itu Malaka jatuh ke tangan Portugis, pedagang-pedagang Arab, India, Cina, Persia, Belanda dan Gujarat beralih ke Selat Sunda dan tentu saja Karangantu menjadi jalur perdagangan yang ramai, kedua setelah Sunda Kelapa.



Pelabuhan Karangantu maju pesat, sebab perdagangan semakin ramai. Masa itu Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sunan Gunung Jati adalah putra dari Syarif Abdullah dan Nyai Rarasantang, putri Prabu Siliwangi.

Banyak barang berharga yang diperjualbelikan di Pelabuhan Karangantu. Kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan masa itu di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, tidak jauh dari Masjid Agung Banten. Ada banyak porselen China, mata uang internasional, dan diorama-diorama yang menggambarkan kehidupan masyarakat Banten ketika itu. Sangat ramai dan sejahtera. Ada gambaran bahwa masa itu para lelakinya gemar bermain sepak takraw di sela-sela istirahatnya.



Kesultanan Banten semakin maju saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Tidak hanya dalam hal perdagangan, tetapi agraria dan saluran irigasinya sangat hebat. Banten, benar-benar seperti namanya: ketiban inten (kejatuhan intan).

Namun tentu saja di balik kejayaan suatu negeri, ada yang tidak senang. Ya, Belanda diam-diam mulai menghasut putra Sultan Agen Tirtayasa, yang bernama Sultan Haji. Maka jadilah, anak dan ayah yang bersilang pendapat, berbeda jalan. Sang Ayah sangat mementingkan kesejahteraan rakyat, sedangkan Sultan Haji berharap tahta kesultanan jatuh ke tangannya. Belanda memihak Sultan Haji, untuk kemudian hanya menyebabkan perang saudara. Akibatnya, Keraton Surosowan rata dengan tanah. Ada dua versi sejarah dalam kehancuran ini, pertama dihancurkan Belanda. Kedua, dibumihanguskan oleh pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Wallahu a'lam.

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa digantikan oleh Sultan Haji, sejak itu Banten mulai mengalami kemunduran. Sepertinya begitulah sejarah akan berulang. Suatu negeri yang gemah ripah loh jinawi akan hancur diakibatkan oleh keserakahan anak negerinya sendiri. Hingga kini, Pelabuhan Karangantu seperti "sarang hantu" yang kumuh dan penuh sampah di tepi sungai yang semakin mengalami pendangkalan. Para nelayan Bugis yang gagah perkasa menambatkan kapal dan perahunya di tepi dermaga. Setiap sore selalu ramai untuk berlayar, besok pagi membawa ikan yang langsung dilelang di pelelangan ikan.

Masyarakat Banten lebih sering menyebut "Pantai Gopek" daripada Pelabuhan Karangantu. Padahal tidak ada pantainya, hanya dermaga yang biasa dipakai masyarakat untuk memancing ikan dan berwisata menuju Pulau Tiga, Pulau Empat, Pulau Lima, Pulau Tunda, dan Pulau Panjang. Pulau Tunda dan Pulau Panjang berpenghuni, sedangkan Pulau Tiga, Pulau Empat dan Pulau Lima tidak ada penghuninya. Dan kenapa disebut "Pantai Gopek" ialah karena  untuk masuk ke dermaga ini, kita dikenai retribusi Rp.500 saja. Alias gopek.



Meskipun sekarang Pelabuhan Karangantu tidak lagi menjadi pelabuhan internasional, pesonanya masih sangat indah. Memandang senja di dermaga sambil menyaksikan kapal pergi berlayar mencari ikan, ngopi di tepi dermaga sambil makan tahu bulat, atau foto selfie di area hutan mangrove sudah sangat menyenangkan. Mau mencoba naik kapal juga bisa, tarifnya Rp.10.000 per orang.

Nah segitu dulu ya cerita saya tentang Pelabuhan Karangantu yang sempat membuat takut karena namanya. Percayalah, kalau kalian datang ke sini, kesan seram itu akan hilang. Apalagi kalau kalian penggemar makanan laut segar. Ada cumi, aneka jenis ikan laut yang masih fresh bisa kalian dapatkan di pelelangan ikan. Belum lagi jalan-jalan ke Pulau-pulau di sekitarnya. Dijamin puas deh. Tapi nanti ya... Kalau wabah Corona sudah berakhir. Sekarang mah #stayathome saja dulu....
22.51

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

by , in

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
Bermain di terowongan air

Bakda Zuhur saya janji ketemuan dengan sahabat sejak zaman kuliah. Sejak menikah dia tinggal di Jogja, ngikut suaminya. Tahun lalu kami sempat ketemu di terminal, hanya sebentar. Kali ini kebetulan bisa agak lama.

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
El sangat antusias main perosotan

"Ketemu di Taman Pintar aja, deket kok dari Pasar Beringharjo." Kata Aroh, karena saya sedang belanja di pasar yang juga dekat dengan Malioboro itu, menemani Bude.

Baru kali ini saya masuk ke Taman Pintar, taman bermain untuk anak. Ada banyak wahana permainan, yang gratis maupun berbayar. Tarifnya dari yang paling murah, Rp.3000,- sampai yang paling mahal 30 ribuan... Nah, karena anak Aroh belum 3 tahun, dan saya sudah cukup tua untuk pintar, heuheu... Jadi kami tidak masuk. Cukup menikmati taman gratis berupa perosotan dan taman air menari.

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

El Roya, anak Aroh ini sangat pemberani. Dia naik perosotan tanpa mau dibimbing. Tiap kali Aroh hendak membantunya El berteriak marah. Aroh khawatir anaknya lecet.

"Udah Roh, biarin aja. Dia ingin bebas bermain. Dia pemberani, rasa ingin tahunya besar. Kalau kamu terlalu khawatir, nanti dia jadi penakut. Apalagi dia kelihatan keras kepala, namanya juga anak pertama." Kataku. Aroh mengiyakan. Dia memang ibu yang protektif. Beda banget sama saya. Maklum, punya anak lelaki harus banyak maklum. Jatuh dan berdarah sudah jadi makanan sehari-hari. Hatiku khawatir, tapi lama-lama berusaha selow. Pulang sekolah bibirnya luka, berdarah. Katanya tak sengaja ketendang temannya. Oke .. nggak apa-apa kan? Udah diobatin belum? Jangan nangis ya... Begitulah anak-anakku. Laki-laki semua. 🤭

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
Taman  Pintar, cocok untuk wisata keluarga


Namun meski kita bisa selow menghadapi tingkah polah anak, tetap harus waspada. Seperti El yang pada akhirnya jatuh tersuruk di bawah perosotan. Bibirnya luka sedikit, dan Aroh mulai panik. Padahal anaknya tenang dan kembali main. Yang saat ditanya apa kabarmu El? Dia jawab, "Aku fine..."

Okeh, fine! Lalu kenapa kamu panik terus Roh? Kalem... Dia baik-baik aja...

El tertawa riang, aku jadi ikut senang. Melihatnya bermain dan mudah akrab dengan anak lain aku jadi bermimpi punya anak perempuan. Mungkin kalau suatu saat kesampean, khawatirku bakal ngalahin Aroh dah. Wkwkwkwk.....(*)
15.25

5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memutuskan Untuk Trip ke Baduy

by , in
5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memutuskan Untuk Trip ke Baduy
Pintu Masuk Baduy via Ciboleger


Saat ini ada banyak sekali postingan di sosial media tentang tempat wisata dan mereka menawarkan jasa Open Trip. Salah satunya wisata ke Baduy. Penting untuk diketahui sebelum kita salah memilih destinasi berkunjung. Sebab jika melihat postingan banyak orang sih Baduy itu indah banget gaes. Sebuah desa yang asri, nyaman dan penduduknya masih memegang erat tradisi leluhur. Nah, sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk jalan-jalan ke Baduy, ada baiknya simak dulu nih beberapa tips ala emakbaper.

02.03

Jelajah Baduy (Part 6)

by , in



Jelajah Baduy (Part 6)
Jembatan Akar, Baduy


Hari terakhir di Baduy, saatnya pulang gaes... Tapi kami mau melewati satu destinasi menarik nih, yaitu Jembatan Akar. Jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai, terbentuk dari akar pohon yang saling terjalin rapi sehingga membentuk jembatan. Di bawah jembatan ada sungai yang mengalir jernih. Di tepi sungai ada bebatuan yang asyik untuk berfoto.

Jelajah Baduy (Part 6)
Jembatan Akar
Terbuat dari jalinan akar secara alami


Perlu waktu 3 jam untuk sampai ke sini dari rute Cibeo. Seperti biasa medannya menanjak dan sesekali terjal juga. Namun melihat pemandangan yang serba hijau, lelah menjadi tidak terasa. Terlebih lagi setelah sampai di Jembatan Akar, semua kelelahan itu sirna.
21.06

Jelajah Baduy (Part 5)

by , in
Jelajah Baduy (Part 5)
Foto di Baduy Luar bersama Pak Jaku dan Mbak Lia



Sore saat kami duduk-duduk di teras rumah, terdengar suara angklung. Rupanya anak-anak Baduy sedang berlatih memainkan angklung di balai desa. Kami menonton sambil melihat-lihat sekitar desa. Menjelang Magrib baru kembali ke rumah tempat menginap.

Ada sebuah area yang tidak dilalui orang. Bersih.  Ketika kami melewatinya, beberapa orang berteriak melarang kami. Rupanya area yang bersih itu milik Ketua Adat makanya tidak boleh dilewati. Ada tandanya kok, dua bambu berbentuk menyilang.
19.13

Jelajah Baduy (Part 4)

by , in

Jelajah Baduy (Part 4)
Berfoto bersama Pak Jaku, warga Baduy Dalam di jembatan perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam


Hari kedua di Baduy Dalam, sesuai rundown kami akan menjelajah seluruh desa di Baduy Dalam. Hanya ada tiga desa yakni Cibeo (yang kami tempati semalam), Cikertawarna dan Cikeusik. Nggak tahu kenapa yah, medan yang kami lalui banyak terjalnya. Iya sama, kayak hati kamu yang sulit aku taklukkan. Eaaaa.

Setelah sarapan dan menyiapkan perbekalan (nasi, ikan asin, air minum, nutri**ri, madu, apel, dan jangan lupa permen) kami siap menjelajah. Belum apa-apa sudah nanjak-nanjak. Tapi karena kemarin sudah pemanasan jalan kaki lima jam, sekarang terasa lebih ringan. Jalan setapak dengan jurang di kanan kiri jalan, tanah berbatu, berkerikil dan semak-semak. Sesekali terdengar kicauan burung. Sejauh mata memandang hanya perpaduan hijau dan biru. Saya sungguh takjub melihat alam seperawan. Kabarnya, warga Baduy dilarang menjual tanahnya kepada orang luar Baduy. Pun, orang luar negeri dilarang masuk Baduy. Meskipun hanya Baduy Luar! Jadi kalau misalnya kamu punya suami oppa-oppa Korea gitu yah, jangan diajak honeymoon ke Baduy. Kasihan. Masa kamu masuk Baduy, suamimu ngemper di terminal? Ajak aja ke Turki. Hehehe...

Sejam kemudian sampai di Desa Cikertawarna. Sebuah desa pertengahan, yang hanya ada sedikit rumah dengan jarak tidak terlalu berdekatan. Saat kami melintas, para bapak sedang membuat atap dari daun tirai. Saya merasa sikap mereka tidak seramah warga Desa Cibeo. Wajar, karena jarang ada tamu bermalam di sini, dan sebenarnya mereka risih dengan keberadaan orang asing.

Jelajah Baduy (Part 4)
Suasana desa yang asri


Lanjut lagi menuju Desa Cikeusik. Harap maklum jika tidak ada foto atau video yang menunjukkan lokasi Baduy Dalam. Meskipun rasanya ingiiiiin sekali untuk sekadar memotret ilalang dan langit biru, tetapi kita menghormati aturan adat ya. Karena kita tamu di situ, jadi sebisa mungkin menghormati tuan rumah. Walaupun tidak ada penjaga yang akan menghukum jika kita melanggar, alangkah baiknya jika kita menghormati aturan mereka.

Jelajah Baduy (Part 4)
Jalan menanjak dan berbatu

Di jalan kami bertemu dengan Pak Jaku, warga Baduy Dalam yang biasa menjadi guide. Jadi kami bersama-sama jalan menuju perbatasan. Dan yaaaaa perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam adalah pertanda bahwa kami boleh ambil gambar dan video. Yeaaaay! Bahagia itu sederhana banget. Namanya juga dua hari tanpa gadget kan?

Jelajah Baduy (Part 4)
Perbukitan yang dijadikan ladang oleh penduduk Baduy


Setelah memasuki kawasan Baduy Dalam lagi, ponsel kami matikan kembali. Melihat Desa Cikeusik dari atas bukit itu seperti sebuah desa yang dipagari gunung yang hijau. Di sinilah terasa sekali alam dan manusia hidup berdampingan dengan harmoni. Sungai mengalir jernih, pohon serba hijau, langit begitu biru. Ini seperti gambaran desa dalam pelajaran IPS.

Namun, penduduk Desa Cikeusik jauh lebih "hening" daripada Cikertawarna. Kami senyum tidak dibalas, kami menyapa tidak dijawab dengan ramah. Para wanitanya langsung masuk rumah, dan anak kecil menangis tatkala melihat kami. Ya, merek sangat risih dengan orang asing. Bahkan untuk solat saja kami merasa sungkan. Khawatir menyinggung perasaan mereka yang beragama Sunda Wiwitan.

Sebagai tamu, please banget jaga kesopanan. Kami temui juga tamu yang berjalan sambil makan eskrim melewati penduduk tanpa permisi. Saat melihat mereka, terhentaklah kesadaran kami. Oh iya. Kalau kita yang dibegitukan, pasti tidak senang juga. Maka wajarlah mereka bersikap tidak ramah pada tamu yang datang. Saya yakin bukan karena mereka memang aslinya tidak ramah. Tetapi risih lebih tepatnya. Sama rasanya seperti kita yang sedang melakukan sesuatu, lalu orang asing bertanya detail tentang itu. Padahal Googling sendiri juga bisa.

Akhirnya kami solat di teras rumah yang terbuat dari susunan bambu utuh. Setelahnya kami pulang dan istirahat sejenak di saung sambil makan nasi bekal kami. Tenaga telah pulih, kami kembali ke desa. Total 6 jam jalan kaki. Yeah! (Bersambung)
14.57

Jelajah Baduy (Part 3)

by , in
Jelajah Baduy (Part 3)
Warga Baduy Dalam berjalan kaki tanpa alas kaki


Tenang dan damai, kira-kira begitulah gambaran sebuah desa. Ada desa yang sudah mirip kota, ada desa yang lebih modern karena sentuhan teknologi dan komunikasi. Namun di Baduy Dalam, segalanya seirama. Bentuk rumahnya sama, menghadap sama-sama ke arah selatan. Terbuat dari gedek dan bambu serta atap daun tirai. Antara rumah yang satu dengan rumah yang lain tidak ada yang lebih bagus atau berlomba menjadi paling bagus. Kecuali rumah Ketua Adat/Puun yang memang istimewa tetapi tetap terbuat dari bahan yang sama. Hanya lebih luas dan berbeda sedikit.

Keseharian warganya sama-sama berladang. Sejak pagi sampai sore hari, kaum ibu pergi ke ladang sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Yang agak besar disuruh jalan membawakan bekal. Kaum bapak juga sama berladang, meskipun ada pula yang menjadi guide dan pedagang souvenir. Ketika sore tiba, mereka pulang ke rumah. Malam digunakan untuk istirahat.

Kalau di kota, satu orang beli kulkas dan motor baru, tetangganya panas. Di Baduy Dalam semua itu tidak mungkin terjadi. Listrik saja tidak masuk sini. Mau nyolokin steker di mana? Kalau sudah malam ya tidur. Makan seadanya saja. Air minum masak sendiri dengan mengambil airnya di sungai dekat rumah menggunakan potongan bambu yang dilubagi bagian atasnya. Perkasanya wanita Baduy, mampu mengangkat beberapa tempat air sekaligus. Sambil gendong anak di depan, sambil bawa beban di belakangnya.

Pernah dengar bahwa perempuan Baduy cantik-cantik? Ya, benar sekali! Cantiknya natural, padahal setiap hari mandinya tidak pakai sabun atau lulur. Skincarenya cukup bedak dan lipstik tetapi kecantikannya mengalahkan artis yang nggak bisa ngupas salak. Lalu saya tanya, kalau untuk perawatan wajah, pakai apa ya? Rupanya, pakai daun honje! Elaaaah itu yang biasa batangnya kita bikin sambal combrang....

Jelajah Baduy (Part 3)
Anak Baduy Dalam, sejak kecil sudah terbiasa jalan kaki menjelajah hutan

Lelaki Baduynya juga ganteng-ganteng. Mereka kuat berjalan kaki tanpa pakai sandal ke man-mana. Keliling Baduy tanpa lelah, bahkan kalau harus keluar Baduy juga tanpa alas kaki. Ke Jakarta? Ah sudah biasa. Telapak kaki mereka sudah 'kapalan' sehingga sudah menjadi seperti sol sepatu. Kuat menahan panas dan hujan. Sejak kecil mereka sudah terbiasa menjelajah hutan. Demi bertahan hidup, demi keahlian lelaki mencari nafkah demi keluarganya.(*)
06.32

Jelajah Baduy (Part 2)

by , in


Jelajah Baduy (Part 2)
Jalan di Perkampungan Baduy Luar


"Treknya mirip Gunung Lawu." Ujar Frili, mengomentari medan yang kami lalui. Perkampungan dengan rumah yang seragam, dengan jalan naik-turun, jarang landainya. Bahkan yang aku rasakan sih terus mendaki. Berangkat dari Kampung Gajebo pukul 16.00. Tujuan kami ialah tempat bermalam, yakni Desa Cibeo, Baduy Dalam.

Jelajah Baduy (Part 2)
Jembatan perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam

Tepat saat Maghrib, kami sampai di perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Pembatasnya adalah jembatan bambu dengan sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Jembatan ini lumayan panjang, dan setelahnya hanyalah hutan yang jauh dari rumah penduduk.

Jelajah Baduy (Part 2)
Panorama menuju Cibeo, Baduy Dalam


Di perbatasan inilah dimulai larangan yang terkenal itu. Dilarang mengambil gambar, video dan rekaman suara. Dilarang pula mandi menggunakan sabun dan shampo. Karena hari sudah gelap, kami gunakan senter sebagai alat bantu penerangan.

Setelah melewati jembatan, kami sampai di "tanjakan cinta". Sebuah tanjakan yang kemiringannya lebih dari 45° dan panjangnya sekitar 500m. Kalau tidak salah sih, sebab yang saya rasakan begitu lama. Medan terjal berbatu dan tanahnya merah. Nyaris saya tidak kuat. Sebab memang berat rasanya. Jarang olahraga, napas turun-naik ditambah beban ransel yang lumayan berat. Haduuuh... Kalau aku menyerah, berarti aku kalah. Kalah oleh diriku sendiri.

Bulan sabit dan gemintang menatap dari langit. Saya kembali menatap mereka. "Wayah gini aku di sini mau ngapain? Apa yang ingin aku tahu dari Suku Baduy? Ah tidak, ini bukan sekadar memuaskan rasa penasaran tentang Baduy, tetapi ini adalah perjalanan mengalahkan egoku. Tidak ada jalan untuk kembali, jauh, jauh sekali. Hanya satu pilihannya: tetap maju!"

Saya istirahat beberapa kali. Mengatur napas dari hidung sebab kata Zaky bisa menguatkan jantung. Ya, aku mengikuti instruksi itu. Istirahat, jalan lagi, begitu seterusnya. Walaupun akhirnya aku harus tahu kondisi diriku. Mamat membawakan ranselku. Alhamdulillah..  sedikit beban berkurang.

Dari semua trek, tanjakan cinta itulah yang aku rasakan paling berat dilalui. Perjalanan terus berlanjut sampai kami menemukan saung ladang. Istirahat untuk menikmati jambu air yang mereka suguhkan.

Warga Baduy rupanya punya "saung ladang" yang mereka gunakan untuk istirahat saat berladang. Bentuknya sama seperti rumah di desa.

Pukul 19.48 kami tiba di Desa Cibeo. Inilah desa terluar Baduy Dalam. Semua rumahnya sama menghadap ke selatan. Dinding dari bambu, atap dari daun tirai. Bedanya, rumah-rumah di Baduy Dalam lebih luas dari di Baduy Luar. Pemukiman mereka sangat dekat dengan sungai. Hal yang wajar karena segala aktivitas mereka mulai dari mandi, memasak, mencuci menggunakan air sungai. Itulah sebabnya di Baduy Dalam kita tidak boleh menggunakan sabun, shampo, pasta gigi dan sebagainya. Kita juga tidak akan menemukan kamar mandi di desa ini. Sebab sungai sudah memberikan mereka segalanya. (*) Bersambung
22.39

Jelajah Baduy (Part 1)

by , in
Jelajah Baduy (Part 1)
Foto bersama Kang Yayat dan istrinya, Teh Sani. Warha Kampung Gajebo, Baduy Luar


Selama ini Baduy bagiku penuh misteri. Mendengar cerita orang Baduy seperti ini, seperti itu, belum terbayang bagaimana kenyataannya. Ketika ada kesempatan untuk jelajah Baduy 3 hari 2 malam, inilah kesempatan bagus untuk melihatnya dari dekat.

Saya mulai dari stasiun Serang, ambil jadwal pkl. 07.32. Harga tiket Rp 3.000. Sampai di Stasiun Rangkasbitung satu jam kemudian. Lalu dilanjutkan naik angkot carteran menuju Ciboleger. Per angkot dikenai Rp 250.000 sekali jalan.

Kami bertujuh satu rombongan dari berbagai daerah. Saya dari Serang. Frili, Mamat dan Fathir dari Jatim. Mas Joko dari Jogja. Mbak Lia dari Jakarta, dan Zaky dari Bogor. Sampai di Ciboleger sekitar 1,5 jam kemudian. Sholat Zuhur, lalu belanja logistik untuk dimasak oleh tuan rumah di Baduy nanti. Berupa beras, garam, kopi, gula, sarden, ikan asin, minyak, susu, mi instan dan bumbu sambal. Sebenarnya mau lauknya apa saja juga boleh kok. Selama tidak merepotkan.

Rombongan kami dipandu oleh Kaldi, warga Baduy Luar yang akan menemani kami selama tiga hari jelajah Baduy. Dia baru 17 tahun. Dia pula yang membawa logistik dengan cara dipanggul.

Perjalanan dimulai! Sebelum masuk Baduy, jangan lupa bayar biaya retribusi dulu ya. Murah, cuma Rp 4.000 per orang. 

Ciboleger adalah kampung terluar Baduy Luar. Lokasinya sangat dekat dengan pemukiman warga non-Baduy. Kanan kiri jalan adalah rumah warga yang disibukkan dengan aktivitas menenun dan menjual souvenir Baduy berupa kain tenun, pakaian khas Baduy, slayer, gelang rotan, madu dsb. Di sini kita masih sangat boleh ambil dokumentasi. Bebas asal sopan.

Jelajah Baduy (Part 1)
Gula kawung/aren


1 jam berjalan kaki dengan medan mendaki dan jarang menurun, kami sampai di Kampung Gajebo. Istirahat di rumah Kang Yayat, saudara Kaldi. Disuguhi air minum yang menyegarkan, gula aren, jambu air dan kopi, gula serta tehnya. Warga Baduy memang terkenal dengan gula kawung/arennya. Rasanya lebih sedap daripada gula merah biasa. Dicampur dengan air, bisa mengembaliman stamina setelah sejam berjalan kaki. (Bersambung)
17.34

Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara

by , in
 Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara



Salah satu agenda di acara Mastera Esai 2019 adalah diskusi kelompok yang pesertanya berasal dari beberapa negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Karya masing-masing peserta dikritik dan diberi masukan perbaikan. Bertukar pikiran tentang banyak hal, tersebab perbedaan budaya juga.

Pada dasarnya antara kami tidak banyak perbedaan. Bahasa mungkin sedikit lain, logat dan aksen tetapi induknya sama yaitu Bahasa Melayu. Di masa lalu, kita disatukan dalam Nusantara.

Contohnya Amirul, peserta dari Singapura yang mengaku ini pertama kalinya beliau menulis esai dalam Bahasa Melayu, biasanya dalam Bahasa Inggris. Wajar, karena Singapura mengutamakan Bahasa Inggris, termasuk dalam pengajaran Bahasa Melayu pun pengantarnya adalah Bahasa Inggris.

Saya, mungkin juga Anda beranggapan bahwa Singapura adalah negara maju. Terutama dari segi ekonomi, pertumbuhannya sangat tinggi, pun dalam hal pendidikannya, banyak orang Indonesia yang kuliah di sana. Bahkan kalau ada pejabat atau publik figur sakit keras, berobatnya ya ke Singapura. Enci-engko crazy rich Suroboyo juga mungkin makan siangnya di Singapura.

Namun yang dirasakan Amirul adalah kesedihan. Lho, mengapa? Bukankah dia seharusnya bangga sebagai warga negara Singapura? Yang tidak ada orang buang sampah sembarangan atau melanggar peraturan lalin? Aman, tertib dan maju. Mengapa dia gelisah?

"Sebab budaya Melayu di Singapura jadi terkikis. Perekonomian maju tapi dikuasi etnis Tionghoa. Yang bisa mendapatkan pendidikan high class adalah etnis Tionghoa yang kaya. Warga Melayu hanya masuk kelas menengah."

Lalu bagaimana dengan warga yang benar-benar miskin? Tentu dia tidak ada kesempatan mengenyam pendidikan dan menikmati perekonomian? That is reality. Hanya, pemerintah Singapura tidak memperlihatkan bahwa ada warganya yang miskin. Mereka yang miskin diberikan rumah dengan harga sewa murah. Juga kondisi para pelajarnya, mereka ditekan sedemikian rupa agar mendapat peringkat terbaik di sekolah sehingga bisa masuk ke universitas ternama dan bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Orientasinya materi.

Amirul adalah salah satu pemuda yang "out of the box". Beliau peduli pada budaya Melayu dan kritis terhadap fenomena sosial yang ada. Amirul banyak menulis dan senang berdiskusi.

Ada pula Ainunl Muaiyanah, editor dari Malaysia. Ainunl sangat pandai menciptakan kalimat puitik, juga rasa ingin tahunya besar. Beliau senang berdiskusi dan open-minded.

Syawal peserta dari Brunei, mahasiswa Universitas Brunei Darussalam. Di antara kami semua, dialah yang esainya paling panjang dan lengkap dengan catatan-catatan kaki.

Terkadang ada sedikit bahasa yang tidak bisa kami pahami satu sama lain. Seperti gratis ongkos kirim, oh maksudnya free delivery...

Ketika coffee break, kami menikmati kudapan siomay. What is this? Siomay? Yes, you can call it dimsum.  Barulah mereka paham. Tapi intinya sama, meski Syawal menganggap kecap dan sambal cabai adalah bumbu rujak. Lalu merek teringat makanan restoran yaitu daging yang empuk sekali. Dimasak dengan cara apa?



Presto. Ah mereka tak paham. Presto teh bahasa naon ya? Namun akhirnya merek memahami panci presto adalah "pressure cooker". Ok, intinya sama. Dan ketika kita mengutamakan inti serta persamaan, kita akan toleransi pada perbedaan. Dan kuliner terbukti lebih cepat menyatukan kita. Betul?

Lembang, 20 Agustus 2019
01.27

Pagi Berkabut Rindu (Hari Pertama Mastera)

by , in




Pagi berkabut rindu/
duduk di atas batu/
namamu terpahat di situ/

Pagi ini memang tidak biasa. Suhu udara 18°C adalah seperti menyelimuti diri dengan air kulkas. Lebay, ya? Ya maklum saya terbiasa dengan udara panas Kota Serang. Buka WA grup malah membahas si burung elang, Ortiz. Begitu gagah dan elegannya ia, angkuh dan manja. Memang Grup Genjreng ini paling ramai justru di tengah malam sampai Subuh. Biasanya azan Subuh berhenti sendiri. Kalong emang. Haha... 

Namun pagi usai salat Subuh saya menyengaja keluar hotel, sekadar melihat kabut melayang-layang di permukaan kolam renang, di jalanan, di atas gunung, bahkan ketika berbicara pun mengeluarkan uap kabut. Brrr.....

Saya jalan kaki sedikit ke jalan raya, tidak lama kemudian semakin terasa dingin. Lalu masuk lagi ke lobi dan belok ke resto untuk ngopi. Kebetulan, ada peserta juga yang sudah ngopi duluan. Lumayan ada teman ngobrol, ngalor ngidul sampai nyambung ke obrolan tentang Perang Bubat. Topik yang saya suka, dan masih mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa dan Sunda. Mas Ridwan Hasyimi berasal dari Ciamis, yang konon merupakan tempat kerajaan Sunda Galuh.  Sambil menyeruput kopi dan susu murni, topik itu menjadi lebih luas dengan kedatangan Pak Ganjar dan Pak Arif, maka saya menyimak penuturan mereka. Lumayan, kuliah pagi tentang Sejarah, bonus kan?

Mitos kuburan Gajah Mada juga menurut Pak Ganjar sampai saat ini sejauh beliau keliling Indonesia, ada 7 makam. Salah satunya di Dompu, NTB. Namun di mana letak pastinya tak ada yang tahu. Hanya istilahnya mungkin "petilasan", bukan kuburan yang nyata.

Sementara Pak Arif, tesisnya tentang Perang Bubat mencoba menggali sumber dari karya-karya lokalitas Sunda. Tradisi lisan, menurutnya adalah tradisi yang lazim di masyarakat Indonesia, tak seperti Yunani yang tradisi tulisan. Maka tak heran jika sumber sejarah kita ini lebih dominan lisan, yang sering disebut sumber sekunder bagi para peneliti.

Selamat pagi Lembang, aku siap belajar apa saja hari ini 😍


17.39

Perjalanan Menuju Mastera 2019

by , in



Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirobbil 'alamin atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Tak henti-hentinya saya bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup dan menikmati hidup.

Pagi ini saya sedang dalam perjalanan menuju Lembang, tempat diadakannya Mancakrida, Pelatihan Esai Mastera. Beberapa minggu lalu saya mendaftar untuk ikut Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang pesertanya dari negara-negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Brunei, Malaysia dan Singapura. Dari Indonesia sendiri dipilih 10 orang.

Antara bahagia dan tak percaya nama saya bisa masuk dalam daftar tersebut, juga ada Ardian Je yang sama-sama dari FLP. InsyaAllah akan dibimbing oleh para master yaitu Maman S Mahayana, Agus R. Sardjono dan Cecep Syamsul Hari.

Selama sepekan para peserta akan digembleng untuk menciptakan esai yang baik, semoga saya kuat. (Kuat udara dingin Lembang terutama, karena saya manusia Serang yang langsung menggigil padahal suhu baru 23°C.

Teman-teman dari Rumah Dunia dan FLP Banten pun menyemangati. Sebab saya sempat minder karena masuk acara besar seperti ini, tapi mereka semua berbahagia. Ya, dari RD dan FLP saya mulai mengenal dunia penulisan. Salah satunya esai. Betapa gembiranya saat tulisan pertama saya masuk koran, meskipun hanya surat pembaca.

Ada banyak orang hebat yang memberikan sumbangsih ilmunya kepada saya. Mas Gol A Gong, Pak Firman Venayaksa, Kang Qizink La Aziva, Teh Fey Chandra dan Kak Tatang Ade Chandra, beserta semua teman-teman FLP Banten yang senantiasa solid terutama dalam hal ngerujak mangga.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kakanda Goblin tercinta, suamiku yang mengizinkan aku mengikuti acara ini. Sepekan meninggalkan rumah dan anak-anak. Bebas tugas nyuci baju seminggu, yeaaay..... Demi memberikan aku jeda waktu untuk belajar tentang apa yang menjadi passionku.

Semoga acaranya nanti sukses, lancar dan pulang membawa banyak pengalaman.


*) Ditulis di pinggir jalan sambil menunggu bus Merak-Bandung
02.14

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam

by , in
Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Foto dokumentasi pribadi


Mi instan yang dimasak saat camping adalah makanan terlezat. Saya sudah mempersiapkan bahan-bahannya dari rumah, termasuk kopi dan jahe instan. Fitri juga membawa sosis. Semakin mantaplah!

Oya, tadi saat masih di area bawah sebelum masuk ke jalan Paralayang, ada yang mintain uang masuk. Per orang Rp.5000,- kemudian untuk tarif campingnya Rp.10.000,-/orang. Anak kecil nggak dihitung. Jadi kalau anak Emak 10 tuh lumayan bisa hemat. Terus untuk parkir motor Rp.5000,-. Emak nggak usah bingung kalau mau bikin api unggun, ada yang jual. Satu ikat Rp.15.000. Lumayan untuk menghangatkan badan, sambil bakar sosis tambah nikmat. Namun, di puncak sini nggak ada sinyal untuk provider tertentu, tapi itu bukan kendala. Ada juga yang jual wifi berupa voucher gitu. Harganya Rp.5000/2 jam. Lumayan kaaaan buat upload foto di IG atau status WA. Hehehe .. Kalau saya sih lebih seneng menikmati malam itu dengan diam memandangi lautan bintang, biarlah upload fotonya besok-besok saja.

Rencananya malam ini saya nggak pengen tidur, tapi udara semakin dingin Mak... Jadi jam satu gitu masuk tenda, berselimut tapi tetep dingin. Tapi lebih dingin sikap kamu ke aku sih. Eaaaa ....

Pukul 3 dini hari, terbangun karena suara alarm. Masih dingin, tapi nggak bisa tidur lagi. Jadilah keluar tenda dan lagi-lagi menikmati suasana malam yang aduhai. Beberapa orang yang camping masih terdengar suaranya, nyanyi-nyanyi sambil main gitar. Oke, mungkin dengan cara itu bisa mengobati rasa kangen mereka kepada pujaan hati.

Sayup-sayup terdengar azan pukul 4 pagi lebih seperempat. Kami solat Subuh berjamaah, beber-bener aduhai nikmatnya. Sujud di rerumputan dingin yang berembun. Apalagi saat wudhu tadi, airnya nyesssss dingin banget kayak wudhu pakai air kulkas campur es batu.

Momen eksotis ialah saat mentari mulai terbit dan memancarkan sinarnya yang lembut menghangatkan. Lebih hangat dari pancaran cinta di matamu. Eaaaa lagi. Nuansa hijau mulai tampak, puncak Lawu di belakang juga menampilkan keelokannya. Sedangkan di kejauhan sana, kota Solo dengan pemandangan jalan dan rumah-rumahnya mulai jelas lika-likunya. Merapi dan Merbabu yang unik juga tak kalah mempesona. Hijau kebun teh Kemuning sangat anggun, berpadu dengan hijau pepohonan, putihnya awan dan biru langit. Sempurna! View yang nggak akan pernah saya lihat di kota Serang.

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Nuansa hijau kebun teh Kemuning

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Gunung Merapi dan Gunung Merbabu tampak dari jauh


Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Puncak Lawu berselimut awan

Belum puas rasanya kalau belum mengambil gambar dan merekam panorama indah ini. Cekrak-cekrek kalau belum 100 kali itu belum afdhol. Apalagi kalau fotonya sama pasangan halal, duuuh romantis pokoknya! Kayak Indar dan Fitri nih yang masih pengantin baru. Uhuy lah mereka berdua itu.


Fitri&Indar: romantis!


Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Pengantin baru. Baru 10 tahun

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Camping keluarga: seru gaes.... 

Usai sarapan (mie instan lagi), kami membereskan tenda lalu bersiap turun. Tak lupa, saya rekam tuh perjalanan turunnya. Daebak awesome pokoknya!

Lihat juga postingan sebelumnya di sini:
Rekaman Jalan Paralayang-Kemuning
Camping di Paralayang Part 1
Camping di Paralayang Part 2

Next trip, saya ingin ke sini lagi. Semoga Allah memudahkan.

(Tamat)

07.32

Camping di Paralayang-Kemuning (Part 2) : Purnama di Puncak Lawu

by , in


Kami numpang sholat di rumah bapak baik hati tadi. Masih menunggu.... Ya, dua jam lamanya. Ipan (adik Fitri) dan Bayu (ponakan Fitri) turun gunung dengan dua motor. Mereka sebenarnya sudah muncak duluan, tapi disuruh turun oleh Fitri untuk jemput kami. Agak lama menunggu lagi, suamiku dan Indar kembali. Motor sudah nyala lagi. Kemudian kami mengatur strategi, siapa naik motor man, sambil memperkirakan medan. Kholid sudah tidur sejak tadi, sangat pulas. Saya bersamanya dibonceng suami. Fatih dibonceng Bayu, Thoriq bersama Indar dan Fitri. Sementara Ipan membawa tenda dan peralatan camping lainnya. Lihat juga: Camping di Paralayang-Kemuning (Part 1): Tak Selamanya Perjalanan Sesuai Rencana

Benar saja cuy! Jalanannya ekstrem. Menanjak, menurun dan berliku-liku. Penuh tikungan yang bikin baper, eh.. Maksudnya bikin deg-degan deh. Kanan kiri kan jurang.

Sekitar 30 menit perjalanan, dengan pemandangan lampu-lampu lembah kiri jalan, aduhai indahnya.... Berdecak kagum menyaksikan keindahan ini. Namun, itu belum seberapa sodara-sodara sebangsa dan setanah air. Masih ada lagi yang uwow di puncak sana.

Kami sampai di area camping Paralayang-Kemuning. Setelah parkir motor, para lelaki membangun tenda, dan para gadis (hah, gadis?? Ngaku-ngaku yeeee) masak mie instan. Duh, kebayang lezatnya makan mie instan di tengah udara dingin malam-malam begini. Lupakanlah jumlah kalori dan potensi kenaikan berat badan. Sing penting telih ini ada isinya gaes.

Jadi, tenda kami berdiri menghadap lembah bintang yang indahnya melebihi apa yang kami lihat di jalan. Di belakang kami Puncak Lawu tampak begitu eksotis sebab ada pancaran sinar bulan yang baru terbit. Perlahan bulan itu naik, sehingga cahayanya mewarnai langit malam itu. Ya, persis purnama itu menggantung di Puncak Lawu.

Camping di Paralayang-Kemuning (Part 2) : Purnama di Puncak Lawu
Foto oleh Fitri
Purnama di Puncak Lawu


Karena ini momen langka, nggak mau dong menyiak-nyiakannya dengan tidur di dalam tenda. Mau camping atau pindah peturon (tempat tidur) gaes? Hahaha.

Camping belum lengkap kalau nggak ada api unggunnya. Jadi Indar membeli kayu bakar seharga 15.000! Uwuw banget sih harga segitu untuk beberapa potong kayu bakar! Jadilah kami bakar-bakar sosis, tuh kan lupa lagi sama jumlah kalori. Tambah kopi dan wedang jahe, biar tambah amnesia sama berat badan, hihi.. Sambil ngobrol gak karuan, sedikit filosofi tentang keberadaan kami di puncak sini.

Kita jauh-jauh ke sini mau ngapain sih gaes? Melihat keindahan lampu-lampu itu? Sekadar melihat pemandangan? Itu aja?

"Maksudnya gimana Teh?" Tanya Fitri.

"Kita lihat dari atas sini, semua tampak indah. Namun, apa yang kelihatan? Orang yang ada di bawah sana, punya rumah bagus, mobil mewah, buat apa? Dari atas sini nggak kelihatan! Jadi apa yang akan manusia sombongkan? Lha dari atas sini aja nggak ada apa-apanya." Uraiku ngasal. Sing penting lak judule filosofi to? Yowis.. hehe.

(Bersambung)
06.14

Camping di Paralayang-Kemuning (Part 1): Perjalanan Tak Selamanya Sesuai Rencana.

by , in
Camping di Paralayang-Kemuning (Part 1): Perjalanan Tak Selamanya Sesuai Rencana.
Suasana malam di Bukit Paralayang.
Foto oleh Indarto



Sebenarnya wacana camping di Paralayang sudah ada sejak tahun lalu (ihiiiy lama juga ya) karena adik ipar waktu itu sudah merasakannya lebih dulu. Alhamdulillah tahun ini dia sudah double dengan istrinya jadilah kami adakan "family adventure" dengan camping.

Kalau kamu tahu Kemuning yang terkenal dengan perkebunan tehnya itu, Paralayang tidak jauh dari Kemuning. Masih kecamatan Ngargoyoso. Lebih tepatnya sih terletak di Desa Segorogunung. Saya tidak terlalu hafal jalan, apalagi kami berangkat bersama rombongan menjelang Maghrib. Namun qadarullah motor yang saya tumpangi rusak sehingga tidak bisa jalan lagi. Mau cari bengkel, di mana sudah malam begini? Motor tidak mau jalan sama sekali. Ini karena motornya nggak kuat nanjak, sekaligus mungkin karena saya terlalu berat? Hehehe.

Motor kami mogok tepat di pinggir jalan, di halaman rumah agak luas milik seorang bapak yang tak sempat kami tanyakan namanya. Beliau sedang mencuci mobil, melihat kami berhenti di depan rumahnya kebingungan, ditanyalah:

"Mau ke mana?"

"Mau kemping di Paralayang Pak. Motornya rusak, bengkel yang deket sini di mana ya?"

"Di sini bengkel udah pada tutup. Ada sih bengkel keliling. Cuma orangnya lagi ke mesjid. Nanti tak cegatne." Katanya.

Kami pun menunggu. FYI, kami berangkat konvoi. Saya bersama suami, Fatih dan Kholid. Indar (adik ipar) sendirian bawa tenda dan peralatan lainnya. Fitri (istri Indar) boncengan dengan ponakannya, Maryam dengan membawa tikar dan logistik. Mereka balik arah menemani saya dan suami.

Sempat ada kekhawatiran sih, melihat kondisi sudah malam, rasanya nggak mungkin deh melanjutkan perjalanan. Rencana kami berangkat bakda Ashar jadi ngaret jam 5. Bukan kendala, cuma Emak meminta Fitri nganterin njagong. Alhamdulillah meski kesorean berangkat, yah.. motor pun mogok.

Kalau dipikir-pikir, berkah banget lho itu motor mogoknya persis di depan rumah orang baik. Yang bantu mencarikan bengkel, juga mengizinkan kami istirahat di rumahnya. Disuguhin minum juga. Diizinkan numpang sholat, dan karena Kholid saya tidurkan di kasur lantai ruang tengah beliau, diselimuti juga.  Bayangkan kalau mogoknya sudah di atas, jangankan bengkel atau rumah penduduk, kandang ayam aja nggak ada. Ini berkah, lho, karena Fitri nurut sama ibu mertua untuk nganterin njagong (kondangan) tadi ke tiga tempat.

Bengkel keliling pun lewat, dialog tentang kondisi motor dan tampaknya beliau nggak bisa memperbaiki motor itu. Lalu bapak pemilik rumah menaiki motornya mencari bengkel terdekat. Tak lama kemudian kembali lagi dan mengantarkan suami ke sana.

Aku, Fitri, Maryam dan anak-anakku menunggu di rumah itu. Satu jam berlalu, kami mulai pesimis. Ini sudah agak malam, kira-kira apakah perjalanan ini akan berlanjut?

Ya sudah, kami memutuskan untuk sholat dulu. Di rumah bapak pemilik rumah itu. Masya Allah semoga Allah membalas kebaikan beliau sekeluarga.

"Gimana nih Fit, bakal lanjut nggak?" Tanya saya.

"Nggak tahu Teh. Kayaknya nggak jadi deh."

"Sayang banget ya kalo nggak jadi. Udah deket. Setengah jam lagi kan?" Kata saya setelah cek GoCar barangkali mau lanjut perjalanan dengan naik GoCar.

Dua jam kami masih menunggu. Pukul 20.00 masih di jalan, bagaimana bangun tendanya? Apakah jalan muncaknya aman? Kata Indar, jalannya cukup ekstrem. Berliku dan menanjak. Saya agak khawatir juga, tapi lebih besar penasarannya. Membayangkan indahnya pemandangan Kota Solo dari puncak bukit Paralayang. Ya sudah pasrah saja deh....

(Bersambung)
06.57

Eksotisme Kota Tua Menyimpan Sejarah Kelam

by , in






 Kota Tua. Saat mendengarnya, yang terbayang adalah gambaran sebuah kota dengan bangunan berasitektur kuno, lapuk dan penuh dengan kisah sejarah. Sudah lama saya ingin pergi ke sana, dan baru kesampaian sekarang ketika mengikuti Bimtek Penulis Sejarah oleh Kemdikbud.

Teman-teman kelompok lain sudah jalan duluan sejak dari gereja St. Maria de Fatima, sementara kelompok kami yang kebagian Petak Sembilan harus putar balik untuk mencari narasumber yang bisa diwawancarai di kawasan Jalan Kemenangan itu.
04.51

Catatan dari Petak Sembilan Jakarta

by , in


Aroma dupa menguar di udara ketika memasuki area Petak Sembilan di Pecinan Glodok, tak jauh dari Pasar Asemka. Deretan lapak dan toko memanjang dari gerbang Pecinan sampai ke Wihara Darma Bakti.

Wihara Darma Bakti adalah wihara tertua di Kota Jakarta. Dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Luitenant Tionghoa, Kwee Hoen, dan semula wihara ini bernama Kwan Im Teng.
Ada banyak pedagang pernak-pernik peribadatan bagi warga Tionghoa, berdampingan dengan pedagang buah, sayur dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
18.37

Catatan dari Bimtek Penulisan Sejarah

by , in


Semula saya tidak menyangka bisa mengikuti Bimtek Penulisan Sejarah, karena saat mendaftar harus menyertakan outline tentang penelitian sejarah yang akan ditulis. Apalagi jumlah peserta dibatasi 50 orang per kota. Namun, apa salahnya mencoba? Kalau lolos alhamdulillah, kalau tidak lolos pun tak ada ruginya. Maka menjelang deadline pendaftaran saya isi formulir online.