Diary Emak Baper

Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

10.11

Jangan Nyinyiri Pesantren

by , in

 Kisruh. Sepekan terakhir ini ada banyak sekali keriuhan dalam sosial media kita. Tentang narasi yang dilontarkan Xpose Uncencored yang ditayangkan Trans 7 pada 13 Oktober 2025 lalu. Narasi yang terkesan menghina ulama, mendiskreditkan pesantren dengan beberapa tradisinya, setidaknya ada 3 pembahasan utama yang membuat santri dan alumni Lirboyo meradang.

1. Pesantren dikaitkan dengan budaya feodal, karena santrinya harus berjalan jongkok bahkan ngesot di depan kiai/bunyai

2. Para kiai menjadi sangat kaya raya karena mendapatkan banyak amplop dari santri. Disebutkan dalam tayangan itu, kiai membeli mobil harga miliaran, sarung harga jutaan dll.

3. Santri menjadi pembantu gratisan karena membantu kiai membersihkan rumahnya, dll.

Yang paling memantik amarah para santri ini adalah video Kiai mereka yang dimunculkan tengah turun dari Alphard. Kiai Anwar Mansur, pengasuh Pondok Lirboyo-Jawa Timur.

Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, tentang jalan jongkok dan kaitannya feodalisme. Relasi antara santri dan kiai yang dinilai tidak demokratis. Kiai adalah otoritas tertinggi, sedangkan santri adalah “bawahan” yang harus tunduk, patuh tanpa boleh mendebat. Bagi orang luar, bisa jadi terlihat seperti ini. Tetapi mengapa banyak santri yang berkata, “yang gak pernah mondok gak akan paham.”?

Karena pesantren punya mekanisme sendiri dalam mengelola relasi itu. Pesantren memiliki tatacara sendiri dalam mendidik para santri. Hal-hal yang memang tidak sepenuhnya dipahami atau mungkin disalahpahami oleh orang luar pesantren.

Perilaku zahir yang sama, bisa dimaknai berbeda. Ada yang menyebutnya feodal, tetapi bagi para santri itu sendiri, hal seperti itu dinamakan “adab”. Sebuah cara penghormatan pada kiai karena ilmu yang dimiliki. Maka bersikap hormat, membantunya, taat para perintahnya, merupakan satu rangkaian pengabdian.

Mungkin kita pernah melihat video ketika ada seorang ustadz mengendarai motor, lalu para santri yang tengah berjalan itu berhenti seketika hingga sang ustadz berlalu. Itu bukan feodal, itu adalah aplikasi dari adab yang diajarkan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim bahwa santri tidak boleh berjalan di belakang guru, tidak mendahuluinya. Kitab ini menjadi rujukan bagi para santri dalam belajar Adab.

Okelah kalau hanya menghormati, tapi tidak usah sampai jongkok dan ngesot juga kali. Berlebihan itu namanya.” Entah kata siapa, banyak sekali ucapan serupa ini.

Entah bagaimana dengan suku lain, tapi kalau di Jawa hal ini sangat biasa. Kita lewat depan rumah orang, dan orangnya ada di terasnya saja kita “wajib” menyapa. Itu biasa. Kebiasaan orang desa yang bukankah belakangan ini dikagumi oleh orang kota yang terpesona dengan gaya hidup slow living?

Menyapa, mengangguk hormat, menunduk, bahkan jalan ngesot saat sungkem, ini sangat biasa bagi masyarakat Jawa. Dalam khasanah keilmuan Islam, kita menyebutnya dengan ‘urf yakni adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Meskipun ada perbedaan pendapat antar ulama, sejauh mana batasan penghormatan pada seseorang. Namun selagi masih dalam batasan yang tidak diniatkan untuk menyembah seseorang, maka hal itu diperbolehkan.

Jadi kalau dikatakan feodal, sepertinya kurang tepat. Sebab apa yang tampak pada zahirnya, belum tentu memiliki esensi sama. Maka untuk mengetahuinya, kita perlu tabayyun dan memahami makna sebenarnya. Kita bisa mencari tahu, kita bisa bertanya tanpa prasangka.

Kedua, tentang kiai yang menerima banyak amplop dari jamaahnya dan memperkaya diri. Mobil milyaran dan sarung harga jutaan. Sungguh, narasi ini adalah buah simalakama bagi para kiai. Ketika ia kaya (karena punya bisnis sukses), orang-orang akan mencibir. “Kiai kok kaya? Harusnya sedekahin ke orang yang membutuhkan.” Padahal ia tidak tahu sedekah apa saja yang tersembunyi darinya. Meskipun sedekah terang-terangan, akan banyak lagi orang yang mencibit “sedekah kok terang-terangan, riya itu namanya.”.

Sebaliknya jika kiai itu miskin, orang pun akan menghina “tuh kan miskin, jadi kiai itu madesu.”. Ibarat anak dan ayah menaiki keledai, segalanya akan terlihat salah di mata orang yang hatinya dipenuhi kebencian.

Ketiga, santri membantu kiai. Entah salahnya di mana ketika seorang anak membantu orang tuanya. Sedangkan kiai adalah orang tua santri selama di pesantren, maka membantunya tentu bukan masalah. Dalam potongan video mungkin bagi mereka terlihat seperti perbudakan, entah pada bagian mananya? Sedangkan kata “budak” sendiri maknanya adalah orang yang kehilangan kemerdekaannya, propertinya juga hak atas dirinya. Lalu bagaimana membantu pekerjaan rumahnya disebut perbudakan? Sepertinya terlalu kejauhan...

 Sekarang sungguh miris, karena banyak dari pesantren modern yang terkesan membanding-bandingkan dan terlihat lebih hebat dari pesantren tradisional itu. “Pilih pesantren yang benar, maka tidak akan kau temui raja-rajaan.” Duh, lagian. Ini narasi yang bukannya ngadem-ngademin malah semakin manas-manasi. Secara tidak langsung mereka merasa jauh lebih baik dibandingkan pesantren tradisional yang usianya sudah ratusan tahun itu.

 Memang ada perbedaan kultur, ada perbedaan metode dalam menghormati kiai. Tetapi bukankah esensi dari pendidikan Islam agama itu sama? Yakni berakhlak mulia. Jika metode akhlak orang lain tidak sama dengan kita, bukan berarti kita jauh lebih berakhlak dibandingkan mereka.

 Ya bisa jadi memang perbedaannya terlalu banyak. Tidak ada cium tangan, tidak ada jalan jongkok dsb tapi pesantren yang usianya sudah ratusan tahun itu adalah pusat pendidikan masyarakat yang sejak zaman dulu tidak mendapatkan akses pendidikan yang baik karena dihalangi oleh kolonial. Kita tentu mafhum juga, mereka dibayar tidak selalu dengan harta, tapi tak sedikit yang menitipkan putra-putrinya hanya dengan ucapan terima kasih, beserta hasil bumi yang tak seberapa. Kontribusi pesantren tradisional yang tak terbilang sejak zaman kolonial tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Jasanya sangat besar dalam menjaga tradisi keilmuan klasik di negeri ini. Meskipun ada sebagian yang melenceng dari akarnya, itu sesuatu yang wajar. Juga kasus-kasus yang mencoreng nama baik pesantren, memang meresahkan, tetapi tidak bisa dipukul rata bahwa semua pesantren seperti itu.

 Mari kita berandai-andai. Andaipun benar di pesantren ada ngesot-ngesot, kiainya kaya raya, dan santrinya membantu kiai, lalu, masalahnya apa? Di mana ruginya kita? Apa dampaknya bagi kita? Bukankah semua hal itu di luar dari wilayah kita? Mereka bahagia melakukannya, mereka tidak membahayakan kita. Akhlak para santri itu baik, mereka juga berprestasi, mereka yang hari ini diframing negatif adalah orang-orang yang selalu shalat berjamaah lima waktu dan tepat waktu. Mereka yang diejek itu adalah orang-orang yang bangun di sepertiga malam untuk shalat dan memohon ampunan Allah. Mereka yang dihina itu adalah orang-orang yang dzikir dan shalawatnya begitu banyak. Para santri yang dipandang sebelah mata itu adalah orang-orang yang melestarikan tradisi ulama, ngaji kitab kuning, memperdalam ilmu-ilmu agama, dengan tak lupa mempelajari bahasa Arab yang belum tentu kita mampu. Mereka adalah orang yang sibuk menghafal dan murojaah Quran selagi kita justru sibuk scroll sosial media. Walaupun ada di antara mereka yang melakukan kesalahan, tentu manusia bisa saja melakukan kesalahan. Sebagaimana kita juga berpotensi untuk berbuat salah. Namun sebagai sesama muslim, pertama kali kedepankanlah dulu husnuzon itu.

Biarkanlah mereka, jangan kita mengganggunya....


20.44

Karangantu, Pelabuhan Berkelas Internasional yang Kini Dilupakan

by , in

Oleh: Yuni Astuti



Karangantu. Mungkin bagi yang belum tahu, akan merasa seram dengan nama itu. Namun, Karangantu bukan sekadar nama tempat yang tidak bermakna. Ada sejarah besar di sebaliknya.

Mitos nama Karangantu menurut cerita rakyat adalah ketika itu ada warga Belanda yang membawa hantu-hantu di dalam guci. Ternyata guci itu pecah dan hantunya keluar semua. Maka tersebutlah nama pelabuhan itu Karangantu.

Abad ke-15 dan ke-16 adalah masa-masa kejayaan Kesultanan Banten. Sebagai kerajaan maritim, Banten maju dalam hal perdagangan internasional. Bertepatan saat itu Malaka jatuh ke tangan Portugis, pedagang-pedagang Arab, India, Cina, Persia, Belanda dan Gujarat beralih ke Selat Sunda dan tentu saja Karangantu menjadi jalur perdagangan yang ramai, kedua setelah Sunda Kelapa.



Pelabuhan Karangantu maju pesat, sebab perdagangan semakin ramai. Masa itu Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sunan Gunung Jati adalah putra dari Syarif Abdullah dan Nyai Rarasantang, putri Prabu Siliwangi.

Banyak barang berharga yang diperjualbelikan di Pelabuhan Karangantu. Kita bisa melihat sisa-sisa kejayaan masa itu di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, tidak jauh dari Masjid Agung Banten. Ada banyak porselen China, mata uang internasional, dan diorama-diorama yang menggambarkan kehidupan masyarakat Banten ketika itu. Sangat ramai dan sejahtera. Ada gambaran bahwa masa itu para lelakinya gemar bermain sepak takraw di sela-sela istirahatnya.



Kesultanan Banten semakin maju saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Tidak hanya dalam hal perdagangan, tetapi agraria dan saluran irigasinya sangat hebat. Banten, benar-benar seperti namanya: ketiban inten (kejatuhan intan).

Namun tentu saja di balik kejayaan suatu negeri, ada yang tidak senang. Ya, Belanda diam-diam mulai menghasut putra Sultan Agen Tirtayasa, yang bernama Sultan Haji. Maka jadilah, anak dan ayah yang bersilang pendapat, berbeda jalan. Sang Ayah sangat mementingkan kesejahteraan rakyat, sedangkan Sultan Haji berharap tahta kesultanan jatuh ke tangannya. Belanda memihak Sultan Haji, untuk kemudian hanya menyebabkan perang saudara. Akibatnya, Keraton Surosowan rata dengan tanah. Ada dua versi sejarah dalam kehancuran ini, pertama dihancurkan Belanda. Kedua, dibumihanguskan oleh pasukan Sultan Ageng Tirtayasa. Wallahu a'lam.

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa digantikan oleh Sultan Haji, sejak itu Banten mulai mengalami kemunduran. Sepertinya begitulah sejarah akan berulang. Suatu negeri yang gemah ripah loh jinawi akan hancur diakibatkan oleh keserakahan anak negerinya sendiri. Hingga kini, Pelabuhan Karangantu seperti "sarang hantu" yang kumuh dan penuh sampah di tepi sungai yang semakin mengalami pendangkalan. Para nelayan Bugis yang gagah perkasa menambatkan kapal dan perahunya di tepi dermaga. Setiap sore selalu ramai untuk berlayar, besok pagi membawa ikan yang langsung dilelang di pelelangan ikan.

Masyarakat Banten lebih sering menyebut "Pantai Gopek" daripada Pelabuhan Karangantu. Padahal tidak ada pantainya, hanya dermaga yang biasa dipakai masyarakat untuk memancing ikan dan berwisata menuju Pulau Tiga, Pulau Empat, Pulau Lima, Pulau Tunda, dan Pulau Panjang. Pulau Tunda dan Pulau Panjang berpenghuni, sedangkan Pulau Tiga, Pulau Empat dan Pulau Lima tidak ada penghuninya. Dan kenapa disebut "Pantai Gopek" ialah karena  untuk masuk ke dermaga ini, kita dikenai retribusi Rp.500 saja. Alias gopek.



Meskipun sekarang Pelabuhan Karangantu tidak lagi menjadi pelabuhan internasional, pesonanya masih sangat indah. Memandang senja di dermaga sambil menyaksikan kapal pergi berlayar mencari ikan, ngopi di tepi dermaga sambil makan tahu bulat, atau foto selfie di area hutan mangrove sudah sangat menyenangkan. Mau mencoba naik kapal juga bisa, tarifnya Rp.10.000 per orang.

Nah segitu dulu ya cerita saya tentang Pelabuhan Karangantu yang sempat membuat takut karena namanya. Percayalah, kalau kalian datang ke sini, kesan seram itu akan hilang. Apalagi kalau kalian penggemar makanan laut segar. Ada cumi, aneka jenis ikan laut yang masih fresh bisa kalian dapatkan di pelelangan ikan. Belum lagi jalan-jalan ke Pulau-pulau di sekitarnya. Dijamin puas deh. Tapi nanti ya... Kalau wabah Corona sudah berakhir. Sekarang mah #stayathome saja dulu....
22.51

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

by , in

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
Bermain di terowongan air

Bakda Zuhur saya janji ketemuan dengan sahabat sejak zaman kuliah. Sejak menikah dia tinggal di Jogja, ngikut suaminya. Tahun lalu kami sempat ketemu di terminal, hanya sebentar. Kali ini kebetulan bisa agak lama.

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
El sangat antusias main perosotan

"Ketemu di Taman Pintar aja, deket kok dari Pasar Beringharjo." Kata Aroh, karena saya sedang belanja di pasar yang juga dekat dengan Malioboro itu, menemani Bude.

Baru kali ini saya masuk ke Taman Pintar, taman bermain untuk anak. Ada banyak wahana permainan, yang gratis maupun berbayar. Tarifnya dari yang paling murah, Rp.3000,- sampai yang paling mahal 30 ribuan... Nah, karena anak Aroh belum 3 tahun, dan saya sudah cukup tua untuk pintar, heuheu... Jadi kami tidak masuk. Cukup menikmati taman gratis berupa perosotan dan taman air menari.

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

El Roya, anak Aroh ini sangat pemberani. Dia naik perosotan tanpa mau dibimbing. Tiap kali Aroh hendak membantunya El berteriak marah. Aroh khawatir anaknya lecet.

"Udah Roh, biarin aja. Dia ingin bebas bermain. Dia pemberani, rasa ingin tahunya besar. Kalau kamu terlalu khawatir, nanti dia jadi penakut. Apalagi dia kelihatan keras kepala, namanya juga anak pertama." Kataku. Aroh mengiyakan. Dia memang ibu yang protektif. Beda banget sama saya. Maklum, punya anak lelaki harus banyak maklum. Jatuh dan berdarah sudah jadi makanan sehari-hari. Hatiku khawatir, tapi lama-lama berusaha selow. Pulang sekolah bibirnya luka, berdarah. Katanya tak sengaja ketendang temannya. Oke .. nggak apa-apa kan? Udah diobatin belum? Jangan nangis ya... Begitulah anak-anakku. Laki-laki semua. 🤭

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada

Bebaskan, Tapi Tetap Waspada
Taman  Pintar, cocok untuk wisata keluarga


Namun meski kita bisa selow menghadapi tingkah polah anak, tetap harus waspada. Seperti El yang pada akhirnya jatuh tersuruk di bawah perosotan. Bibirnya luka sedikit, dan Aroh mulai panik. Padahal anaknya tenang dan kembali main. Yang saat ditanya apa kabarmu El? Dia jawab, "Aku fine..."

Okeh, fine! Lalu kenapa kamu panik terus Roh? Kalem... Dia baik-baik aja...

El tertawa riang, aku jadi ikut senang. Melihatnya bermain dan mudah akrab dengan anak lain aku jadi bermimpi punya anak perempuan. Mungkin kalau suatu saat kesampean, khawatirku bakal ngalahin Aroh dah. Wkwkwkwk.....(*)
13.54

Masjid Jogokaryan; Viral dan Jadi Idaman

by , in
Masjid Jogokaryan; Viral dan Jadi Idaman
Masjid yang viral
Karena saldo kas selalu nol


Saldo kas masjid selalu nol adalah ciri khas Masjid Jogokariyan yang membuatnya viral. Masjid yang selalu makmur dengan berbagai macam kegiatan. Juga sholat lima waktu yang tidak pernah sepi jamaah. Bahkan di teras masjid tersedia banyak tikar jika jamaah membludak. Konon, setiap Ramadhan senantiasa disediakan 1000 porsi takjil gratis. Prinsipnya, masjid itu menghidupi jamaah. Bukan jamaah yang menghidupi masjid.

Disediakan pula makanan untuk tamu yang datang. Ini adalah masjid yang selalu buka 24 jam, dijaga oleh satpam dan terbuka bagi siapa saja. Masjid yang siapapun yang datang ke sini sepertinya jadi semangat beribadah.

Nah, kenapa kini menjadi viral? Jika disebutkan "Masjid Jogokariyan" hampir pasti yang tebersit adalah "ooooh... Masjid yang saldo kasnya selalu nol itu ya? Yang kalau kamu kehilangan sandal di situ, sandalmu akan diganti. Trus kalau kamu musafir kehabisan ongkos, bakal diongkosin?"

Mengapa hal-hal seperti ini viral dan semua orang bercita-cita punya masjid seperti itu juga di daerahnya? Masalahnya adalah saat ini masjid masih dianggap "hanya" sebagai tempat ibadah. Masih banyak juga masjid yang bangga dengan saldo kas yang jutaan atau malah puluhan juta tetapi tidak dimanfaatkan, hanya diendapkan. Di samping itu masih banyak yang kehilangan sandal di masjid, minta ongkos di masjid dianggap menipu, dll....sehingga ketika ada satu masjid yang benar-benar makmur, kita pun takjub.

Tentu Masjid Jogokariyan juga memiliki proses panjang untuk bisa sebagus ini. Yang kita lihat kan hasilnya. Entah prosesnya seperti apa. Menggerakkan masyarakat sekitar untuk gemar beribadah, bukan hanya kalangan tua tetapi anak-anak muda yang identik dengan senang-senang semata. Ini mereka bersinergi, untuk sama-sama memakmurkan masjid yang berada di Jl. Jogokaryan ini.

Semoga akan ada masjid-masjid Jogokaryan lain di daerah-daerah lain. Yang mengutamakan kemakmuran jamaahnya, baik secara lahir maupun batin. Bukan hanya saldo kas kosong yang kita ingat, tetapi memang beginilah seharusnya masjid. Sebagai tempat shalat, pusat pengajian, pusat pembelajaran dan "rumah" bagi jamaah. Sehingga keberkahannya bisa mengenai semua orang.(*)
14.41

Masjid Jogokariyan, Makmurnya Ditentukan Mulai dari Jamaah Subuh

by , in
, Makmurnya Ditentukan Mulai dari Jamaah Subuh
Jamaah Subuh yang terdiri dari lelaki dan
Perempuan. Baik tua maupun muda


Alhamdulillah atas izin Allah, hari ini bisa merasakan nikmatnya Subuh berjamaah di masjid yang fenomenal ini. Sudah banyak diberitakan media bahwa Masjid Jogokariyan adalah masjid yang sangat makmur, baik dari jamaahnya maupun saldo kasnya yang selalu nol rupiah sebab digunakan untuk memberdayakan jamaahnya.

, Makmurnya Ditentukan Mulai dari Jamaah Subuh
Berfoto di halaman masjid



Biasanya masjid hanya buka di jam-jam tertentu. Tetapi Masjid Jogokariyan adalah pengecualian. Saya datang dari Serang menggunakan bus, ternyata sampai terminal Giwangan lebih cepat 4 jam. Mau pulang ke rumah saudara, belum ada bus yang beroprasi. Jadi saya putuskan untuk mengunjungi masjid ini pada pukul 2 pagi.

Saya kira akan sepi. Ternyata, ramai sekali. Bapak-bapak dan anak muda mungkin sedang giliran jaga atau usai solat Tahajud. Duduk-duduk di angkringan depan masjid. Saya dan adik meminta izin pada Satpam untuk istirahat sampai Subuh tiba. Kami dimintai KTP yang akan dikembalikan sebelum pulang nanti.

Merinding dan terharu sekali saya. Jamaah Subuh memenuhi masjid. Ruangan ikhwan dan akhwat penuh. Lelaki dan perempuan, tua-muda bahkan anak-anak berbaris dalam shaf yang rapi. Disediakan kursi untuk para lansia yang tidak kuat berdiri. Ya, di depanku persis seorang nenek salat menggunakan kursi. Duh.... Malu sekali saya, pasalnya jarang Subuh berjamaah di masjid.

, Makmurnya Ditentukan Mulai dari Jamaah Subuh
Halaman depan masjid


Usai salam, dilanjutkan dengan Majelis Subuh. Mendengarkan ceramah Ustadz tentang Umat Terbaik yang kelak akan dikenali oleh Nabi kelak di hari Kiamat.

Menjelang Syuruq majelis Subuh berakhit. Beberapa orang pulang, sebagian masih melanjutkan kajian. Ibu-ibu kajian tahsin. Bahkan ada seorang ibu yang setiap hari tidur di masjid. Datang tengah malam, pulang selepas pengajian. Masya Allah.

Ternyata sih masjid ini tidak begitu jauh dari rumah saudara di Jl. Parangtritis. Kami pun pulang... (*)
23.32

Pelajaran Penting dalam Film Kim Ji-Young yang Harus Perempuan Tahu

by , in



Hal pertama yang menarik dari Kim Ji Young Born 1982 adalah tentu saja karena pemeran utamanya Gong Yoo. Lama sekali dia nggak main film setelah berubah jadi zombie di Train to Busan lalu menitis sebagai Kim Shin alias Goblin. Sempat kesal karena sebelumnya nonton film "A Man and A Woman". Dia berperan sebagai suami yang punya istri depresi, lalu dia selingkuh. Gong Yoo, dikau tidak cocok jadi tukang selingkuh.

Di film Kim Ji Young, dia juga berperan sebagai suami yang istrinya menderita depresi. Pertanyaannya adalah: Kenapa setiap yang jadi istrinya itu jadi depresi? Hidup sama dia mungkin menyebalkan. Haha... Bedanya sih di film ini dia perhatian banget ke istrinya Kim Ji Young (diperankan oleh Jung Yu-mi) bahkan Dae Hyeon (Gong Yoo) yang inisiatif mendatangi psikiater dan menyuruh istrinya mendatangi psikiater juga.



Sekilas dari luar Kim Ji Young tampak normal. Tapi depresi post-partum itu memang nyata adanya kan? Bahkan dalam tingkat yang paling rendah sekalipun, mungkin sebagai perempuan kita pernah mengalaminya. Kim Ji Young tidak pernah menyakiti suami dan anaknya saat depresi itu kambuh. Dia hanya tampak seperti orang lain. Terkadang bersikap seperti ibunya, neneknya, bahkan sebagai kakak dan temannya. Bingung banget kan suaminya. Sampai mertua dan keluarga Ji-young juga heran.

Hal kedua adalah judulnya Kim Ji Young Born 1982. Kenapa pakai judul angka sih? Ternyata, ini menjadi plot penting yang menjadi antiklimaks bahkan pas di endingnya. Saya nggak akan spoiler kok tenang saja. Hehe.

Peran Berat Sebagai Istri dan Ibu


Pernahkah Mak, dikau merasa kehilangan dirimu? Eksis di rumah, jadi istri dan ibu tapi dirimu yang sebenarnya itu lenyap. Berubah menjadi "ibu" yang melakukan rutinitas dari pagi ke pagi selama 7 hari sepekan, berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus saja berulang. Suami dan anak memanggilmu "ibu" tapi dikau tidak tahu "apa yang aku inginkan? Apa yang aku cita-citakan? Apa yang menjadi passion dalam hidupku." Kalau pernah, ya kita sama. Secara otomatis kita jadi "orang lain". Mungkin suami pun begitu. Dia berubah jadi suami dan ayah. Padahal sebelum menikah dia juga punya hobi dan teman-teman. Hanya, mungkin depresinya berkurang karena dia bekerja di luar rumah. Bertemu banyak orang. Kalau ibu?



Film yang diangkat dari novel ini kontroversial di negaranya. Katanya karena mengangkat tema feminis. Yah, memang  ada beberapa tokoh yang digambarkan sangat strong dan mungkin mengarah ke feminis. Mereka jadi wanita karier, tidak menikah dan ada yang tetap menikah tapi sering dibully karena dia adalah ibu yang bekerja di sektor publik. Tapi bukan itu poin utama film ini.

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan saat ini memang semakin meningkat. Kaum perempuan yang dulu bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga biasa, sekarang banyak yang melakukan pekerjaan pria. Mereka bekerja di sektor publik, bahkan sebagian perempuan di sana mulai enggan menikah sehingga angka kelahiran pun menurun. Kalau kita perhatikan di setiap drama, seringkali diperlihatkan kehidupan yang serba bebas. Seks di luar nikah, kumpul kebo, itu jadi hal yang biasa di sana. Emansipasi wanita? Kesetaraan gender?

Miris sebenarnya, tapi bukankah fenomena ini ada juga di negara kita? Kaum feminis menginginkan posisi yang setara antara pria dan wanita. Ingin pula mengambil alih pekerjaan pria. Tidak jarang makanya kita temui, perempuan menjadi sopir bus, ojek, dll. Entah karena alasan yang berbeda-beda, perempuan ingin dipandang sama dengan kaum lelaki.

Pelajaran Penting dalam Film Kim Ji-Young yang Harus Perempuan Tahu



Maaf, tulisan ini bukan kampanye feminisme. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa apa yang dialami Kim Ji Young sangat mungkin dialami pula oleh kita. Perempuan muda, menikah, punya anak. Apa yang terjadi jika perempuan hanya bermodal harapan akan indahnya pernikahan? Dia akan terpuruk. Sebab pernikahan tidak akan seindah dongeng. Tanyakan pada mereka yang usia pernikahannya 10, 20 atau 30 tahun. Berapa liter air mata tertumpah selama menjalani peran sebagai istri dan ibu? Bukan berarti rumah tangga itu semenyeramkan penjara bawah tanah. Tapi realita.

Kalau pacaran hanya modal, "ayang bebeb". Maka menikah itu modalnya "duit." Realistis kan? Coba aja kalau si suami nggak kerja karena hanya modal "aylapnyu" yakin itu istri bisa bertahan? Tentu istri akan ambil-alih peran bekerja mencari nafkah atau langkah esktremnya adalah cerai. Betapa banyak kasus perceraian karena alasan "suami tidak menjalankan kewajibannya memberi nafkah".

Ada banyak faktor istri bekerja di sektor publik. Entah karena ingin tetap eksis, alasan ekonomi, atau ambisi.

Balik lagi ke pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini, bahwa meskipun kita sudah menikah... Jangan pernah kehilangan jati dirimu! Jangan tinggalkan dirimu sendirian dalam kenangan atau kau akan mengalami depresi. Berdamai dengan diri sendiri.
"Ya memang aku sekarang sibuk mengurus suami dan anak. Waktuku tidak terlalu banyak untuk menjalani kesenanganku sendiri. Tetapi sesekali aku harus melakukan hobiku. Karena hobi akan menjadikan kita tetap waras dan bahagia."

Dan profesi yang rawan depresi itu memang sebagai ibu rumah tangga. 7 hari sepekan, sepanjang tahun tanpa cuti, tanpa gaji, tanpa hari libur. Tapi masih dinyinyirin gara-gara beli lipstik pakai uang suami. Padahal kan suami sendiri juga, bukan suami orang!

Kok, ibu-ibu jaman dulu nggak ada yang depresi? Eeeh jangan salah. Seandainya zaman itu sudah musim gadget bisa jadi curhatannya akan lebih cetar. Zaman sekarang lebih baik, ilmu bisa didapat dengan mudah. Zaman dulu, kalau ada tanda-tanda depresi, seseorang langsung dicap gila, gendeng, stress lalu dipasung supaya tidak berkeliaran. Kalau sekarang pakai istilah depresi post-partum atau bahasa lainnya, baby blues.

Apa hobimu? Apa cita-citamu? Jaga terus, rawat terus. Jangan sampai menghabiskan seluruh waktu untuk rumah tapi dengan keluhan, "aku tidak bisa jadi ini dan itu gara-gara sibuk mengurus suami dan anak."

Jangan begitu... Jangan pernah salahkan suami atau anak. Jangan pernah jadikan mereka sebagai alasan ketidakproduktifanmu.. Kau sibuk it's okay... Tapi itu bukan salah keluargamu! Mungkin kita yang belum pandai mengatur waktu, tapi ingat jangan salahkan siapa-siapa. Berdamailah dengan diri sendiri. Kalau pun tidak bisa mengerjakan hobi atau relaksasi yang istilahnya "me time" itu, ya karena KITA yang belum meluangkan waktu. Jadikan kita sebagai subjek. Jangan salahkan suami atau anak, sebab itu namanya playing victim.

Oya jadi kepikiran kenapa ibu-ibu zaman dulu cenderung lebih sehat? Ya karena mereka tidak punya gadget jadi waktu luangnya untuk ketemu tetangga, kendurian, arisan, ngobrol lansung dengan manusia. Bukan nyinyirin postingan teman. Mereka juga menjalani hobi seperti merajut, menyulam, membuat kerajinan tangan, atau bekerja membantu suami. Entah di sawah, berdagang di pasar, atau menjahit.

Percayalah, meski kita bangga dan bahagia menjadi istri dan ibu, kita akan jauh lebih waras dan bahagia kalau tetap menjadi diri sendiri juga. Hobi, passion, cita-cita. Tiga hal itulah yang akan menjadi penyeimbang dalam sebuah hubungan.

Maka hal sebaliknya juga berlaku. Kalau suami sesekali main futsal, main game, mabar, kumpul dengan teman-temannya, kita harus dukung. Sebab yang perlu kewarasan bukan hanya kita, suami juga. Memangnya suami nggak rawan stress kalau setiap hari menghadapi kita yang suka ngomel-ngomel, manja, ingin dimengerti, dan bla bla bla lainnya? (*)
15.25

5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memutuskan Untuk Trip ke Baduy

by , in
5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memutuskan Untuk Trip ke Baduy
Pintu Masuk Baduy via Ciboleger


Saat ini ada banyak sekali postingan di sosial media tentang tempat wisata dan mereka menawarkan jasa Open Trip. Salah satunya wisata ke Baduy. Penting untuk diketahui sebelum kita salah memilih destinasi berkunjung. Sebab jika melihat postingan banyak orang sih Baduy itu indah banget gaes. Sebuah desa yang asri, nyaman dan penduduknya masih memegang erat tradisi leluhur. Nah, sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk jalan-jalan ke Baduy, ada baiknya simak dulu nih beberapa tips ala emakbaper.