• Home
  • Kuliner
  • Pernikahan
  • Review Drama Korea
  • Travelling

Diary Emak Baper

Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
20.56

Keguguran: Momen Sakral Antara Aku dan Calon Bayiku

by Yuni Astuti, in Pernikahan
New


Keguguran. Kehilangan. Sedih. Sakit. Pasrah. Bermacam-macam kata menggambarkan satu momen dalam hidupku. Tidak pernah terbayangkan merasakan hal ini. Kehamilan keempat, usia dua bulan. Gugur dalam waktu sepuluh hari.

Terkadang kalau aku mengingat lagi momen dua garis di pagi hari itu, ada kebahagiaan tersendiri. Meskipun sudah tiga kali melahirkan, tetap saja kehamilan ini istimewa.

Berharap yang keempat ini perempuan. Akan tetapi, Allah menakdirkan lain. Diambil-Nya amanah ini. Aku hanya sempat merasakan delapan minggu mengandungnya. Tanpa mual, tanpa gejala morning sickness maupun ngidam. Justru ini berbahaya.

Ngidam, mual dan sakit macam-macam saat hamil itu anugerah lho. Sebab itu pertanda kehamilan kita baik-baik saja. Yang aku rasakan seringnya sakit kepala dan kram di bagian rahim. Tanpa curiga sedikit pun, karena aku selalu setrong pada tiga kehamilan sebelumnya. Aku berkegiatan seperti biasa. Ngajar, mengurus rumah dan tiga anak. Study tour selama sepekan ke Solo. Jalan-jalan ke Islamic Book Fair Jakarta. Juga menghadiri acara Milad FLP. Tiga rangkaian acara besarku saat itu.

Namun, sebagai emak pecicilan akhirnya aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tidaklah sama antara kandungan sebelumnya dengan sekarang.

Pada hari Sabtu, keluarlah flek berwarna coklat itu. Aku masih sempat ke pasar untuk belanja perabotan kebutuhan dapur pesantren. Ternyata besoknya yang keluar adalah darah! Aku pun masih mengikuti Beauty Class di Cilegon bersama teman-teman Ibu Profesional.

Baiklah, baru pada hari ketiga aku tirah baring. Tidak melakukan apa-apa. Mencuci pakaian, mencuci piring, beres-beres rumah, dan mengurus anak semuanya dikerjakan suami. Selama sepekan aku merasakan kram perut disertai pendarahan terus-menerus. Seperti orang haid yang lagi banjir-banjirnya. Ini, kalau dibawa ke Rumah Sakit pasti langsung dikuret untuk menghentikan pendarahan. Akan tetapi aku hanya ke Klinik dan setelah USG aku dinyatakan BO (Blighted Ovum) atau janin tidak berkembang.

Selama tirah baring itu aku terus berdoa dan berharap semoga janin ini masih kuat bertahan. Akan tetapi, takdir adalah hak Allah Yang Maha Kuasa. Harapanku tidak pupus, tetapi sekarang menjadi lebih legowo. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi. Jika memang aku belum ditakdirkan punya anak keempat, silakan ya Allah... Silakan Engkau ambil kembali janin ini.

Pada hari kesepuluh saat ke kamar mandi, keluarlah gumpalan-gumpalan darah seperti hati ayam. Sepanjang hari terus keluar seperti mengeluarkan segala yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Keluar pulalah darah berbentuk seperti bayi kecil, yang bila disentuh ia pecah menjadi darah. Rupanya inikah proses "segumpal darah" itu? Sudah mirip bayi, tapi masih darah. Hatiku seperti hancur bersamaan dengan hancurnya darah berbentuk bayi itu. Tangisku lindap di kamar mandi. Menangis seorang diri. Entah mengapa aku tidak ingin menunjukkan pada suamiku betapa sedihnya diriku saat itu. Kuresapi kepedihan dan sakit hati sendirian. Ini adalah momen antara aku dan calon bayiku.

Setelah itu sakit kram di perutku hilang. Tidak lagi ku rasakan segala pedih di dalam rahim. Yang tinggal hanyalah kesedihan. Kembali aku bisa berjalan, meski masih kliyengan. Aktif lagi mengurus rumah dan anak-anak.

Kembali ke Puskesmas lagi untuk minta obat pembersih rahim. Minum air kelapa muda. Aku tidak berani menjalani kuretase. Tidak. Tidak akan sanggup meski teman-teman menyarankan demikian. Bismillah Tawakkaltu 'alallah...

Tidak lama setelah itu haidku lancar kembali. Orang bilang kalau setelah keguguran akan cepat hamil lagi. Ini sudah enam bulan dan siklus haid masih lancar. Aku tidak lagi berharap. Sekarang semuanya terserah Engkau saja ya Rabbi.....

Dikaruniai tiga anak lelaki sudah cukup membahagiakan. Yang sudah ada inilah yang harus selalu disyukuri. Sedangkan yang hilang, sudah aku ikhlaskan. Tidak ada lagi kesedihan saat menceritakannya kepada siapa saja. Memang belum waktunya. Syukur baru dua bulan. Syukur tidak sampai kuret. Syukur yang tiga ini sehat senantiasa. Syukur suami selalu siaga. Maka nikmat Tuhanku yang manakah yang akan aku dustakan?(*)
0
Continue Reading
di 20.56 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Kehamilan, Keluarga, Pasutri, Perempuan, Pernikahan
18.10

Inspirasi | Anak Penjual Es Cendol Jadi Hafidzoh dan Kuliah di Madinah

by Yuni Astuti, in Pernikahan
New
sumber foto: Google. Foto hanya ilustrasi

 

Siang, panas terik, enaknya minum es biar seger. Kebetulan di jalan ada penjual es cincau keliling. Jadi kami mampir beli. Ada hal yang tak terduga pada diri penjual es tersebut. Terlihat sederhana, ternyata menyimpan cerita yang menurut saya luar biasa.

Dalam rangka menunggu es cincau ready dibungkus, kami ngobrol ringan dengan penjualnya. Aslinya mana, sudah berapa tahun di Serang dll. Hal biasa awalnya, tapi kemudian membuat saya terharu.

Bapak penjual es cincau keliling, Pak Wawan ini sudah sepuluh tahun merantau ke Serang, aslinya Tasik. Mudik setahun sekali, sedangkan istrinya merantau di Jakarta. Wah, jarang banget dong ketemunya ya? Saya tidak bertanya apa pekerjaan istrinya di Jakarta. Namun yang diceritakan kemudian adalah anak-anaknya.

Umumnya ngobrol, teman bicara akan balik bertanya. Setelah Pak Wawan tahu bahwa kami tinggal di Pesantren Salsabila, nyambunglah cerita tentang anak perempuannya yang baru saja lulus pesantren Tahfidz di Bandung (saya lupa nama pesantrennya). Setahun pengabdian di pesantren, lalu dilamar orang. Dalam kondisi anaknya yang belum dapat kerja itulah pernikahan itu terjadi dan kini ikut suaminya di Bekasi. Dalam hati saya menggumam, "Jarang-jarang lho orang tua yang mengikhlaskan anaknya menikah di usia muda, saat masih banyak orang tua yang menggadang-gadang anaknya bisa kerja selepas sekolah atau kuliah."

"Iya saya baru mudik untuk menjadi wali nikah anak saya. Kakaknya juga datang dari Madinah buat menghadiri (pernikahan adiknya, yang tentu saja anak sulung Pak Wawan)" papar beliau.

"Di Madinah Pak? Kerja, ngajar atau kuliah?" tanya saya.

"Kuliah, baru tahun pertama. Tadinya kuliah di Sudan tapi nggak betah."

WAH! Pak Wawan dengan cara bicaranya yang sederhana, membicarakan perpindahan dari Sudan ke Madinah seperti membicarakan perpindahan dari Ciracas ke Cikulur aja. Sungguh saya salut sama beliau. Nggak gampang lho bisa kuliah di Madinah, entah dengan cara beasiswa atau mandiri tetap saja kuliah di Madinah adalah sesuatu yang MEWAH! Nggak semua orang bisa ke sana kan? Ditambah lagi, anak perempuannya hafidzoh! Kalau bapak ibunya ustadz, kyai atau ulama, wajarlah yaaa kalau anak-anaknya menempuh pendidikan yang tak beda dengan latar belakang keluarganya. Maka tidak terlalu aneh kalau Bapaknya Ustadz, anaknya ya Ustadz juga. Sebagaimana tidak aneh, bapak ibunya artis, ya anaknya ngikut jadi artis. Bapak ibunya penulis, anak-anaknya jadi penulis juga.

Namun, Pak Wawan merantau sejak anak pertamanya masih SD! Pulang setahun sekali, dan istrinya merantau juga. Kebayang nggak sih, kita yang membersamai anak 24 jam saja kadang masih merasa susah mendidik anak. Ini jarang ketemu?

Seakan memahami rasa penasaran kami tentang tips mendidik anak sampai sebegitunya, Pak Wawan berkata lagi dengan gaya bicaranya yang humble khas orang Sunda, "Saya mah pakai sistem gembala."

"Maksudnya gimana Pak?"

"Ya gembala, lepasin aja anak-anak itu. Kalau mulai jauh dan masuk pagar orang, kita tarik. Kalau perlu kita getok. Tapi prinsipnya sih bebas mau milih apa aja, kita dukung. Yang penting tetap dalam batas-batas."

Saya jadi merasa jleb! Kadang sebagai orangtua kan kita pengen anak jadi begini, jadi begitu. Bisa ini bisa itu. Sebab itulah ramai les calistung padahal anak masih balita. Masuk SD di bawah usia tujuh tahun. Anak diikutkan berbagai macam les, semata mengejar nilai akademik? Namun, terkaget-kaget kemudian jika anak itu stress tapi menampakkan gejala yang menjengjkelkan misalnya berbuat hal-hal yang dilarang agama. Mungkin ada yang terlupa. Mengajari anak, tapi tidak mendidiknya. Kita lihat, ada siswa SD yang frustasi karena sistem zonasi lalu dia membakar semua piagam prestasinya. Ya begitulah jika ilmu hanya ditandai dengan selembar piagam dan deretan angka di ijazah atau raport.

Kadang ada orang tua yang kecewa karena anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Kok hafalan kamu nggak nambah-nambah sih? Lihat si Fulanah, dia sudah masuk 10 juz lho."
"Kok nilai Matematika kamu selalu jelek sih? Belajar yang rajin dong."
"Kamu kalau nggak mau belajar nanti masa depan kamu suram lho."

Berbagai macam ucapan yang sebenarnya pasti bertujuan memotivasi, tapi caranya ibarat memberi makan nasi rendang, dengan ditambahi belatung. Kan yang diingat pasti belatungnya, bukan rendangnya.

Kesimpulan saya setelah berbincang dengan Pak Wawan, adalah jangan pernah lupa mendoakan anak-anak. Justru dari ucapan beliau, tersimpan kepasrahan luar biasa pada Allah. Menyerahkan semuanya pada Allah. Terserah Engkau saja ya Allah, aku ikhlas menerima apapun takdir-Mu. Maka meski jauh dari keluarga, tak pernah lupa doa-doa itu dipanjatkan. Meski sama-sama merantau tapi bisa kompak mendidik anak. Tentu ini perlu perjuangan keras yang tak semua orang mampu menjalaninya.

Namun tetap saja, kondisi semua keluarga itu berbeda-beda. Semestinya dalam segala kondisi, tetap bersyukur. Ujian tiap keluarga itu beda-beda, tak bisa dipukul rata. Tak ada salahnya juga kita memetakan jalan untuk kesuksesan anak, yang salah itu adalah memaksakan kehendak. Kita membantu anak supaya sukses itu bagus, sebab tugas orang tua adalah mempersiapkan anak-anaknya supaya kuat menjalani hidup ini dengan berdiri di atas kaki sendiri tanpa bermanja pada fasilitas yang orang tua berikan. Yang terpenting kita tidak boleh lupa bahwa Allah yang Maha Berkehendak. Kita bisa berusaha dan berharap, tapi hasilnya pasrahkan pada Allah. Anak mau jadi dokter, ilmuwan, penulis, hafidz hafidzoh, dukung penuh! Asalkan tidak melenceng dari jalan Allah...

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Al-Hajj: 44)


Zaman memang sudah berubah, berjalan ke arah yang tidak bisa kita prediksikan. Pada satu sisi, begitu mengerikan dengan beragam fitnah akhir zaman, tapi pada sisi lainnya kita dituntut untuk bisa mendidik anak dengan baik. Tetaplah berpegang teguh pada ajaran Islam, jaga keluarga kita dari api neraka dan jangan pernah putus mendoakan mereka. Semoga Allah memudahkan jalan kita dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. 


2
Continue Reading
di 18.10 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Inspirasi, Keluarga, Parenting, Pernikahan
18.20

Kamu Curang, Aku Bodo Amat

by Yuni Astuti, in Menulis
New
Sumber foto: https://www.permainan-tradisional.com/2016/06/petak-umpet-permainan-tradisional-yang.html?m=1


Dulu, waktu kecil saya suka main petak umpet, jamuran, cingklong, boy-boyan, lompat tali dll.. Semua permainan tradisional itu menjunjung tinggi sportivitas. Ketika suatu saat ada anak yang main curang, misalnya main sebelum tiba giliran, tetap main meski sudah 'mati', ngintip saat lempar gacon di permainan cingklong untuk dapat bintang, bergerak saat seharusnya diam di permainan jamuran tanpa bilang 'cimit', atau ngumpet di rumah sambil minum, makan atau bablas ngorok saat main petak umpet, tentu dia akan mendapat sorakan memalukan: CURAAAAAANG ....!

Maka beramai-ramai dengan kebaikan kedelai hitam, tanpa meminta pengadilan Mahkamah Emak Bapak, kami 'hukum' orang itu dengan cara tidak mengajaknya main lagi. Bahkan kalau perlu dia diblacklist dari daftar anak yang bisa diajak bermain. Ngapain ngajak dia? Orang suka main curang? Malesin kan? Bintang saya di tanah cingklong sedikit, dia banyak. Atau saya jaga terus, dia asyik lari-larian. Kan nyebelin. Intinya semua kecurangan yang dia lakukan itu merugikan pemain lain lah. Soalnya, yang menang itu biasanya banyak keuntungan sih. Bintangnya banyak sehingga bebas jalan tanpa harus lompat, bebas lari tanpa capek jaga benteng, atau ngejar-ngejar tapi kamu terus menghindar (aiiihhh...)

Ya pada akhir permainan, nggak ada ceritanya tuh anak yang curang dapet ucapan selamat apalagi ada perayaan macam suku kanibal di pedalaman. Yang ada, dia disoraki, dipermalukan, kalau perlu dilempari karet, bola boy-boyan, gacon, atau tanah. Dan itu rasanya sungguh menyakitkan gaes... Maluuuu.... Sementara yang sportif, meski kalah dalam permainan, dia bisa pulang dengan bangga, baju kotor penuh tanah gak masalah, bisa dicuci sama Emak, dan makan dengan lahap, lalu tidur dengan nyenyak. Kalau ketemu si curang lagi di tempat ngaji, ya gue bodo amat. Males aja main sama dia lagi. Ntar curang juga, nyerobot antrean ngaji. Kan males banget?

Setelah dewasa, saya jadi tahu bahwa dalam Islam yang namanya curang itu dosa besar gaes... Ngeri banget deh.

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (al-Muthaffifin: 1—3)









*) Yuni Astuti.

0
Continue Reading
di 18.20 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Curhat Konyol, Keluarga, Menulis
02.14

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam

by Yuni Astuti, in Travelling
New
Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Foto dokumentasi pribadi


Mi instan yang dimasak saat camping adalah makanan terlezat. Saya sudah mempersiapkan bahan-bahannya dari rumah, termasuk kopi dan jahe instan. Fitri juga membawa sosis. Semakin mantaplah!

Oya, tadi saat masih di area bawah sebelum masuk ke jalan Paralayang, ada yang mintain uang masuk. Per orang Rp.5000,- kemudian untuk tarif campingnya Rp.10.000,-/orang. Anak kecil nggak dihitung. Jadi kalau anak Emak 10 tuh lumayan bisa hemat. Terus untuk parkir motor Rp.5000,-. Emak nggak usah bingung kalau mau bikin api unggun, ada yang jual. Satu ikat Rp.15.000. Lumayan untuk menghangatkan badan, sambil bakar sosis tambah nikmat. Namun, di puncak sini nggak ada sinyal untuk provider tertentu, tapi itu bukan kendala. Ada juga yang jual wifi berupa voucher gitu. Harganya Rp.5000/2 jam. Lumayan kaaaan buat upload foto di IG atau status WA. Hehehe .. Kalau saya sih lebih seneng menikmati malam itu dengan diam memandangi lautan bintang, biarlah upload fotonya besok-besok saja.

Rencananya malam ini saya nggak pengen tidur, tapi udara semakin dingin Mak... Jadi jam satu gitu masuk tenda, berselimut tapi tetep dingin. Tapi lebih dingin sikap kamu ke aku sih. Eaaaa ....

Pukul 3 dini hari, terbangun karena suara alarm. Masih dingin, tapi nggak bisa tidur lagi. Jadilah keluar tenda dan lagi-lagi menikmati suasana malam yang aduhai. Beberapa orang yang camping masih terdengar suaranya, nyanyi-nyanyi sambil main gitar. Oke, mungkin dengan cara itu bisa mengobati rasa kangen mereka kepada pujaan hati.

Sayup-sayup terdengar azan pukul 4 pagi lebih seperempat. Kami solat Subuh berjamaah, beber-bener aduhai nikmatnya. Sujud di rerumputan dingin yang berembun. Apalagi saat wudhu tadi, airnya nyesssss dingin banget kayak wudhu pakai air kulkas campur es batu.

Momen eksotis ialah saat mentari mulai terbit dan memancarkan sinarnya yang lembut menghangatkan. Lebih hangat dari pancaran cinta di matamu. Eaaaa lagi. Nuansa hijau mulai tampak, puncak Lawu di belakang juga menampilkan keelokannya. Sedangkan di kejauhan sana, kota Solo dengan pemandangan jalan dan rumah-rumahnya mulai jelas lika-likunya. Merapi dan Merbabu yang unik juga tak kalah mempesona. Hijau kebun teh Kemuning sangat anggun, berpadu dengan hijau pepohonan, putihnya awan dan biru langit. Sempurna! View yang nggak akan pernah saya lihat di kota Serang.

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Nuansa hijau kebun teh Kemuning

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Gunung Merapi dan Gunung Merbabu tampak dari jauh


Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Puncak Lawu berselimut awan

Belum puas rasanya kalau belum mengambil gambar dan merekam panorama indah ini. Cekrak-cekrek kalau belum 100 kali itu belum afdhol. Apalagi kalau fotonya sama pasangan halal, duuuh romantis pokoknya! Kayak Indar dan Fitri nih yang masih pengantin baru. Uhuy lah mereka berdua itu.


Fitri&Indar: romantis!


Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Pengantin baru. Baru 10 tahun

Camping di Paralayang (Part 3) : Menyatu dengan Alam
Camping keluarga: seru gaes.... 

Usai sarapan (mie instan lagi), kami membereskan tenda lalu bersiap turun. Tak lupa, saya rekam tuh perjalanan turunnya. Daebak awesome pokoknya!

Lihat juga postingan sebelumnya di sini:
Rekaman Jalan Paralayang-Kemuning
Camping di Paralayang Part 1
Camping di Paralayang Part 2

Next trip, saya ingin ke sini lagi. Semoga Allah memudahkan.

(Tamat)

1
Continue Reading
di 02.14 1 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Catatan Perjalanan, Keluarga, Travelling
06.14

Camping di Paralayang-Kemuning (Part 1): Perjalanan Tak Selamanya Sesuai Rencana.

by Yuni Astuti, in Travelling
New
Camping di Paralayang-Kemuning (Part 1): Perjalanan Tak Selamanya Sesuai Rencana.
Suasana malam di Bukit Paralayang.
Foto oleh Indarto



Sebenarnya wacana camping di Paralayang sudah ada sejak tahun lalu (ihiiiy lama juga ya) karena adik ipar waktu itu sudah merasakannya lebih dulu. Alhamdulillah tahun ini dia sudah double dengan istrinya jadilah kami adakan "family adventure" dengan camping.

Kalau kamu tahu Kemuning yang terkenal dengan perkebunan tehnya itu, Paralayang tidak jauh dari Kemuning. Masih kecamatan Ngargoyoso. Lebih tepatnya sih terletak di Desa Segorogunung. Saya tidak terlalu hafal jalan, apalagi kami berangkat bersama rombongan menjelang Maghrib. Namun qadarullah motor yang saya tumpangi rusak sehingga tidak bisa jalan lagi. Mau cari bengkel, di mana sudah malam begini? Motor tidak mau jalan sama sekali. Ini karena motornya nggak kuat nanjak, sekaligus mungkin karena saya terlalu berat? Hehehe.

Motor kami mogok tepat di pinggir jalan, di halaman rumah agak luas milik seorang bapak yang tak sempat kami tanyakan namanya. Beliau sedang mencuci mobil, melihat kami berhenti di depan rumahnya kebingungan, ditanyalah:

"Mau ke mana?"

"Mau kemping di Paralayang Pak. Motornya rusak, bengkel yang deket sini di mana ya?"

"Di sini bengkel udah pada tutup. Ada sih bengkel keliling. Cuma orangnya lagi ke mesjid. Nanti tak cegatne." Katanya.

Kami pun menunggu. FYI, kami berangkat konvoi. Saya bersama suami, Fatih dan Kholid. Indar (adik ipar) sendirian bawa tenda dan peralatan lainnya. Fitri (istri Indar) boncengan dengan ponakannya, Maryam dengan membawa tikar dan logistik. Mereka balik arah menemani saya dan suami.

Sempat ada kekhawatiran sih, melihat kondisi sudah malam, rasanya nggak mungkin deh melanjutkan perjalanan. Rencana kami berangkat bakda Ashar jadi ngaret jam 5. Bukan kendala, cuma Emak meminta Fitri nganterin njagong. Alhamdulillah meski kesorean berangkat, yah.. motor pun mogok.

Kalau dipikir-pikir, berkah banget lho itu motor mogoknya persis di depan rumah orang baik. Yang bantu mencarikan bengkel, juga mengizinkan kami istirahat di rumahnya. Disuguhin minum juga. Diizinkan numpang sholat, dan karena Kholid saya tidurkan di kasur lantai ruang tengah beliau, diselimuti juga.  Bayangkan kalau mogoknya sudah di atas, jangankan bengkel atau rumah penduduk, kandang ayam aja nggak ada. Ini berkah, lho, karena Fitri nurut sama ibu mertua untuk nganterin njagong (kondangan) tadi ke tiga tempat.

Bengkel keliling pun lewat, dialog tentang kondisi motor dan tampaknya beliau nggak bisa memperbaiki motor itu. Lalu bapak pemilik rumah menaiki motornya mencari bengkel terdekat. Tak lama kemudian kembali lagi dan mengantarkan suami ke sana.

Aku, Fitri, Maryam dan anak-anakku menunggu di rumah itu. Satu jam berlalu, kami mulai pesimis. Ini sudah agak malam, kira-kira apakah perjalanan ini akan berlanjut?

Ya sudah, kami memutuskan untuk sholat dulu. Di rumah bapak pemilik rumah itu. Masya Allah semoga Allah membalas kebaikan beliau sekeluarga.

"Gimana nih Fit, bakal lanjut nggak?" Tanya saya.

"Nggak tahu Teh. Kayaknya nggak jadi deh."

"Sayang banget ya kalo nggak jadi. Udah deket. Setengah jam lagi kan?" Kata saya setelah cek GoCar barangkali mau lanjut perjalanan dengan naik GoCar.

Dua jam kami masih menunggu. Pukul 20.00 masih di jalan, bagaimana bangun tendanya? Apakah jalan muncaknya aman? Kata Indar, jalannya cukup ekstrem. Berliku dan menanjak. Saya agak khawatir juga, tapi lebih besar penasarannya. Membayangkan indahnya pemandangan Kota Solo dari puncak bukit Paralayang. Ya sudah pasrah saja deh....

(Bersambung)
0
Continue Reading
di 06.14 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Catatan Perjalanan, Keluarga, Travelling
Postingan Lama Beranda

Author

About Me
Saya adalah seorang Emak dari tiga anak lelaki yang selalu membuat heboh rumah. Saya suka menulis, makan dan jalan-jalan. click here →

Popular

  • Jangan Nyinyiri Pesantren
     Kisruh. Sepekan terakhir ini ada banyak sekali keriuhan dalam sosial media kita. Tentang narasi yang dilontarkan Xpose Uncencored yang dita...
  • Keguguran: Momen Sakral Antara Aku dan Calon Bayiku
    Keguguran: Momen Sakral Antara Aku dan Calon Bayiku
    Keguguran. Kehilangan. Sedih. Sakit. Pasrah. Bermacam-macam kata menggambarkan satu momen dalam hidupku. Tidak pernah terbayangkan meras...
  • Karangantu, Pelabuhan Berkelas Internasional yang Kini Dilupakan
    Karangantu, Pelabuhan Berkelas Internasional yang Kini Dilupakan
    Oleh: Yuni Astuti Karangantu. Mungkin bagi yang belum tahu, akan merasa seram dengan nama itu. Namun, Karangantu bukan sekadar nama...

Blog Archive

  • Oktober 2025 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • November 2019 (11)
  • September 2019 (3)
  • Agustus 2019 (6)
  • Juli 2019 (1)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (1)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (8)
  • Maret 2017 (3)

Tags

  • Catatan Perjalanan
  • Curhat Konyol
  • FLP
  • Ibu Profesional
  • Inspirasi
  • Kehamilan
  • Keluarga
  • Kuliner
  • Mastera 2019
  • Menulis
  • Parenting
  • Pasutri
  • Perempuan
  • Pernikahan
  • Review Drama Korea
  • Review Film
  • Sejarah
  • Travelling

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Saya

Foto saya
Yuni Astuti
Serang, Banten, Indonesia
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Lihat profil lengkapku

Categories

  • Catatan Perjalanan (18)
  • Curhat Konyol (1)
  • FLP (1)
  • Ibu Profesional (2)
  • Inspirasi (5)
  • Kehamilan (2)
  • Keluarga (5)
  • Kuliner (1)
  • Mastera 2019 (1)
  • Menulis (6)
  • Parenting (3)
  • Pasutri (3)
  • Perempuan (9)
  • Pernikahan (5)
  • Review Drama Korea (3)
  • Review Film (6)
  • Sejarah (4)
  • Travelling (17)

Tags

Catatan Perjalanan (18) Curhat Konyol (1) FLP (1) Ibu Profesional (2) Inspirasi (5) Kehamilan (2) Keluarga (5) Kuliner (1) Mastera 2019 (1) Menulis (6) Parenting (3) Pasutri (3) Perempuan (9) Pernikahan (5) Review Drama Korea (3) Review Film (6) Sejarah (4) Travelling (17)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Crafted with by TemplatesYard | Distributed by Gooyaabi Templates