Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
22.51

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

by , in

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
Bermain di terowongan air

Bakda Zuhur saya janji ketemuan dengan sahabat sejak zaman kuliah. Sejak menikah dia tinggal di Jogja, ngikut suaminya. Tahun lalu kami sempat ketemu di terminal, hanya sebentar. Kali ini kebetulan bisa agak lama.

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
El sangat antusias main perosotan

"Ketemu di Taman Pintar aja, deket kok dari Pasar Beringharjo." Kata Aroh, karena saya sedang belanja di pasar yang juga dekat dengan Malioboro itu, menemani Bude.

Baru kali ini saya masuk ke Taman Pintar, taman bermain untuk anak. Ada banyak wahana permainan, yang gratis maupun berbayar. Tarifnya dari yang paling murah, Rp.3000,- sampai yang paling mahal 30 ribuan... Nah, karena anak Aroh belum 3 tahun, dan saya sudah cukup tua untuk pintar, heuheu... Jadi kami tidak masuk. Cukup menikmati taman gratis berupa perosotan dan taman air menari.

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

El Roya, anak Aroh ini sangat pemberani. Dia naik perosotan tanpa mau dibimbing. Tiap kali Aroh hendak membantunya El berteriak marah. Aroh khawatir anaknya lecet.

"Udah Roh, biarin aja. Dia ingin bebas bermain. Dia pemberani, rasa ingin tahunya besar. Kalau kamu terlalu khawatir, nanti dia jadi penakut. Apalagi dia kelihatan keras kepala, namanya juga anak pertama." Kataku. Aroh mengiyakan. Dia memang ibu yang protektif. Beda banget sama saya. Maklum, punya anak lelaki harus banyak maklum. Jatuh dan berdarah sudah jadi makanan sehari-hari. Hatiku khawatir, tapi lama-lama berusaha selow. Pulang sekolah bibirnya luka, berdarah. Katanya tak sengaja ketendang temannya. Oke .. nggak apa-apa kan? Udah diobatin belum? Jangan nangis ya... Begitulah anak-anakku. Laki-laki semua. 🤭

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
Taman  Pintar, cocok untuk wisata keluarga


Namun meski kita bisa selow menghadapi tingkah polah anak, tetap harus waspada. Seperti El yang pada akhirnya jatuh tersuruk di bawah perosotan. Bibirnya luka sedikit, dan Aroh mulai panik. Padahal anaknya tenang dan kembali main. Yang saat ditanya apa kabarmu El? Dia jawab, "Aku fine..."

Okeh, fine! Lalu kenapa kamu panik terus Roh? Kalem... Dia baik-baik aja...

El tertawa riang, aku jadi ikut senang. Melihatnya bermain dan mudah akrab dengan anak lain aku jadi bermimpi punya anak perempuan. Mungkin kalau suatu saat kesampean, khawatirku bakal ngalahin Aroh dah. Wkwkwkwk.....(*)
02.03

Jelajah Baduy (Part 6)

by , in



Jelajah Baduy (Part 6)
Jembatan Akar, Baduy


Hari terakhir di Baduy, saatnya pulang gaes... Tapi kami mau melewati satu destinasi menarik nih, yaitu Jembatan Akar. Jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai, terbentuk dari akar pohon yang saling terjalin rapi sehingga membentuk jembatan. Di bawah jembatan ada sungai yang mengalir jernih. Di tepi sungai ada bebatuan yang asyik untuk berfoto.

Jelajah Baduy (Part 6)
Jembatan Akar
Terbuat dari jalinan akar secara alami


Perlu waktu 3 jam untuk sampai ke sini dari rute Cibeo. Seperti biasa medannya menanjak dan sesekali terjal juga. Namun melihat pemandangan yang serba hijau, lelah menjadi tidak terasa. Terlebih lagi setelah sampai di Jembatan Akar, semua kelelahan itu sirna.
21.06

Jelajah Baduy (Part 5)

by , in
Jelajah Baduy (Part 5)
Foto di Baduy Luar bersama Pak Jaku dan Mbak Lia



Sore saat kami duduk-duduk di teras rumah, terdengar suara angklung. Rupanya anak-anak Baduy sedang berlatih memainkan angklung di balai desa. Kami menonton sambil melihat-lihat sekitar desa. Menjelang Magrib baru kembali ke rumah tempat menginap.

Ada sebuah area yang tidak dilalui orang. Bersih.  Ketika kami melewatinya, beberapa orang berteriak melarang kami. Rupanya area yang bersih itu milik Ketua Adat makanya tidak boleh dilewati. Ada tandanya kok, dua bambu berbentuk menyilang.
19.13

Jelajah Baduy (Part 4)

by , in

Jelajah Baduy (Part 4)
Berfoto bersama Pak Jaku, warga Baduy Dalam di jembatan perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam


Hari kedua di Baduy Dalam, sesuai rundown kami akan menjelajah seluruh desa di Baduy Dalam. Hanya ada tiga desa yakni Cibeo (yang kami tempati semalam), Cikertawarna dan Cikeusik. Nggak tahu kenapa yah, medan yang kami lalui banyak terjalnya. Iya sama, kayak hati kamu yang sulit aku taklukkan. Eaaaa.

Setelah sarapan dan menyiapkan perbekalan (nasi, ikan asin, air minum, nutri**ri, madu, apel, dan jangan lupa permen) kami siap menjelajah. Belum apa-apa sudah nanjak-nanjak. Tapi karena kemarin sudah pemanasan jalan kaki lima jam, sekarang terasa lebih ringan. Jalan setapak dengan jurang di kanan kiri jalan, tanah berbatu, berkerikil dan semak-semak. Sesekali terdengar kicauan burung. Sejauh mata memandang hanya perpaduan hijau dan biru. Saya sungguh takjub melihat alam seperawan. Kabarnya, warga Baduy dilarang menjual tanahnya kepada orang luar Baduy. Pun, orang luar negeri dilarang masuk Baduy. Meskipun hanya Baduy Luar! Jadi kalau misalnya kamu punya suami oppa-oppa Korea gitu yah, jangan diajak honeymoon ke Baduy. Kasihan. Masa kamu masuk Baduy, suamimu ngemper di terminal? Ajak aja ke Turki. Hehehe...

Sejam kemudian sampai di Desa Cikertawarna. Sebuah desa pertengahan, yang hanya ada sedikit rumah dengan jarak tidak terlalu berdekatan. Saat kami melintas, para bapak sedang membuat atap dari daun tirai. Saya merasa sikap mereka tidak seramah warga Desa Cibeo. Wajar, karena jarang ada tamu bermalam di sini, dan sebenarnya mereka risih dengan keberadaan orang asing.

Jelajah Baduy (Part 4)
Suasana desa yang asri


Lanjut lagi menuju Desa Cikeusik. Harap maklum jika tidak ada foto atau video yang menunjukkan lokasi Baduy Dalam. Meskipun rasanya ingiiiiin sekali untuk sekadar memotret ilalang dan langit biru, tetapi kita menghormati aturan adat ya. Karena kita tamu di situ, jadi sebisa mungkin menghormati tuan rumah. Walaupun tidak ada penjaga yang akan menghukum jika kita melanggar, alangkah baiknya jika kita menghormati aturan mereka.

Jelajah Baduy (Part 4)
Jalan menanjak dan berbatu

Di jalan kami bertemu dengan Pak Jaku, warga Baduy Dalam yang biasa menjadi guide. Jadi kami bersama-sama jalan menuju perbatasan. Dan yaaaaa perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam adalah pertanda bahwa kami boleh ambil gambar dan video. Yeaaaay! Bahagia itu sederhana banget. Namanya juga dua hari tanpa gadget kan?

Jelajah Baduy (Part 4)
Perbukitan yang dijadikan ladang oleh penduduk Baduy


Setelah memasuki kawasan Baduy Dalam lagi, ponsel kami matikan kembali. Melihat Desa Cikeusik dari atas bukit itu seperti sebuah desa yang dipagari gunung yang hijau. Di sinilah terasa sekali alam dan manusia hidup berdampingan dengan harmoni. Sungai mengalir jernih, pohon serba hijau, langit begitu biru. Ini seperti gambaran desa dalam pelajaran IPS.

Namun, penduduk Desa Cikeusik jauh lebih "hening" daripada Cikertawarna. Kami senyum tidak dibalas, kami menyapa tidak dijawab dengan ramah. Para wanitanya langsung masuk rumah, dan anak kecil menangis tatkala melihat kami. Ya, merek sangat risih dengan orang asing. Bahkan untuk solat saja kami merasa sungkan. Khawatir menyinggung perasaan mereka yang beragama Sunda Wiwitan.

Sebagai tamu, please banget jaga kesopanan. Kami temui juga tamu yang berjalan sambil makan eskrim melewati penduduk tanpa permisi. Saat melihat mereka, terhentaklah kesadaran kami. Oh iya. Kalau kita yang dibegitukan, pasti tidak senang juga. Maka wajarlah mereka bersikap tidak ramah pada tamu yang datang. Saya yakin bukan karena mereka memang aslinya tidak ramah. Tetapi risih lebih tepatnya. Sama rasanya seperti kita yang sedang melakukan sesuatu, lalu orang asing bertanya detail tentang itu. Padahal Googling sendiri juga bisa.

Akhirnya kami solat di teras rumah yang terbuat dari susunan bambu utuh. Setelahnya kami pulang dan istirahat sejenak di saung sambil makan nasi bekal kami. Tenaga telah pulih, kami kembali ke desa. Total 6 jam jalan kaki. Yeah! (Bersambung)
14.57

Jelajah Baduy (Part 3)

by , in
Jelajah Baduy (Part 3)
Warga Baduy Dalam berjalan kaki tanpa alas kaki


Tenang dan damai, kira-kira begitulah gambaran sebuah desa. Ada desa yang sudah mirip kota, ada desa yang lebih modern karena sentuhan teknologi dan komunikasi. Namun di Baduy Dalam, segalanya seirama. Bentuk rumahnya sama, menghadap sama-sama ke arah selatan. Terbuat dari gedek dan bambu serta atap daun tirai. Antara rumah yang satu dengan rumah yang lain tidak ada yang lebih bagus atau berlomba menjadi paling bagus. Kecuali rumah Ketua Adat/Puun yang memang istimewa tetapi tetap terbuat dari bahan yang sama. Hanya lebih luas dan berbeda sedikit.

Keseharian warganya sama-sama berladang. Sejak pagi sampai sore hari, kaum ibu pergi ke ladang sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Yang agak besar disuruh jalan membawakan bekal. Kaum bapak juga sama berladang, meskipun ada pula yang menjadi guide dan pedagang souvenir. Ketika sore tiba, mereka pulang ke rumah. Malam digunakan untuk istirahat.

Kalau di kota, satu orang beli kulkas dan motor baru, tetangganya panas. Di Baduy Dalam semua itu tidak mungkin terjadi. Listrik saja tidak masuk sini. Mau nyolokin steker di mana? Kalau sudah malam ya tidur. Makan seadanya saja. Air minum masak sendiri dengan mengambil airnya di sungai dekat rumah menggunakan potongan bambu yang dilubagi bagian atasnya. Perkasanya wanita Baduy, mampu mengangkat beberapa tempat air sekaligus. Sambil gendong anak di depan, sambil bawa beban di belakangnya.

Pernah dengar bahwa perempuan Baduy cantik-cantik? Ya, benar sekali! Cantiknya natural, padahal setiap hari mandinya tidak pakai sabun atau lulur. Skincarenya cukup bedak dan lipstik tetapi kecantikannya mengalahkan artis yang nggak bisa ngupas salak. Lalu saya tanya, kalau untuk perawatan wajah, pakai apa ya? Rupanya, pakai daun honje! Elaaaah itu yang biasa batangnya kita bikin sambal combrang....

Jelajah Baduy (Part 3)
Anak Baduy Dalam, sejak kecil sudah terbiasa jalan kaki menjelajah hutan

Lelaki Baduynya juga ganteng-ganteng. Mereka kuat berjalan kaki tanpa pakai sandal ke man-mana. Keliling Baduy tanpa lelah, bahkan kalau harus keluar Baduy juga tanpa alas kaki. Ke Jakarta? Ah sudah biasa. Telapak kaki mereka sudah 'kapalan' sehingga sudah menjadi seperti sol sepatu. Kuat menahan panas dan hujan. Sejak kecil mereka sudah terbiasa menjelajah hutan. Demi bertahan hidup, demi keahlian lelaki mencari nafkah demi keluarganya.(*)
06.32

Jelajah Baduy (Part 2)

by , in


Jelajah Baduy (Part 2)
Jalan di Perkampungan Baduy Luar


"Treknya mirip Gunung Lawu." Ujar Frili, mengomentari medan yang kami lalui. Perkampungan dengan rumah yang seragam, dengan jalan naik-turun, jarang landainya. Bahkan yang aku rasakan sih terus mendaki. Berangkat dari Kampung Gajebo pukul 16.00. Tujuan kami ialah tempat bermalam, yakni Desa Cibeo, Baduy Dalam.

Jelajah Baduy (Part 2)
Jembatan perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam

Tepat saat Maghrib, kami sampai di perbatasan Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Pembatasnya adalah jembatan bambu dengan sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Jembatan ini lumayan panjang, dan setelahnya hanyalah hutan yang jauh dari rumah penduduk.

Jelajah Baduy (Part 2)
Panorama menuju Cibeo, Baduy Dalam


Di perbatasan inilah dimulai larangan yang terkenal itu. Dilarang mengambil gambar, video dan rekaman suara. Dilarang pula mandi menggunakan sabun dan shampo. Karena hari sudah gelap, kami gunakan senter sebagai alat bantu penerangan.

Setelah melewati jembatan, kami sampai di "tanjakan cinta". Sebuah tanjakan yang kemiringannya lebih dari 45° dan panjangnya sekitar 500m. Kalau tidak salah sih, sebab yang saya rasakan begitu lama. Medan terjal berbatu dan tanahnya merah. Nyaris saya tidak kuat. Sebab memang berat rasanya. Jarang olahraga, napas turun-naik ditambah beban ransel yang lumayan berat. Haduuuh... Kalau aku menyerah, berarti aku kalah. Kalah oleh diriku sendiri.

Bulan sabit dan gemintang menatap dari langit. Saya kembali menatap mereka. "Wayah gini aku di sini mau ngapain? Apa yang ingin aku tahu dari Suku Baduy? Ah tidak, ini bukan sekadar memuaskan rasa penasaran tentang Baduy, tetapi ini adalah perjalanan mengalahkan egoku. Tidak ada jalan untuk kembali, jauh, jauh sekali. Hanya satu pilihannya: tetap maju!"

Saya istirahat beberapa kali. Mengatur napas dari hidung sebab kata Zaky bisa menguatkan jantung. Ya, aku mengikuti instruksi itu. Istirahat, jalan lagi, begitu seterusnya. Walaupun akhirnya aku harus tahu kondisi diriku. Mamat membawakan ranselku. Alhamdulillah..  sedikit beban berkurang.

Dari semua trek, tanjakan cinta itulah yang aku rasakan paling berat dilalui. Perjalanan terus berlanjut sampai kami menemukan saung ladang. Istirahat untuk menikmati jambu air yang mereka suguhkan.

Warga Baduy rupanya punya "saung ladang" yang mereka gunakan untuk istirahat saat berladang. Bentuknya sama seperti rumah di desa.

Pukul 19.48 kami tiba di Desa Cibeo. Inilah desa terluar Baduy Dalam. Semua rumahnya sama menghadap ke selatan. Dinding dari bambu, atap dari daun tirai. Bedanya, rumah-rumah di Baduy Dalam lebih luas dari di Baduy Luar. Pemukiman mereka sangat dekat dengan sungai. Hal yang wajar karena segala aktivitas mereka mulai dari mandi, memasak, mencuci menggunakan air sungai. Itulah sebabnya di Baduy Dalam kita tidak boleh menggunakan sabun, shampo, pasta gigi dan sebagainya. Kita juga tidak akan menemukan kamar mandi di desa ini. Sebab sungai sudah memberikan mereka segalanya. (*) Bersambung
22.39

Jelajah Baduy (Part 1)

by , in
Jelajah Baduy (Part 1)
Foto bersama Kang Yayat dan istrinya, Teh Sani. Warha Kampung Gajebo, Baduy Luar


Selama ini Baduy bagiku penuh misteri. Mendengar cerita orang Baduy seperti ini, seperti itu, belum terbayang bagaimana kenyataannya. Ketika ada kesempatan untuk jelajah Baduy 3 hari 2 malam, inilah kesempatan bagus untuk melihatnya dari dekat.

Saya mulai dari stasiun Serang, ambil jadwal pkl. 07.32. Harga tiket Rp 3.000. Sampai di Stasiun Rangkasbitung satu jam kemudian. Lalu dilanjutkan naik angkot carteran menuju Ciboleger. Per angkot dikenai Rp 250.000 sekali jalan.

Kami bertujuh satu rombongan dari berbagai daerah. Saya dari Serang. Frili, Mamat dan Fathir dari Jatim. Mas Joko dari Jogja. Mbak Lia dari Jakarta, dan Zaky dari Bogor. Sampai di Ciboleger sekitar 1,5 jam kemudian. Sholat Zuhur, lalu belanja logistik untuk dimasak oleh tuan rumah di Baduy nanti. Berupa beras, garam, kopi, gula, sarden, ikan asin, minyak, susu, mi instan dan bumbu sambal. Sebenarnya mau lauknya apa saja juga boleh kok. Selama tidak merepotkan.

Rombongan kami dipandu oleh Kaldi, warga Baduy Luar yang akan menemani kami selama tiga hari jelajah Baduy. Dia baru 17 tahun. Dia pula yang membawa logistik dengan cara dipanggul.

Perjalanan dimulai! Sebelum masuk Baduy, jangan lupa bayar biaya retribusi dulu ya. Murah, cuma Rp 4.000 per orang. 

Ciboleger adalah kampung terluar Baduy Luar. Lokasinya sangat dekat dengan pemukiman warga non-Baduy. Kanan kiri jalan adalah rumah warga yang disibukkan dengan aktivitas menenun dan menjual souvenir Baduy berupa kain tenun, pakaian khas Baduy, slayer, gelang rotan, madu dsb. Di sini kita masih sangat boleh ambil dokumentasi. Bebas asal sopan.

Jelajah Baduy (Part 1)
Gula kawung/aren


1 jam berjalan kaki dengan medan mendaki dan jarang menurun, kami sampai di Kampung Gajebo. Istirahat di rumah Kang Yayat, saudara Kaldi. Disuguhi air minum yang menyegarkan, gula aren, jambu air dan kopi, gula serta tehnya. Warga Baduy memang terkenal dengan gula kawung/arennya. Rasanya lebih sedap daripada gula merah biasa. Dicampur dengan air, bisa mengembaliman stamina setelah sejam berjalan kaki. (Bersambung)
20.56

Keguguran: Momen Sakral Antara Aku dan Calon Bayiku

by , in


Keguguran. Kehilangan. Sedih. Sakit. Pasrah. Bermacam-macam kata menggambarkan satu momen dalam hidupku. Tidak pernah terbayangkan merasakan hal ini. Kehamilan keempat, usia dua bulan. Gugur dalam waktu sepuluh hari.

Terkadang kalau aku mengingat lagi momen dua garis di pagi hari itu, ada kebahagiaan tersendiri. Meskipun sudah tiga kali melahirkan, tetap saja kehamilan ini istimewa.

Berharap yang keempat ini perempuan. Akan tetapi, Allah menakdirkan lain. Diambil-Nya amanah ini. Aku hanya sempat merasakan delapan minggu mengandungnya. Tanpa mual, tanpa gejala morning sickness maupun ngidam. Justru ini berbahaya.

Ngidam, mual dan sakit macam-macam saat hamil itu anugerah lho. Sebab itu pertanda kehamilan kita baik-baik saja. Yang aku rasakan seringnya sakit kepala dan kram di bagian rahim. Tanpa curiga sedikit pun, karena aku selalu setrong pada tiga kehamilan sebelumnya. Aku berkegiatan seperti biasa. Ngajar, mengurus rumah dan tiga anak. Study tour selama sepekan ke Solo. Jalan-jalan ke Islamic Book Fair Jakarta. Juga menghadiri acara Milad FLP. Tiga rangkaian acara besarku saat itu.

Namun, sebagai emak pecicilan akhirnya aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tidaklah sama antara kandungan sebelumnya dengan sekarang.

Pada hari Sabtu, keluarlah flek berwarna coklat itu. Aku masih sempat ke pasar untuk belanja perabotan kebutuhan dapur pesantren. Ternyata besoknya yang keluar adalah darah! Aku pun masih mengikuti Beauty Class di Cilegon bersama teman-teman Ibu Profesional.

Baiklah, baru pada hari ketiga aku tirah baring. Tidak melakukan apa-apa. Mencuci pakaian, mencuci piring, beres-beres rumah, dan mengurus anak semuanya dikerjakan suami. Selama sepekan aku merasakan kram perut disertai pendarahan terus-menerus. Seperti orang haid yang lagi banjir-banjirnya. Ini, kalau dibawa ke Rumah Sakit pasti langsung dikuret untuk menghentikan pendarahan. Akan tetapi aku hanya ke Klinik dan setelah USG aku dinyatakan BO (Blighted Ovum) atau janin tidak berkembang.

Selama tirah baring itu aku terus berdoa dan berharap semoga janin ini masih kuat bertahan. Akan tetapi, takdir adalah hak Allah Yang Maha Kuasa. Harapanku tidak pupus, tetapi sekarang menjadi lebih legowo. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi. Jika memang aku belum ditakdirkan punya anak keempat, silakan ya Allah... Silakan Engkau ambil kembali janin ini.

Pada hari kesepuluh saat ke kamar mandi, keluarlah gumpalan-gumpalan darah seperti hati ayam. Sepanjang hari terus keluar seperti mengeluarkan segala yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Keluar pulalah darah berbentuk seperti bayi kecil, yang bila disentuh ia pecah menjadi darah. Rupanya inikah proses "segumpal darah" itu? Sudah mirip bayi, tapi masih darah. Hatiku seperti hancur bersamaan dengan hancurnya darah berbentuk bayi itu. Tangisku lindap di kamar mandi. Menangis seorang diri. Entah mengapa aku tidak ingin menunjukkan pada suamiku betapa sedihnya diriku saat itu. Kuresapi kepedihan dan sakit hati sendirian. Ini adalah momen antara aku dan calon bayiku.

Setelah itu sakit kram di perutku hilang. Tidak lagi ku rasakan segala pedih di dalam rahim. Yang tinggal hanyalah kesedihan. Kembali aku bisa berjalan, meski masih kliyengan. Aktif lagi mengurus rumah dan anak-anak.

Kembali ke Puskesmas lagi untuk minta obat pembersih rahim. Minum air kelapa muda. Aku tidak berani menjalani kuretase. Tidak. Tidak akan sanggup meski teman-teman menyarankan demikian. Bismillah Tawakkaltu 'alallah...

Tidak lama setelah itu haidku lancar kembali. Orang bilang kalau setelah keguguran akan cepat hamil lagi. Ini sudah enam bulan dan siklus haid masih lancar. Aku tidak lagi berharap. Sekarang semuanya terserah Engkau saja ya Rabbi.....

Dikaruniai tiga anak lelaki sudah cukup membahagiakan. Yang sudah ada inilah yang harus selalu disyukuri. Sedangkan yang hilang, sudah aku ikhlaskan. Tidak ada lagi kesedihan saat menceritakannya kepada siapa saja. Memang belum waktunya. Syukur baru dua bulan. Syukur tidak sampai kuret. Syukur yang tiga ini sehat senantiasa. Syukur suami selalu siaga. Maka nikmat Tuhanku yang manakah yang akan aku dustakan?(*)
18.55

Kekuatan Cermin dan BB Cream

by , in
Kekuatan Cermin dan BB Cream
Perempuan itu senang jika dirinya menjadi baik, sebab itulah dia rajin melihat kekurangan dirinya. Akan lebih bagus jika diiringi dengan amal baik.
"Tahu nggak Bah, kenapa perempuan itu selalu suka bercermin?" Tanyaku pagi ini ke suami, saat sedang mengaplikasikan pelembab wajah.

"Kenapa?" Abah balik tanya.

Kenapa sih, perempuan kalau nemu cermin besar, naluri untuk bercermin sambil motret diri selalu muncul? Atau kalau nemu cermin apapun itu, di mana pun, seperti otomatis ingin menatap pantulan diri di cermin. Entah untuk benerin kerudung, pakai bedak, lipstik, eye shadow, maskara, apalagi alis. Kalau nggak lihat cermin, kurang afdhol begitu.

Tiada hari tanpa bercermin. Masuk kamar ada cermin, diliriknya tuh cermin. Mau naik motor lihat spion, sempet-sempetnya lirik spion. Bahkan ketika nggak ada cermin pun, buka kamera HP, bagian depan. Biar abis bercermin, langsung selfie.

Kenapa sih perempuan itu selalu dekat dengan cermin? Bahkan bahasa Arabnya saja mirip. Mar'ah (perempuan) dan Mir'ah (cermin). Sampai ibu tirinya Snow White aja bisa jahat gitu karena terobsesi sama cermin.

"Karena, perempuan itu nggak bisa lihat kesalahannya sendiri. Dia baru akan percaya bahwa dia salah, jika sudah melihat cermin. Salah make-up misalnya." Jawabku ngasal. Karena sering kejadian meski kerudungnya menyon, atau alisnya tinggi sebelah, gak bakal tahu sebelum lihat cermin. Jadi dia nggak akan ngerasa salah (meskipun dia salah) sebelum ada orang yang memberi tahu bahwa dia salah!

Lalu, walaupun dia sudah tahu bahwa dia salah, ternyata yang dilakukannya bukan dengan mudahnya mengaku, tapi malah pakai rumus BB Cream!

"Terus, tahu nggak Bah kenapa perempuan itu suka pakai make-up. Misalnya BB cream ini?" Tanyaku lagi.

"Kenapa?"

"Karena perempuan itu, meski dia udah salah, atau punya banyak kekurangan, dia pengen selalu tampil sempurna di depan orang lain. Dia nggak mau orang lain tahu kekurangannya, juga kesalahannya. Makanya itu dia tutupi. Seperti fungsi BB Cream ini, menyamarkan flek hitam di wajah. Seringnya kan perempuan kalau udah dandan mah cetar, beda sama aslinya."

"Ya ya ya...." Sahut Abah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim)


Sekian obrolan pagi yang anggap saja penuh filosofi ini. Kalau benar semoga bermanfaat, kalau salah tolong ingatkan saya. Silakan like dan share jika bermanfaat. (*)

Salam Cermin
Yuni Astuti