Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
23.32

Pelajaran Penting dalam Film Kim Ji-Young yang Harus Perempuan Tahu

by , in



Hal pertama yang menarik dari Kim Ji Young Born 1982 adalah tentu saja karena pemeran utamanya Gong Yoo. Lama sekali dia nggak main film setelah berubah jadi zombie di Train to Busan lalu menitis sebagai Kim Shin alias Goblin. Sempat kesal karena sebelumnya nonton film "A Man and A Woman". Dia berperan sebagai suami yang punya istri depresi, lalu dia selingkuh. Gong Yoo, dikau tidak cocok jadi tukang selingkuh.

Di film Kim Ji Young, dia juga berperan sebagai suami yang istrinya menderita depresi. Pertanyaannya adalah: Kenapa setiap yang jadi istrinya itu jadi depresi? Hidup sama dia mungkin menyebalkan. Haha... Bedanya sih di film ini dia perhatian banget ke istrinya Kim Ji Young (diperankan oleh Jung Yu-mi) bahkan Dae Hyeon (Gong Yoo) yang inisiatif mendatangi psikiater dan menyuruh istrinya mendatangi psikiater juga.



Sekilas dari luar Kim Ji Young tampak normal. Tapi depresi post-partum itu memang nyata adanya kan? Bahkan dalam tingkat yang paling rendah sekalipun, mungkin sebagai perempuan kita pernah mengalaminya. Kim Ji Young tidak pernah menyakiti suami dan anaknya saat depresi itu kambuh. Dia hanya tampak seperti orang lain. Terkadang bersikap seperti ibunya, neneknya, bahkan sebagai kakak dan temannya. Bingung banget kan suaminya. Sampai mertua dan keluarga Ji-young juga heran.

Hal kedua adalah judulnya Kim Ji Young Born 1982. Kenapa pakai judul angka sih? Ternyata, ini menjadi plot penting yang menjadi antiklimaks bahkan pas di endingnya. Saya nggak akan spoiler kok tenang saja. Hehe.

Peran Berat Sebagai Istri dan Ibu


Pernahkah Mak, dikau merasa kehilangan dirimu? Eksis di rumah, jadi istri dan ibu tapi dirimu yang sebenarnya itu lenyap. Berubah menjadi "ibu" yang melakukan rutinitas dari pagi ke pagi selama 7 hari sepekan, berbulan-bulan dan bertahun-tahun terus saja berulang. Suami dan anak memanggilmu "ibu" tapi dikau tidak tahu "apa yang aku inginkan? Apa yang aku cita-citakan? Apa yang menjadi passion dalam hidupku." Kalau pernah, ya kita sama. Secara otomatis kita jadi "orang lain". Mungkin suami pun begitu. Dia berubah jadi suami dan ayah. Padahal sebelum menikah dia juga punya hobi dan teman-teman. Hanya, mungkin depresinya berkurang karena dia bekerja di luar rumah. Bertemu banyak orang. Kalau ibu?



Film yang diangkat dari novel ini kontroversial di negaranya. Katanya karena mengangkat tema feminis. Yah, memang  ada beberapa tokoh yang digambarkan sangat strong dan mungkin mengarah ke feminis. Mereka jadi wanita karier, tidak menikah dan ada yang tetap menikah tapi sering dibully karena dia adalah ibu yang bekerja di sektor publik. Tapi bukan itu poin utama film ini.

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan saat ini memang semakin meningkat. Kaum perempuan yang dulu bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga biasa, sekarang banyak yang melakukan pekerjaan pria. Mereka bekerja di sektor publik, bahkan sebagian perempuan di sana mulai enggan menikah sehingga angka kelahiran pun menurun. Kalau kita perhatikan di setiap drama, seringkali diperlihatkan kehidupan yang serba bebas. Seks di luar nikah, kumpul kebo, itu jadi hal yang biasa di sana. Emansipasi wanita? Kesetaraan gender?

Miris sebenarnya, tapi bukankah fenomena ini ada juga di negara kita? Kaum feminis menginginkan posisi yang setara antara pria dan wanita. Ingin pula mengambil alih pekerjaan pria. Tidak jarang makanya kita temui, perempuan menjadi sopir bus, ojek, dll. Entah karena alasan yang berbeda-beda, perempuan ingin dipandang sama dengan kaum lelaki.

Pelajaran Penting dalam Film Kim Ji-Young yang Harus Perempuan Tahu



Maaf, tulisan ini bukan kampanye feminisme. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa apa yang dialami Kim Ji Young sangat mungkin dialami pula oleh kita. Perempuan muda, menikah, punya anak. Apa yang terjadi jika perempuan hanya bermodal harapan akan indahnya pernikahan? Dia akan terpuruk. Sebab pernikahan tidak akan seindah dongeng. Tanyakan pada mereka yang usia pernikahannya 10, 20 atau 30 tahun. Berapa liter air mata tertumpah selama menjalani peran sebagai istri dan ibu? Bukan berarti rumah tangga itu semenyeramkan penjara bawah tanah. Tapi realita.

Kalau pacaran hanya modal, "ayang bebeb". Maka menikah itu modalnya "duit." Realistis kan? Coba aja kalau si suami nggak kerja karena hanya modal "aylapnyu" yakin itu istri bisa bertahan? Tentu istri akan ambil-alih peran bekerja mencari nafkah atau langkah esktremnya adalah cerai. Betapa banyak kasus perceraian karena alasan "suami tidak menjalankan kewajibannya memberi nafkah".

Ada banyak faktor istri bekerja di sektor publik. Entah karena ingin tetap eksis, alasan ekonomi, atau ambisi.

Balik lagi ke pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini, bahwa meskipun kita sudah menikah... Jangan pernah kehilangan jati dirimu! Jangan tinggalkan dirimu sendirian dalam kenangan atau kau akan mengalami depresi. Berdamai dengan diri sendiri.
"Ya memang aku sekarang sibuk mengurus suami dan anak. Waktuku tidak terlalu banyak untuk menjalani kesenanganku sendiri. Tetapi sesekali aku harus melakukan hobiku. Karena hobi akan menjadikan kita tetap waras dan bahagia."

Dan profesi yang rawan depresi itu memang sebagai ibu rumah tangga. 7 hari sepekan, sepanjang tahun tanpa cuti, tanpa gaji, tanpa hari libur. Tapi masih dinyinyirin gara-gara beli lipstik pakai uang suami. Padahal kan suami sendiri juga, bukan suami orang!

Kok, ibu-ibu jaman dulu nggak ada yang depresi? Eeeh jangan salah. Seandainya zaman itu sudah musim gadget bisa jadi curhatannya akan lebih cetar. Zaman sekarang lebih baik, ilmu bisa didapat dengan mudah. Zaman dulu, kalau ada tanda-tanda depresi, seseorang langsung dicap gila, gendeng, stress lalu dipasung supaya tidak berkeliaran. Kalau sekarang pakai istilah depresi post-partum atau bahasa lainnya, baby blues.

Apa hobimu? Apa cita-citamu? Jaga terus, rawat terus. Jangan sampai menghabiskan seluruh waktu untuk rumah tapi dengan keluhan, "aku tidak bisa jadi ini dan itu gara-gara sibuk mengurus suami dan anak."

Jangan begitu... Jangan pernah salahkan suami atau anak. Jangan pernah jadikan mereka sebagai alasan ketidakproduktifanmu.. Kau sibuk it's okay... Tapi itu bukan salah keluargamu! Mungkin kita yang belum pandai mengatur waktu, tapi ingat jangan salahkan siapa-siapa. Berdamailah dengan diri sendiri. Kalau pun tidak bisa mengerjakan hobi atau relaksasi yang istilahnya "me time" itu, ya karena KITA yang belum meluangkan waktu. Jadikan kita sebagai subjek. Jangan salahkan suami atau anak, sebab itu namanya playing victim.

Oya jadi kepikiran kenapa ibu-ibu zaman dulu cenderung lebih sehat? Ya karena mereka tidak punya gadget jadi waktu luangnya untuk ketemu tetangga, kendurian, arisan, ngobrol lansung dengan manusia. Bukan nyinyirin postingan teman. Mereka juga menjalani hobi seperti merajut, menyulam, membuat kerajinan tangan, atau bekerja membantu suami. Entah di sawah, berdagang di pasar, atau menjahit.

Percayalah, meski kita bangga dan bahagia menjadi istri dan ibu, kita akan jauh lebih waras dan bahagia kalau tetap menjadi diri sendiri juga. Hobi, passion, cita-cita. Tiga hal itulah yang akan menjadi penyeimbang dalam sebuah hubungan.

Maka hal sebaliknya juga berlaku. Kalau suami sesekali main futsal, main game, mabar, kumpul dengan teman-temannya, kita harus dukung. Sebab yang perlu kewarasan bukan hanya kita, suami juga. Memangnya suami nggak rawan stress kalau setiap hari menghadapi kita yang suka ngomel-ngomel, manja, ingin dimengerti, dan bla bla bla lainnya? (*)
20.56

Keguguran: Momen Sakral Antara Aku dan Calon Bayiku

by , in


Keguguran. Kehilangan. Sedih. Sakit. Pasrah. Bermacam-macam kata menggambarkan satu momen dalam hidupku. Tidak pernah terbayangkan merasakan hal ini. Kehamilan keempat, usia dua bulan. Gugur dalam waktu sepuluh hari.

Terkadang kalau aku mengingat lagi momen dua garis di pagi hari itu, ada kebahagiaan tersendiri. Meskipun sudah tiga kali melahirkan, tetap saja kehamilan ini istimewa.

Berharap yang keempat ini perempuan. Akan tetapi, Allah menakdirkan lain. Diambil-Nya amanah ini. Aku hanya sempat merasakan delapan minggu mengandungnya. Tanpa mual, tanpa gejala morning sickness maupun ngidam. Justru ini berbahaya.

Ngidam, mual dan sakit macam-macam saat hamil itu anugerah lho. Sebab itu pertanda kehamilan kita baik-baik saja. Yang aku rasakan seringnya sakit kepala dan kram di bagian rahim. Tanpa curiga sedikit pun, karena aku selalu setrong pada tiga kehamilan sebelumnya. Aku berkegiatan seperti biasa. Ngajar, mengurus rumah dan tiga anak. Study tour selama sepekan ke Solo. Jalan-jalan ke Islamic Book Fair Jakarta. Juga menghadiri acara Milad FLP. Tiga rangkaian acara besarku saat itu.

Namun, sebagai emak pecicilan akhirnya aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tidaklah sama antara kandungan sebelumnya dengan sekarang.

Pada hari Sabtu, keluarlah flek berwarna coklat itu. Aku masih sempat ke pasar untuk belanja perabotan kebutuhan dapur pesantren. Ternyata besoknya yang keluar adalah darah! Aku pun masih mengikuti Beauty Class di Cilegon bersama teman-teman Ibu Profesional.

Baiklah, baru pada hari ketiga aku tirah baring. Tidak melakukan apa-apa. Mencuci pakaian, mencuci piring, beres-beres rumah, dan mengurus anak semuanya dikerjakan suami. Selama sepekan aku merasakan kram perut disertai pendarahan terus-menerus. Seperti orang haid yang lagi banjir-banjirnya. Ini, kalau dibawa ke Rumah Sakit pasti langsung dikuret untuk menghentikan pendarahan. Akan tetapi aku hanya ke Klinik dan setelah USG aku dinyatakan BO (Blighted Ovum) atau janin tidak berkembang.

Selama tirah baring itu aku terus berdoa dan berharap semoga janin ini masih kuat bertahan. Akan tetapi, takdir adalah hak Allah Yang Maha Kuasa. Harapanku tidak pupus, tetapi sekarang menjadi lebih legowo. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi. Jika memang aku belum ditakdirkan punya anak keempat, silakan ya Allah... Silakan Engkau ambil kembali janin ini.

Pada hari kesepuluh saat ke kamar mandi, keluarlah gumpalan-gumpalan darah seperti hati ayam. Sepanjang hari terus keluar seperti mengeluarkan segala yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Keluar pulalah darah berbentuk seperti bayi kecil, yang bila disentuh ia pecah menjadi darah. Rupanya inikah proses "segumpal darah" itu? Sudah mirip bayi, tapi masih darah. Hatiku seperti hancur bersamaan dengan hancurnya darah berbentuk bayi itu. Tangisku lindap di kamar mandi. Menangis seorang diri. Entah mengapa aku tidak ingin menunjukkan pada suamiku betapa sedihnya diriku saat itu. Kuresapi kepedihan dan sakit hati sendirian. Ini adalah momen antara aku dan calon bayiku.

Setelah itu sakit kram di perutku hilang. Tidak lagi ku rasakan segala pedih di dalam rahim. Yang tinggal hanyalah kesedihan. Kembali aku bisa berjalan, meski masih kliyengan. Aktif lagi mengurus rumah dan anak-anak.

Kembali ke Puskesmas lagi untuk minta obat pembersih rahim. Minum air kelapa muda. Aku tidak berani menjalani kuretase. Tidak. Tidak akan sanggup meski teman-teman menyarankan demikian. Bismillah Tawakkaltu 'alallah...

Tidak lama setelah itu haidku lancar kembali. Orang bilang kalau setelah keguguran akan cepat hamil lagi. Ini sudah enam bulan dan siklus haid masih lancar. Aku tidak lagi berharap. Sekarang semuanya terserah Engkau saja ya Rabbi.....

Dikaruniai tiga anak lelaki sudah cukup membahagiakan. Yang sudah ada inilah yang harus selalu disyukuri. Sedangkan yang hilang, sudah aku ikhlaskan. Tidak ada lagi kesedihan saat menceritakannya kepada siapa saja. Memang belum waktunya. Syukur baru dua bulan. Syukur tidak sampai kuret. Syukur yang tiga ini sehat senantiasa. Syukur suami selalu siaga. Maka nikmat Tuhanku yang manakah yang akan aku dustakan?(*)
18.10

Inspirasi | Anak Penjual Es Cendol Jadi Hafidzoh dan Kuliah di Madinah

by , in
sumber foto: Google. Foto hanya ilustrasi

 

Siang, panas terik, enaknya minum es biar seger. Kebetulan di jalan ada penjual es cincau keliling. Jadi kami mampir beli. Ada hal yang tak terduga pada diri penjual es tersebut. Terlihat sederhana, ternyata menyimpan cerita yang menurut saya luar biasa.

Dalam rangka menunggu es cincau ready dibungkus, kami ngobrol ringan dengan penjualnya. Aslinya mana, sudah berapa tahun di Serang dll. Hal biasa awalnya, tapi kemudian membuat saya terharu.

Bapak penjual es cincau keliling, Pak Wawan ini sudah sepuluh tahun merantau ke Serang, aslinya Tasik. Mudik setahun sekali, sedangkan istrinya merantau di Jakarta. Wah, jarang banget dong ketemunya ya? Saya tidak bertanya apa pekerjaan istrinya di Jakarta. Namun yang diceritakan kemudian adalah anak-anaknya.

Umumnya ngobrol, teman bicara akan balik bertanya. Setelah Pak Wawan tahu bahwa kami tinggal di Pesantren Salsabila, nyambunglah cerita tentang anak perempuannya yang baru saja lulus pesantren Tahfidz di Bandung (saya lupa nama pesantrennya). Setahun pengabdian di pesantren, lalu dilamar orang. Dalam kondisi anaknya yang belum dapat kerja itulah pernikahan itu terjadi dan kini ikut suaminya di Bekasi. Dalam hati saya menggumam, "Jarang-jarang lho orang tua yang mengikhlaskan anaknya menikah di usia muda, saat masih banyak orang tua yang menggadang-gadang anaknya bisa kerja selepas sekolah atau kuliah."

"Iya saya baru mudik untuk menjadi wali nikah anak saya. Kakaknya juga datang dari Madinah buat menghadiri (pernikahan adiknya, yang tentu saja anak sulung Pak Wawan)" papar beliau.

"Di Madinah Pak? Kerja, ngajar atau kuliah?" tanya saya.

"Kuliah, baru tahun pertama. Tadinya kuliah di Sudan tapi nggak betah."

WAH! Pak Wawan dengan cara bicaranya yang sederhana, membicarakan perpindahan dari Sudan ke Madinah seperti membicarakan perpindahan dari Ciracas ke Cikulur aja. Sungguh saya salut sama beliau. Nggak gampang lho bisa kuliah di Madinah, entah dengan cara beasiswa atau mandiri tetap saja kuliah di Madinah adalah sesuatu yang MEWAH! Nggak semua orang bisa ke sana kan? Ditambah lagi, anak perempuannya hafidzoh! Kalau bapak ibunya ustadz, kyai atau ulama, wajarlah yaaa kalau anak-anaknya menempuh pendidikan yang tak beda dengan latar belakang keluarganya. Maka tidak terlalu aneh kalau Bapaknya Ustadz, anaknya ya Ustadz juga. Sebagaimana tidak aneh, bapak ibunya artis, ya anaknya ngikut jadi artis. Bapak ibunya penulis, anak-anaknya jadi penulis juga.

Namun, Pak Wawan merantau sejak anak pertamanya masih SD! Pulang setahun sekali, dan istrinya merantau juga. Kebayang nggak sih, kita yang membersamai anak 24 jam saja kadang masih merasa susah mendidik anak. Ini jarang ketemu?

Seakan memahami rasa penasaran kami tentang tips mendidik anak sampai sebegitunya, Pak Wawan berkata lagi dengan gaya bicaranya yang humble khas orang Sunda, "Saya mah pakai sistem gembala."

"Maksudnya gimana Pak?"

"Ya gembala, lepasin aja anak-anak itu. Kalau mulai jauh dan masuk pagar orang, kita tarik. Kalau perlu kita getok. Tapi prinsipnya sih bebas mau milih apa aja, kita dukung. Yang penting tetap dalam batas-batas."

Saya jadi merasa jleb! Kadang sebagai orangtua kan kita pengen anak jadi begini, jadi begitu. Bisa ini bisa itu. Sebab itulah ramai les calistung padahal anak masih balita. Masuk SD di bawah usia tujuh tahun. Anak diikutkan berbagai macam les, semata mengejar nilai akademik? Namun, terkaget-kaget kemudian jika anak itu stress tapi menampakkan gejala yang menjengjkelkan misalnya berbuat hal-hal yang dilarang agama. Mungkin ada yang terlupa. Mengajari anak, tapi tidak mendidiknya. Kita lihat, ada siswa SD yang frustasi karena sistem zonasi lalu dia membakar semua piagam prestasinya. Ya begitulah jika ilmu hanya ditandai dengan selembar piagam dan deretan angka di ijazah atau raport.

Kadang ada orang tua yang kecewa karena anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Kok hafalan kamu nggak nambah-nambah sih? Lihat si Fulanah, dia sudah masuk 10 juz lho."
"Kok nilai Matematika kamu selalu jelek sih? Belajar yang rajin dong."
"Kamu kalau nggak mau belajar nanti masa depan kamu suram lho."

Berbagai macam ucapan yang sebenarnya pasti bertujuan memotivasi, tapi caranya ibarat memberi makan nasi rendang, dengan ditambahi belatung. Kan yang diingat pasti belatungnya, bukan rendangnya.

Kesimpulan saya setelah berbincang dengan Pak Wawan, adalah jangan pernah lupa mendoakan anak-anak. Justru dari ucapan beliau, tersimpan kepasrahan luar biasa pada Allah. Menyerahkan semuanya pada Allah. Terserah Engkau saja ya Allah, aku ikhlas menerima apapun takdir-Mu. Maka meski jauh dari keluarga, tak pernah lupa doa-doa itu dipanjatkan. Meski sama-sama merantau tapi bisa kompak mendidik anak. Tentu ini perlu perjuangan keras yang tak semua orang mampu menjalaninya.

Namun tetap saja, kondisi semua keluarga itu berbeda-beda. Semestinya dalam segala kondisi, tetap bersyukur. Ujian tiap keluarga itu beda-beda, tak bisa dipukul rata. Tak ada salahnya juga kita memetakan jalan untuk kesuksesan anak, yang salah itu adalah memaksakan kehendak. Kita membantu anak supaya sukses itu bagus, sebab tugas orang tua adalah mempersiapkan anak-anaknya supaya kuat menjalani hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri tanpa bermanja pada fasilitas yang orang tua berikan. Yang terpenting kita tidak boleh lupa bahwa Allah yang Maha Berkehendak. Kita bisa berusaha dan berharap, tapi hasilnya pasrahkan pada Allah. Anak mau jadi dokter, ilmuwan, penulis, hafidz hafidzoh, dukung penuh! Asalkan tidak melenceng dari jalan Allah...

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 44)


Zaman memang sudah berubah, berjalan ke arah yang tidak bisa kita prediksikan. Pada satu sisi, begitu mengerikan dengan beragam fitnah akhir zaman, tapi pada sisi lainnya kita dituntut untuk bisa mendidik anak dengan baik. Tetaplah berpegang teguh pada ajaran Islam, jaga keluarga kita dari api neraka dan jangan pernah putus mendoakan mereka. Semoga Allah memudahkan jalan kita dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. 


20.43

Tragedi Tai Kucing

by , in

Tengah malam tadi, pukul satu, tiba-tiba Abang bangunin. Kirain mah yaaa abis beli martabak gitu, gak tahunya,

"Ummu bangun... Bersihin kasur kena tai kucing tuh. Kucingnya mencret."

Namanya saya lagi tidur, apalagi jam-jam segitu pas pulas-pulasnya. Males banget rasanya. Tapi Abang terus memanggil, tampaknya dia tidak bisa mengatasi masalah ini sebab katanya, kotoran kucing itu mengenai kepala Thoriq.

Gagaplah saya bangun, bingung gimana-gimananya. Jadi, langkah pertama adalah membersihkan Thoriq. Suruh dia mandi. Bayangin aja pukul satu dini hari, dia mandi keramas berkali-kali agar kotoran kucing itu hilang. Sementara saya membersihkan sisanya di kasur.

Kemudian, setelah semua beres, kami berbaring berjejer. Sambil merasakan udara yang membawa aroma tai kucing. Kok, baunya gak ilang-ilang sih? Rupanya, memang kepala Thoriq tetap bau. Pake banget. Tapi kan nggak mungkin nyuruh dia mandi kembang tengah malam, nanti ditegur sama Bang Caca Handika. Menjelang pukul tiga kami terlelap lagi dan bangun saat sahur.

Sebelum berangkat sekolah, Thoriq mandi sendiri. Ufh! Masih bau nih rambut. Jadi saya bersihkan ulang, pakai sabun colek warna ungu, shampo dan kondisioner malah. Hasilnya? Tetap bau!

Karena itu, gantian Abang yang memandikannya. Entah pakai sabun apa lagi. Dan setelahnya, masya Allah baunya begitu lengkeeeet gak mau ilang. Terpaksa langkah pamungkas dikeluarkan, yaitu mencukur rambut Thoriq. Sekalian, nyobain pencukur rambut baru.

Ulalaaa rupanya Abang mencukur terlalu pendek, ditambah Thoriqnya gak mau diem. Jadi deh pitak-pitak gitu kepalanya. Sebagai anak lelaki yang penentu ketampanannya adalah rambut, dia malu kalau rambutnya tampak cepak. Jadi hari ini dia mogok sekolah. Sekarang dia tidur, mungkin ngantuk dan lelah karena sudah bangun tengah malam.

Kasihan sih, tapi lucu. Aneh-aneh aja itu tragedi tai kucing! Pesan moral bagi Anda yang bukan pecinta kucing, jangan biarkan kucing tidur di kasur Anda. Sebab, kalau kucing mau BAB, dia nggak mungkin membangunkan Anda lalu berkata, "Om, Tante, Mpuss mau boker, miaaaaawww. Anterin ke WC dong, miaaaawww.". Kalau kucing keluar rumah, mau BAB tinggal gali sedikit tanah lalu timbun lagi harta karunnya yang beraroma sangat khas itu. Sekian kisah tragedi ini semoga tidak terulang lagi ya Allah... Sedih saya tuh. Hikss....

(*)
08.08

Romantis dan Kasih Sayang Suami Istri

by , in

www.emakbaper.blog, Saya sedang mencuci labu siam ketika suami pulang dari masjid Ashar ini dan menghampiri saya.

“Sini, Abah mau ngomong. Serius!” Wajahnya tumben gak ada senyum. Bener-bener seriuskah?

Aku digandengnya, mau diajak bicara berdua.
“Di sini aja, di kamar ada anak-anak.” Katanya sambil duduk di ruang tengah. Aku pun ikut duduk di depannya.

“Ya, mau ngomong apa?” Tanyaku sambil masih menggerakkan tangan. Dia menyuruhku diam, jangan melakukan gerakan apapun. Karena ini serius sekali.