Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

22.03

Jika Aku Tidak Bicara, Siapa yang Akan Mengerti?

by , in

“Sebutkan salah satu hal yang kamu sangat syukuri!” Ucap Hana, membacakan salah satu kartu yang diambil Dian. 

Aku bersama tiga orang teman sedang “bermain kartu”, tapi bukan sembarang kartu. Ini adalah kartu ajaib pembuka sebuah momen deep talk. Momen ketika perempuan bicara rasa

Dian bicara pelan, mengutarakan perasaannya. “Sungguh, satu hal yang aku sangat syukuri adalah bertemu kalian, memiliki kalian dalam hidupku. Keluarga sudah tentu, tapi adalah sangat wajar jika keluarga saing mencintai. Tapi pertemanan setulus ini adalah anugerah yang sangat aku syukuri.” 

Kami meleleh mendengarnya. Ucapannya adalah  berita baik bagi kami, yang juga sama-sama bersyukur atas persahabatan ini. Di usia yang tidak lagi muda ini, 30++++, menemukan sahabat yang tulus dan saling support adalah keberuntungan yang patut dirayakan. 

Ada kalanya perempuan ingin membicarakan hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh sesama perempuan. Sehingga meskipun suaminya terbuka untuk menjadi teman diskusi, teman memiliki vibes berbeda. 

Pernah dalam satu forum kajian pasutri, pembicara bertanya pada salah satu peserta. “siapa teman dekat suami Anda?”

Salah satu peserta perempuan menjawab, “suami saya tidak punya teman dekat. Pulang kerja hanya di rumah, weekend di rumah.”

Pembicara berkelakar, “Pak, nggak bosan?”

Aku paham, maksud “bosan” ini bukan berarti bosan pada pasangan. Melainkan, ada satu ruang yang hanya bisa diisi oleh teman. 

Suamiku tahu siapa saja teman dekatku, begitu pun sebaliknya. Siapa-siapa saja teman dekat suamiku dan ke mana saja biasanya mereka menghabiskan waktu saat bersama. Kami saling memberi ruang agar tetap menjadi diri sendiri versi bersama teman. 

Bahkan Rasulullah SAW saja punya banyak sahabat. Punya teman cerita selain istri beliau sendiri. Sahabatnya, salah satunya adalah yang selalu membenarkan beliau. Abu Bakar Ash-Shiddiq, teman cerita, teman hijrah, teman dakwah, teman dalam segala hal di setiap episode kehidupannya. Memiliki sahabat tidak menjadikan beliau terlihat lemah, justru menunjukkan sisi kemanusiaannya dan memberi contoh kepada kita bahwa manusia itu saling melengkapi, saling berbagi cerita dan saling menguatkan. 

Aku bersyukur dipertemukan dengan teman-teman di Ibu Profesional sejak tahun 2016. Kami belajar tentang banyak hal yang membantu kami untuk terus tumbuh dan belajar. Tidak ada kata berhenti untuk menuntut ilmu. 

Salah satu materi yang berkesan bagiku kala itu adalah Komunikasi Produktif. Sebelum kenal IP, aku sangat buruk dalam komunikasi. Apa yang ditampakkan berbeda dengan yang sesungguhnya kurasakan yang kemudian memicu salah paham. Terutama dengan suami, sering sekali aku melakukan silent treatment tanpa mengungkapkan apa yang sebenernya aku rasakan. Suami tidak pernah mengerti isyarat-isyarat diam yang kutunjukkan. 

Selain itu aku memiliki sebuah ketakutan dalam komunikasi yakni sering merasa tidak didengar, sering dipotong saat bicara, diabaikan, dan terkesan diremehkan. Hal-hal itu membuatku merasa lebih sering memendamnya saja. Menyimpan baik-baik apa yang dirasakan agar orang lain tidak perlu tahu.

Namun perlahan-lahan aku praktikkan komunikasi produktif itu, aku berubah jadi lebih terbuka menyatakan pendapat dan perasaan. Lama-kelamaan aku terbiasa berkomunikasi dengan suami seperti ini. Jujur, terbuka, santai dan mau mendengar. Hingga kini, aku justru kaget jika ada yang mendengar ucapanku, karena itu sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi. Berbagai kejadian di masa lalu ternyata menciptakan rasa rendah diri yang terlalu malu untuk aku tampil percaya diri bicara di depan banyak orang. 

Alhamdulillah sekarang terasa membaik. Karena hal-hal baik harus dimulai secepatnya, melawan rasa takut dalam diri. Menantang diri untuk jauh lebih berani.

Di sisi lain, aku pun bersyukur seperti rasa syukur yang dirasakan Dian. Berjumpa dengan teman-teman yang selalu mendukung, tidak pernah saling iri, selalu bertumbuh jadi lebih baik adalah rezeki yang tak ternilai harganya. Di masa muda berteman tanda tendensi itu wajar. Di masa dewasa menemukan teman sefrekuensi tidak terasa mudah. Karenanya kehadiran mereka adalah anugerah terindah yang sangat aku syukuri. 

Manusia itu makhluk sosial, memang sudah sewajarnya berhubungan dengan manusia lain. Komunikasi adalah kunci untuk membuka hati. Namun, hanya orang-orang sefrekuensi yang punya kunci tepat untuk membukanya. Sebab tidak semua orang bisa dengan mudah membuka hatinya pada orang lain. Ketika kita memiliki teman-teman terpercaya untuk menyimpan sebagian cerita kita, sesungguhnya mereka adalah manusia-manusia pilihan yang Allah anugerahkan dalam hidup kita. Jaga mereka sebaik-baiknya. 


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026″

#Journeyto6thIpedia, #SuaraKitaCeritaKita dan #IpediaBeritaBaik