• Home
  • Kuliner
  • Pernikahan
  • Review Drama Korea
  • Travelling

Diary Emak Baper

Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
17.34

Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara

by Yuni Astuti, in Travelling
New
 Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara



Salah satu agenda di acara Mastera Esai 2019 adalah diskusi kelompok yang pesertanya berasal dari beberapa negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Karya masing-masing peserta dikritik dan diberi masukan perbaikan. Bertukar pikiran tentang banyak hal, tersebab perbedaan budaya juga.

Pada dasarnya antara kami tidak banyak perbedaan. Bahasa mungkin sedikit lain, logat dan aksen tetapi induknya sama yaitu Bahasa Melayu. Di masa lalu, kita disatukan dalam Nusantara.

Contohnya Amirul, peserta dari Singapura yang mengaku ini pertama kalinya beliau menulis esai dalam Bahasa Melayu, biasanya dalam Bahasa Inggris. Wajar, karena Singapura mengutamakan Bahasa Inggris, termasuk dalam pengajaran Bahasa Melayu pun pengantarnya adalah Bahasa Inggris.

Saya, mungkin juga Anda beranggapan bahwa Singapura adalah negara maju. Terutama dari segi ekonomi, pertumbuhannya sangat tinggi, pun dalam hal pendidikannya, banyak orang Indonesia yang kuliah di sana. Bahkan kalau ada pejabat atau publik figur sakit keras, berobatnya ya ke Singapura. Enci-engko crazy rich Suroboyo juga mungkin makan siangnya di Singapura.

Namun yang dirasakan Amirul adalah kesedihan. Lho, mengapa? Bukankah dia seharusnya bangga sebagai warga negara Singapura? Yang tidak ada orang buang sampah sembarangan atau melanggar peraturan lalin? Aman, tertib dan maju. Mengapa dia gelisah?

"Sebab budaya Melayu di Singapura jadi terkikis. Perekonomian maju tapi dikuasi etnis Tionghoa. Yang bisa mendapatkan pendidikan high class adalah etnis Tionghoa yang kaya. Warga Melayu hanya masuk kelas menengah."

Lalu bagaimana dengan warga yang benar-benar miskin? Tentu dia tidak ada kesempatan mengenyam pendidikan dan menikmati perekonomian? That is reality. Hanya, pemerintah Singapura tidak memperlihatkan bahwa ada warganya yang miskin. Mereka yang miskin diberikan rumah dengan harga sewa murah. Juga kondisi para pelajarnya, mereka ditekan sedemikian rupa agar mendapat peringkat terbaik di sekolah sehingga bisa masuk ke universitas ternama dan bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Orientasinya materi.

Amirul adalah salah satu pemuda yang "out of the box". Beliau peduli pada budaya Melayu dan kritis terhadap fenomena sosial yang ada. Amirul banyak menulis dan senang berdiskusi.

Ada pula Ainunl Muaiyanah, editor dari Malaysia. Ainunl sangat pandai menciptakan kalimat puitik, juga rasa ingin tahunya besar. Beliau senang berdiskusi dan open-minded.

Syawal peserta dari Brunei, mahasiswa Universitas Brunei Darussalam. Di antara kami semua, dialah yang esainya paling panjang dan lengkap dengan catatan-catatan kaki.

Terkadang ada sedikit bahasa yang tidak bisa kami pahami satu sama lain. Seperti gratis ongkos kirim, oh maksudnya free delivery...

Ketika coffee break, kami menikmati kudapan siomay. What is this? Siomay? Yes, you can call it dimsum.  Barulah mereka paham. Tapi intinya sama, meski Syawal menganggap kecap dan sambal cabai adalah bumbu rujak. Lalu merek teringat makanan restoran yaitu daging yang empuk sekali. Dimasak dengan cara apa?



Presto. Ah mereka tak paham. Presto teh bahasa naon ya? Namun akhirnya merek memahami panci presto adalah "pressure cooker". Ok, intinya sama. Dan ketika kita mengutamakan inti serta persamaan, kita akan toleransi pada perbedaan. Dan kuliner terbukti lebih cepat menyatukan kita. Betul?

Lembang, 20 Agustus 2019
6
Continue Reading
di 17.34 6 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Catatan Perjalanan, Mastera 2019, Menulis, Travelling
01.27

Pagi Berkabut Rindu (Hari Pertama Mastera)

by Yuni Astuti, in Travelling
New




Pagi berkabut rindu/
duduk di atas batu/
namamu terpahat di situ/

Pagi ini memang tidak biasa. Suhu udara 18°C adalah seperti menyelimuti diri dengan air kulkas. Lebay, ya? Ya maklum saya terbiasa dengan udara panas Kota Serang. Buka WA grup malah membahas si burung elang, Ortiz. Begitu gagah dan elegannya ia, angkuh dan manja. Memang Grup Genjreng ini paling ramai justru di tengah malam sampai Subuh. Biasanya azan Subuh berhenti sendiri. Kalong emang. Haha... 

Namun pagi usai salat Subuh saya menyengaja keluar hotel, sekadar melihat kabut melayang-layang di permukaan kolam renang, di jalanan, di atas gunung, bahkan ketika berbicara pun mengeluarkan uap kabut. Brrr.....

Saya jalan kaki sedikit ke jalan raya, tidak lama kemudian semakin terasa dingin. Lalu masuk lagi ke lobi dan belok ke resto untuk ngopi. Kebetulan, ada peserta juga yang sudah ngopi duluan. Lumayan ada teman ngobrol, ngalor ngidul sampai nyambung ke obrolan tentang Perang Bubat. Topik yang saya suka, dan masih mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa dan Sunda. Mas Ridwan Hasyimi berasal dari Ciamis, yang konon merupakan tempat kerajaan Sunda Galuh.  Sambil menyeruput kopi dan susu murni, topik itu menjadi lebih luas dengan kedatangan Pak Ganjar dan Pak Arif, maka saya menyimak penuturan mereka. Lumayan, kuliah pagi tentang Sejarah, bonus kan?

Mitos kuburan Gajah Mada juga menurut Pak Ganjar sampai saat ini sejauh beliau keliling Indonesia, ada 7 makam. Salah satunya di Dompu, NTB. Namun di mana letak pastinya tak ada yang tahu. Hanya istilahnya mungkin "petilasan", bukan kuburan yang nyata.

Sementara Pak Arif, tesisnya tentang Perang Bubat mencoba menggali sumber dari karya-karya lokalitas Sunda. Tradisi lisan, menurutnya adalah tradisi yang lazim di masyarakat Indonesia, tak seperti Yunani yang tradisi tulisan. Maka tak heran jika sumber sejarah kita ini lebih dominan lisan, yang sering disebut sumber sekunder bagi para peneliti.

Selamat pagi Lembang, aku siap belajar apa saja hari ini 😍


0
Continue Reading
di 01.27 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Catatan Perjalanan, Menulis, Travelling
17.39

Perjalanan Menuju Mastera 2019

by Yuni Astuti, in Travelling
New



Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirobbil 'alamin atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Tak henti-hentinya saya bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup dan menikmati hidup.

Pagi ini saya sedang dalam perjalanan menuju Lembang, tempat diadakannya Mancakrida, Pelatihan Esai Mastera. Beberapa minggu lalu saya mendaftar untuk ikut Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang pesertanya dari negara-negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Brunei, Malaysia dan Singapura. Dari Indonesia sendiri dipilih 10 orang.

Antara bahagia dan tak percaya nama saya bisa masuk dalam daftar tersebut, juga ada Ardian Je yang sama-sama dari FLP. InsyaAllah akan dibimbing oleh para master yaitu Maman S Mahayana, Agus R. Sardjono dan Cecep Syamsul Hari.

Selama sepekan para peserta akan digembleng untuk menciptakan esai yang baik, semoga saya kuat. (Kuat udara dingin Lembang terutama, karena saya manusia Serang yang langsung menggigil padahal suhu baru 23°C.

Teman-teman dari Rumah Dunia dan FLP Banten pun menyemangati. Sebab saya sempat minder karena masuk acara besar seperti ini, tapi mereka semua berbahagia. Ya, dari RD dan FLP saya mulai mengenal dunia penulisan. Salah satunya esai. Betapa gembiranya saat tulisan pertama saya masuk koran, meskipun hanya surat pembaca.

Ada banyak orang hebat yang memberikan sumbangsih ilmunya kepada saya. Mas Gol A Gong, Pak Firman Venayaksa, Kang Qizink La Aziva, Teh Fey Chandra dan Kak Tatang Ade Chandra, beserta semua teman-teman FLP Banten yang senantiasa solid terutama dalam hal ngerujak mangga.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kakanda Goblin tercinta, suamiku yang mengizinkan aku mengikuti acara ini. Sepekan meninggalkan rumah dan anak-anak. Bebas tugas nyuci baju seminggu, yeaaay..... Demi memberikan aku jeda waktu untuk belajar tentang apa yang menjadi passionku.

Semoga acaranya nanti sukses, lancar dan pulang membawa banyak pengalaman.


*) Ditulis di pinggir jalan sambil menunggu bus Merak-Bandung
0
Continue Reading
di 17.39 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Catatan Perjalanan, Menulis, Travelling
18.20

Kamu Curang, Aku Bodo Amat

by Yuni Astuti, in Menulis
New
Sumber foto: https://www.permainan-tradisional.com/2016/06/petak-umpet-permainan-tradisional-yang.html?m=1


Dulu, waktu kecil saya suka main petak umpet, jamuran, cingklong, boy-boyan, lompat tali dll.. Semua permainan tradisional itu menjunjung tinggi sportivitas. Ketika suatu saat ada anak yang main curang, misalnya main sebelum tiba giliran, tetap main meski sudah 'mati', ngintip saat lempar gacon di permainan cingklong untuk dapat bintang, bergerak saat seharusnya diam di permainan jamuran tanpa bilang 'cimit', atau ngumpet di rumah sambil minum, makan atau bablas ngorok saat main petak umpet, tentu dia akan mendapat sorakan memalukan: CURAAAAAANG ....!

Maka beramai-ramai dengan kebaikan kedelai hitam, tanpa meminta pengadilan Mahkamah Emak Bapak, kami 'hukum' orang itu dengan cara tidak mengajaknya main lagi. Bahkan kalau perlu dia diblacklist dari daftar anak yang bisa diajak bermain. Ngapain ngajak dia? Orang suka main curang? Malesin kan? Bintang saya di tanah cingklong sedikit, dia banyak. Atau saya jaga terus, dia asyik lari-larian. Kan nyebelin. Intinya semua kecurangan yang dia lakukan itu merugikan pemain lain lah. Soalnya, yang menang itu biasanya banyak keuntungan sih. Bintangnya banyak sehingga bebas jalan tanpa harus lompat, bebas lari tanpa capek jaga benteng, atau ngejar-ngejar tapi kamu terus menghindar (aiiihhh...)

Ya pada akhir permainan, nggak ada ceritanya tuh anak yang curang dapet ucapan selamat apalagi ada perayaan macam suku kanibal di pedalaman. Yang ada, dia disoraki, dipermalukan, kalau perlu dilempari karet, bola boy-boyan, gacon, atau tanah. Dan itu rasanya sungguh menyakitkan gaes... Maluuuu.... Sementara yang sportif, meski kalah dalam permainan, dia bisa pulang dengan bangga, baju kotor penuh tanah gak masalah, bisa dicuci sama Emak, dan makan dengan lahap, lalu tidur dengan nyenyak. Kalau ketemu si curang lagi di tempat ngaji, ya gue bodo amat. Males aja main sama dia lagi. Ntar curang juga, nyerobot antrean ngaji. Kan males banget?

Setelah dewasa, saya jadi tahu bahwa dalam Islam yang namanya curang itu dosa besar gaes... Ngeri banget deh.

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (al-Muthaffifin: 1—3)









*) Yuni Astuti.

0
Continue Reading
di 18.20 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Curhat Konyol, Keluarga, Menulis
06.52

5 Alasan Saya Mencintai FLP

by Yuni Astuti, in Menulis
New


5 Alasan Saya Mencintai FLP

5 Alasan Saya Mencintai FLP


Sejujurnya, kalau mau bikin daftar alasan kenapa saya mencintai FLP, ada lebih dari lima. Banyak, banyak sekali. Namun, semoga lima alasan ini telah merangkum segala isi hati.

1. FLP menjadi pintu gerbang karier menulis saya.

2
Continue Reading
Baca selengkapnya »
di 06.52 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: FLP, Menulis
20.08

Belajar Blog Mulai dari Nol Bersama FLP Banten

by Yuni Astuti, in Menulis
New
Belajar Blog Mulai dari Nol Bersama FLP Banten
Sabtu, 2 Maret 2019

Seru. Itulah yang saya rasakan selama mengikuti kelas blogging dan fotografi yang diadakan FLP Banten sekaligus Inagurasi anggota baru FLP Banten pada 2-3 Maret 2019 di Pesantren Tahfidz Salsabila.
0
Continue Reading
Baca selengkapnya »
di 20.08 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Menulis
Postingan Lama Beranda

Author

About Me
Saya adalah seorang Emak dari tiga anak lelaki yang selalu membuat heboh rumah. Saya suka menulis, makan dan jalan-jalan. click here →

Popular

  • Jika Aku Tidak Bicara, Siapa yang Akan Mengerti?
    “Sebutkan salah satu hal yang kamu sangat syukuri!” Ucap Hana, membacakan salah satu kartu yang diambil Dian.  Aku bersama tiga orang teman ...
  • Jangan Nyinyiri Pesantren
     Kisruh. Sepekan terakhir ini ada banyak sekali keriuhan dalam sosial media kita. Tentang narasi yang dilontarkan Xpose Uncencored yang dita...
  •  Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara
    Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara
    Salah satu agenda di acara Mastera Esai 2019 adalah diskusi kelompok yang pesertanya berasal dari beberapa negara yaitu Indonesia, Mal...

Blog Archive

  • Juli 2026 (1)
  • Oktober 2025 (1)
  • Maret 2020 (1)
  • November 2019 (11)
  • September 2019 (3)
  • Agustus 2019 (6)
  • Juli 2019 (1)
  • Juni 2019 (4)
  • Mei 2019 (1)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (8)
  • Maret 2017 (3)

Tags

  • Catatan Perjalanan
  • Curhat Konyol
  • FLP
  • Ibu Profesional
  • Inspirasi
  • Kehamilan
  • Keluarga
  • Kuliner
  • Mastera 2019
  • Menulis
  • Parenting
  • Pasutri
  • Perempuan
  • Pernikahan
  • Review Drama Korea
  • Review Film
  • Sejarah
  • Travelling

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Saya

Foto saya
Yuni Astuti
Serang, Banten, Indonesia
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Lihat profil lengkapku

Categories

  • Catatan Perjalanan (18)
  • Curhat Konyol (1)
  • FLP (1)
  • Ibu Profesional (2)
  • Inspirasi (5)
  • Kehamilan (2)
  • Keluarga (5)
  • Kuliner (1)
  • Mastera 2019 (1)
  • Menulis (6)
  • Parenting (3)
  • Pasutri (3)
  • Perempuan (9)
  • Pernikahan (5)
  • Review Drama Korea (3)
  • Review Film (6)
  • Sejarah (4)
  • Travelling (17)

Tags

Catatan Perjalanan (18) Curhat Konyol (1) FLP (1) Ibu Profesional (2) Inspirasi (5) Kehamilan (2) Keluarga (5) Kuliner (1) Mastera 2019 (1) Menulis (6) Parenting (3) Pasutri (3) Perempuan (9) Pernikahan (5) Review Drama Korea (3) Review Film (6) Sejarah (4) Travelling (17)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Crafted with by TemplatesYard | Distributed by Gooyaabi Templates