Tentang kisah konyol dan inspiratif dalam rumah tangga

17.45

Negeri Ini Butuh Patriot (?)

by , in


Negeri ini butuh patriot. Benarkah? Katanya DPR dan mahasiswa berada dalam dua kubu yang berseberangan? Isu RKUHP serta demonstrasi besar-besaran di berbagai kota. Masyarakat pun mempertanyakan, ada apa gerangan? Tumben, mahasiswa bergerak sebegini masifnya? Wajar jika timbul pertanyaan, sebab beberapa waktu belakangan yang aktif menyuarakan hak-hak rakyat berasal dari kalangan emak-emak dan umat Islam. Bisa jadi juga selama ini aksi mahasiswa tetap ada, tapi sepi dari pemberitaan media.

DPR sedang semangat bekerja, membuat rancangan Undang-undang, antara lain KPK, KUHP dan PKS. Ada apa sih? Kok berbarengan gini? Semangat benerrrr kerjanya? Santuy dikit lah, biar rakyat nggak kena serangan jantung saking terkedjoetnya.

Ada yang sudah nonton Gundala? Film yang mungkin masih tayang di beberapa bioskop ini tiba-tiba memanggil ingatanku kembali. Bukannya mau spoiler sih, cuma ya mau menjelaskan sedikit alur cerita film itu. Film lho ya, nggak tahu kalau di Indonesia mah. Kayaknya nggak deh, kan para pejabatnya cinta NKRI dan "saya Pancasila". Betul?

Dalam film Gundala itu, untuk mencapai suatu maksud, terlebih dulu buat keributan. Racuni masyarakat melalui beras. Hebohkan media dengan pemberitaan disertai pendapat para pakar. Takut-takuti masyarakat bahwa ibu hamil yang mengonsumsi beras beracun itu akan menimbulkan bahaya bagi janin mereka. Kelak anak yang lahir jadi tidak bermoral, tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Masyarakat menuntut serum penawar racun dibagikan pada semua ibu hamil. Demonstrasi di mana-mana. Penjarahan, kekacauan, keributan, semua kacau. Untung ada Gundala, yang dengan kekuatan petirnya bisa mengalahkan 30 preman dalam satu waktu. Ihiiiy....

Anggota DPR itu ada yang baik juga kok, nggak semuanya cuma ngurusin perut sendiri. Tetapi, di film Gundala mah ada satu tokoh mafia yang mengendalikan semua anggota DPR. Mafia yang punya banyak bisnis, ditakuti semua pejabat, dan bisa melakukan apa saja pada siapa saja yang menyatakan pertentangan. Contohnya, ada satu anggota dewan yang idealis. Nggak mau nurut sama si mafia ini. Diapain? Dibunuh sekeluarga! Terornya menyeramkan iiih sampai merinding saya. Entah apa yang merasuki mafia itu.

Kemudian, para anggota DPR yang masih punya hati nurani, rapat secara pribadi dan menyatukan sikap. Yaitu mengesahkan peraturan dibagi-bagikannya serum penawar racun tersebut. Agak alot sih, ada anggota dewan yang menilai pemberian serum itu tidak jelas, belum terbukti dan sebagainya alasan. Sehingga anggota yang baik itu berkata, "Apa kita harus menunggu generasi yang lahir itu jadi tidak bermoral dulu baru kita berikan serum penawar?"

Akhirnya, peraturan disahkan. Serum dibagikan segera. Masalah selesai? No... Twistnya adalah: setelah serum dibagikan, ada info rahasia bahwa serum penawar itu berasal dari anak perusahaan si mafia. Bahannya mengandung zat yang bisa membuat bayi yang lahir jadi tidak bermoral. Njelimet?

Ya para penjahat itu bikin ribut sendiri, menolak serum penawar padahal pura-pura. Goalnya, serum penawar dibagikan. Lah, untung besar mereka itu. Emang tujuannya itu kok, menyebarkan racun yang sesungguhnya!

Dia nyengir bahagia dong, karena racunnya tersebar dan target utamanya adalah merusak generasi penerus bangsa ini. Jika generasi penerus tidak punya moral, jelas nggak bisa bedain baik dan buruk atuh lah. Contohnya, korupsi dianggap bukan kejahatan tapi perbedaan jalan mencari rezeki. Suami minta jatah ke istri tapi istri nggak mau lalu suami maksa itu masuknya pemerkosaan dan dihukum 12 tahun penjara. Terus apa lagi yaaaa perbuatan buruk tapi disangka baik? Hihihi. Teuing ah. Santuy aja ini kan cuma film garapan Joko Anwar. Da di negara kita mah aman-aman aja. Presidennya disuruh mundur mah karena gantengnya kelewatan, bukan karena sepatunya kotor.

Eh tapi grup ibu-ibu juga mulai ramai ini, ngebahas demo mahasiswa. Biasanya sih ngebahas demo masak, demo dandan, lah sekarang ngapain ngebahas politik segala? Emang sedarurat itukah negara kita? Berarti kita kembali lagi deh ke kalimat pertama di paragraf pertama. (*)
01.41

Harus ya Nonton Hayya?

by , in

Belum nonton Hayya? Kenapa sih kita harus nonton Hayya? Apa ekspektasimu sebelum nonton?

Jadi Gaes, sebelum kehabisan tiket apalagi turun layar, sebaiknya kita langsung pesan tiket online saja. Supaya nggak usah antre di loket bioskop.

Apakah kamu pernah kecewa di The Power of Love 212 tahun lalu? Ngarep bakal banyak menyorot perjuangan di 212? Oh no... Ternyata filmnya lebih banyak menampilkan sisi humanisme. Yang menurut saya sih, hubungan romantis ayah dan anak.

Kalau di film Hayya ini, apa kamu ngarep bakal ada adegan perang-perangan lawan Zionis? Sebagaimana di iklannya begitu terkesan ini film yang syuting di Palestina. Tapi Gaes, jangan ngarep berlebihan gitu ya. Ini, menurut saya lebih banyak menampilkan sisi humanisnya. Makanya saya sarankan, bawa tisu atau sapu tangan ya. Jangan sampai itu air mata diusap pakai baju penonton di sebelah. Komoh deui ingusnya dipered di kursi penonton. Iyuuh! Jorok!

Karakter Rahmat yang Sangat Menyebalkan Tapi itu Kita

Iyak, saya sejak di The Power of Love 1 udah nggak seneng sama tokoh Rahmat. Karakter dia itu kan sengak, egois, sok paling bener, maksa. Kalau pakai istilah Adhin, "Otak lo gak beres!". Ya untungnya ada tokoh Adhin yang menghidupkan suasana. Banyak punch-nya. Apalagi di Hayya muncul tokoh baru. Iya, siapa lagi kalau bukan Ricis. Sebenernya saya gak suka-suka banget dengan sosok nih orang, tapi lihat aktingnya di Hayya aiiihh..... Langsung seneng saya! Dia menambah kehebohan dalam cerita, yang bikin film itu gak garing. Coba kalau Rahmat doang yang main, bakal kayak kuburan deh tuh film. Serem dan suram!

Balik lagi ke Rahmat, dia ini ingin berbuat baik tapi caranya salah. Dia egois dan selalu menyalahkan orang lain. Dia doang yang bener. Dan keinginan dia soal Hayya, itu ibarat Mawang nyanyi lagu Nuinyainyuinyainyu.... Yakni ingin berbuat banyak hal untuk anak-anak Palestina, tapi apa daya begitu banyak pasal yang membatasi dua negara ini. Di Palestina banyak anak yatim, orangtuanya menjadi syuhada, rumah mereka dihancurkan Israel tapi..... Kenapa anak-anak ini nggak diungsikan ke negara-negara lain sih biar hilang traumanya? Biar mereka bisa hidup normal dan tenang? Nyaman dan bahagia tanpa mendengar dentuman bom sepanjang waktu?

Ingin tahu kenapa? Karena kita, di sini, dengan segala kenyamanan ini, derajat kita nggak sama Gaes dengan muslimin Palestina. Kita merasa sudah membela mereka hanya dengan harta dan airmata? Mereka menjaga bumi Syam dengan nyawa.... Dan kita pasti akan terus merasa aneh kenapa anak-anak Palestina nggak habis-habis sejak dulu? Padahal dibombardir setiap hari. Kita nggak bisa memikirkannya dengan logika. Itu keajaiban yang Allah ciptakan di bumi.

Lalu, kontribusi kita apa? Saya nggak akan mempertanyakan ini untuk menuntut. Sebagai orang yang hanya bisa berdoa, saya merasa perlu menjawab pertanyaan ini:

"Kenapa sih kita harus mendukung Hayya? Kan bisa aja uangnya langsung disumbangkan ke anak-anak Palestina. Nggak harus nonton film di bioskop."

IMHO, penggalangan dana untuk Palestina itu sudah sering kita lakukan. Apa bedanya jika melalui film? Akan banyak yang menonton, akan banyak yang terketuk hatinya untuk merasakan penderitaan anak-anak Palestina. Sebab ada orang-orang yang lebih mudah tersentuh hatinya lewat seni seperti ini. Kita syiarkan lebih luas lagi tentang Islam dan Palestina. Semoga, dengan salah satu cara ini, semakin banyak yang peduli, dan tidak nyinyir lagi. (*)
17.08

Weathering With You; Bucin atau Cinta yang Tulus?

by , in



Apa sih hakikat cinta? Apakah cinta adalah berarti harus bersama dengan seseorang, tak peduli apa pun? Apakah kita rela dunia kita berubah, asalkan bisa tetap bersamanya? Tiga pertanyaan ini muncul setelah saya nonton Weathering With You.
Sudah beberapa bulan lalu diberitakan bahwa sekuel dari Your Name (Kimi no Na Wa) akan rilis tahun ini. Sayangnya hanya diputar di beberapa kota dan bioskop tertentu. Tidak di semua kota, memang. Antusiasme penggemar menyambut film animasi yang dipilih sebagai perwakilan Jepang dalam International Feature Film Awards (Best Foreign Language Film) untuk Oscar 2020.
Film animasi garapan Makoto Shinkai ini menuai kesuksesan seperti Your Name (2016). Keuntungan Your Name sekitar 165 miliar rupiah, sedangkan Weathering With You berhasil memperoleh pendapatan sekitar 212 miliar rupiah dengan jumlah hari penayangan sama.
Masih bertema cerita fantasi, Your Name menceritakan tentang Taki dan Mitsuha yang mengalami pertukaran tubuh. Weathering With You berkisah tentang Hodaka, seorang remaja yang meninggalkan pulau asalnya untuk pindah di Tokyo. Dia kemudian bekerja sebagai penulis majalah lokal. Namun Hodaka punya pengalaman aneh karena cuaca selalu hujan ketika ada dirinya. Hingga suatu hari dia bertemu dengan Hina, seorang gadis misterius yang bisa mengontrol cuaca. Dia disebut “gadis matahari 100%”. Sebab bila Hina berdoa supaya langit menjadi cerah, hujan akan berhenti dan langit jadi cerah.
Visualisasi anime ini luar biasa. Penggambarannya begitu detail, seakan-akan ini adalah nyata. Soundtrack yang keren juga akan membuat baper.
Di akhir film, kembali kita mempertanyakan tiga hal yang sudah diungkapkan di paragraf pertama. Menjadi satu pertanyaan baru, “Apakah cinta harus seperti itu?”. Apakah benar-benar kita rela kehilangan “dunia” ini hanya demi seseorang yang kita cintai? Seperti ucapana Hodaka kepada Hina, “Aku tidak apa-apa bila tidak bisa melihat langit biru. Aku tidak apa-apa bila tidak bisa bertemu matahari. Asalkan ada kamu di sampingku. Tidak apa-apa hujan setiap hari, yang penting kamu tidak pergi.”
Hehe, menurutmu ini bucin atau cinta yang tulus? (*)

20.56

Keguguran: Momen Sakral Antara Aku dan Calon Bayiku

by , in


Keguguran. Kehilangan. Sedih. Sakit. Pasrah. Bermacam-macam kata menggambarkan satu momen dalam hidupku. Tidak pernah terbayangkan merasakan hal ini. Kehamilan keempat, usia dua bulan. Gugur dalam waktu sepuluh hari.

Terkadang kalau aku mengingat lagi momen dua garis di pagi hari itu, ada kebahagiaan tersendiri. Meskipun sudah tiga kali melahirkan, tetap saja kehamilan ini istimewa.

Berharap yang keempat ini perempuan. Akan tetapi, Allah menakdirkan lain. Diambil-Nya amanah ini. Aku hanya sempat merasakan delapan minggu mengandungnya. Tanpa mual, tanpa gejala morning sickness maupun ngidam. Justru ini berbahaya.

Ngidam, mual dan sakit macam-macam saat hamil itu anugerah lho. Sebab itu pertanda kehamilan kita baik-baik saja. Yang aku rasakan seringnya sakit kepala dan kram di bagian rahim. Tanpa curiga sedikit pun, karena aku selalu setrong pada tiga kehamilan sebelumnya. Aku berkegiatan seperti biasa. Ngajar, mengurus rumah dan tiga anak. Study tour selama sepekan ke Solo. Jalan-jalan ke Islamic Book Fair Jakarta. Juga menghadiri acara Milad FLP. Tiga rangkaian acara besarku saat itu.

Namun, sebagai emak pecicilan akhirnya aku dihadapkan pada kenyataan bahwa tidaklah sama antara kandungan sebelumnya dengan sekarang.

Pada hari Sabtu, keluarlah flek berwarna coklat itu. Aku masih sempat ke pasar untuk belanja perabotan kebutuhan dapur pesantren. Ternyata besoknya yang keluar adalah darah! Aku pun masih mengikuti Beauty Class di Cilegon bersama teman-teman Ibu Profesional.

Baiklah, baru pada hari ketiga aku tirah baring. Tidak melakukan apa-apa. Mencuci pakaian, mencuci piring, beres-beres rumah, dan mengurus anak semuanya dikerjakan suami. Selama sepekan aku merasakan kram perut disertai pendarahan terus-menerus. Seperti orang haid yang lagi banjir-banjirnya. Ini, kalau dibawa ke Rumah Sakit pasti langsung dikuret untuk menghentikan pendarahan. Akan tetapi aku hanya ke Klinik dan setelah USG aku dinyatakan BO (Blighted Ovum) atau janin tidak berkembang.

Selama tirah baring itu aku terus berdoa dan berharap semoga janin ini masih kuat bertahan. Akan tetapi, takdir adalah hak Allah Yang Maha Kuasa. Harapanku tidak pupus, tetapi sekarang menjadi lebih legowo. Aku pasrah pada apa pun yang terjadi. Jika memang aku belum ditakdirkan punya anak keempat, silakan ya Allah... Silakan Engkau ambil kembali janin ini.

Pada hari kesepuluh saat ke kamar mandi, keluarlah gumpalan-gumpalan darah seperti hati ayam. Sepanjang hari terus keluar seperti mengeluarkan segala yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Keluar pulalah darah berbentuk seperti bayi kecil, yang bila disentuh ia pecah menjadi darah. Rupanya inikah proses "segumpal darah" itu? Sudah mirip bayi, tapi masih darah. Hatiku seperti hancur bersamaan dengan hancurnya darah berbentuk bayi itu. Tangisku lindap di kamar mandi. Menangis seorang diri. Entah mengapa aku tidak ingin menunjukkan pada suamiku betapa sedihnya diriku saat itu. Kuresapi kepedihan dan sakit hati sendirian. Ini adalah momen antara aku dan calon bayiku.

Setelah itu sakit kram di perutku hilang. Tidak lagi ku rasakan segala pedih di dalam rahim. Yang tinggal hanyalah kesedihan. Kembali aku bisa berjalan, meski masih kliyengan. Aktif lagi mengurus rumah dan anak-anak.

Kembali ke Puskesmas lagi untuk minta obat pembersih rahim. Minum air kelapa muda. Aku tidak berani menjalani kuretase. Tidak. Tidak akan sanggup meski teman-teman menyarankan demikian. Bismillah Tawakkaltu 'alallah...

Tidak lama setelah itu haidku lancar kembali. Orang bilang kalau setelah keguguran akan cepat hamil lagi. Ini sudah enam bulan dan siklus haid masih lancar. Aku tidak lagi berharap. Sekarang semuanya terserah Engkau saja ya Rabbi.....

Dikaruniai tiga anak lelaki sudah cukup membahagiakan. Yang sudah ada inilah yang harus selalu disyukuri. Sedangkan yang hilang, sudah aku ikhlaskan. Tidak ada lagi kesedihan saat menceritakannya kepada siapa saja. Memang belum waktunya. Syukur baru dua bulan. Syukur tidak sampai kuret. Syukur yang tiga ini sehat senantiasa. Syukur suami selalu siaga. Maka nikmat Tuhanku yang manakah yang akan aku dustakan?(*)
17.34

Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara

by , in
 Antara Siomay, Panci Presto dan Kawan dari Asia Tenggara



Salah satu agenda di acara Mastera Esai 2019 adalah diskusi kelompok yang pesertanya berasal dari beberapa negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Karya masing-masing peserta dikritik dan diberi masukan perbaikan. Bertukar pikiran tentang banyak hal, tersebab perbedaan budaya juga.

Pada dasarnya antara kami tidak banyak perbedaan. Bahasa mungkin sedikit lain, logat dan aksen tetapi induknya sama yaitu Bahasa Melayu. Di masa lalu, kita disatukan dalam Nusantara.

Contohnya Amirul, peserta dari Singapura yang mengaku ini pertama kalinya beliau menulis esai dalam Bahasa Melayu, biasanya dalam Bahasa Inggris. Wajar, karena Singapura mengutamakan Bahasa Inggris, termasuk dalam pengajaran Bahasa Melayu pun pengantarnya adalah Bahasa Inggris.

Saya, mungkin juga Anda beranggapan bahwa Singapura adalah negara maju. Terutama dari segi ekonomi, pertumbuhannya sangat tinggi, pun dalam hal pendidikannya, banyak orang Indonesia yang kuliah di sana. Bahkan kalau ada pejabat atau publik figur sakit keras, berobatnya ya ke Singapura. Enci-engko crazy rich Suroboyo juga mungkin makan siangnya di Singapura.

Namun yang dirasakan Amirul adalah kesedihan. Lho, mengapa? Bukankah dia seharusnya bangga sebagai warga negara Singapura? Yang tidak ada orang buang sampah sembarangan atau melanggar peraturan lalin? Aman, tertib dan maju. Mengapa dia gelisah?

"Sebab budaya Melayu di Singapura jadi terkikis. Perekonomian maju tapi dikuasi etnis Tionghoa. Yang bisa mendapatkan pendidikan high class adalah etnis Tionghoa yang kaya. Warga Melayu hanya masuk kelas menengah."

Lalu bagaimana dengan warga yang benar-benar miskin? Tentu dia tidak ada kesempatan mengenyam pendidikan dan menikmati perekonomian? That is reality. Hanya, pemerintah Singapura tidak memperlihatkan bahwa ada warganya yang miskin. Mereka yang miskin diberikan rumah dengan harga sewa murah. Juga kondisi para pelajarnya, mereka ditekan sedemikian rupa agar mendapat peringkat terbaik di sekolah sehingga bisa masuk ke universitas ternama dan bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Orientasinya materi.

Amirul adalah salah satu pemuda yang "out of the box". Beliau peduli pada budaya Melayu dan kritis terhadap fenomena sosial yang ada. Amirul banyak menulis dan senang berdiskusi.

Ada pula Ainunl Muaiyanah, editor dari Malaysia. Ainunl sangat pandai menciptakan kalimat puitik, juga rasa ingin tahunya besar. Beliau senang berdiskusi dan open-minded.

Syawal peserta dari Brunei, mahasiswa Universitas Brunei Darussalam. Di antara kami semua, dialah yang esainya paling panjang dan lengkap dengan catatan-catatan kaki.

Terkadang ada sedikit bahasa yang tidak bisa kami pahami satu sama lain. Seperti gratis ongkos kirim, oh maksudnya free delivery...

Ketika coffee break, kami menikmati kudapan siomay. What is this? Siomay? Yes, you can call it dimsum.  Barulah mereka paham. Tapi intinya sama, meski Syawal menganggap kecap dan sambal cabai adalah bumbu rujak. Lalu merek teringat makanan restoran yaitu daging yang empuk sekali. Dimasak dengan cara apa?



Presto. Ah mereka tak paham. Presto teh bahasa naon ya? Namun akhirnya merek memahami panci presto adalah "pressure cooker". Ok, intinya sama. Dan ketika kita mengutamakan inti serta persamaan, kita akan toleransi pada perbedaan. Dan kuliner terbukti lebih cepat menyatukan kita. Betul?

Lembang, 20 Agustus 2019
01.27

Pagi Berkabut Rindu (Hari Pertama Mastera)

by , in




Pagi berkabut rindu/
duduk di atas batu/
namamu terpahat di situ/

Pagi ini memang tidak biasa. Suhu udara 18°C adalah seperti menyelimuti diri dengan air kulkas. Lebay, ya? Ya maklum saya terbiasa dengan udara panas Kota Serang. Buka WA grup malah membahas si burung elang, Ortiz. Begitu gagah dan elegannya ia, angkuh dan manja. Memang Grup Genjreng ini paling ramai justru di tengah malam sampai Subuh. Biasanya azan Subuh berhenti sendiri. Kalong emang. Haha... 

Namun pagi usai salat Subuh saya menyengaja keluar hotel, sekadar melihat kabut melayang-layang di permukaan kolam renang, di jalanan, di atas gunung, bahkan ketika berbicara pun mengeluarkan uap kabut. Brrr.....

Saya jalan kaki sedikit ke jalan raya, tidak lama kemudian semakin terasa dingin. Lalu masuk lagi ke lobi dan belok ke resto untuk ngopi. Kebetulan, ada peserta juga yang sudah ngopi duluan. Lumayan ada teman ngobrol, ngalor ngidul sampai nyambung ke obrolan tentang Perang Bubat. Topik yang saya suka, dan masih mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa dan Sunda. Mas Ridwan Hasyimi berasal dari Ciamis, yang konon merupakan tempat kerajaan Sunda Galuh.  Sambil menyeruput kopi dan susu murni, topik itu menjadi lebih luas dengan kedatangan Pak Ganjar dan Pak Arif, maka saya menyimak penuturan mereka. Lumayan, kuliah pagi tentang Sejarah, bonus kan?

Mitos kuburan Gajah Mada juga menurut Pak Ganjar sampai saat ini sejauh beliau keliling Indonesia, ada 7 makam. Salah satunya di Dompu, NTB. Namun di mana letak pastinya tak ada yang tahu. Hanya istilahnya mungkin "petilasan", bukan kuburan yang nyata.

Sementara Pak Arif, tesisnya tentang Perang Bubat mencoba menggali sumber dari karya-karya lokalitas Sunda. Tradisi lisan, menurutnya adalah tradisi yang lazim di masyarakat Indonesia, tak seperti Yunani yang tradisi tulisan. Maka tak heran jika sumber sejarah kita ini lebih dominan lisan, yang sering disebut sumber sekunder bagi para peneliti.

Selamat pagi Lembang, aku siap belajar apa saja hari ini 😍


17.39

Perjalanan Menuju Mastera 2019

by , in



Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirobbil 'alamin atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Tak henti-hentinya saya bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup dan menikmati hidup.

Pagi ini saya sedang dalam perjalanan menuju Lembang, tempat diadakannya Mancakrida, Pelatihan Esai Mastera. Beberapa minggu lalu saya mendaftar untuk ikut Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) yang pesertanya dari negara-negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Brunei, Malaysia dan Singapura. Dari Indonesia sendiri dipilih 10 orang.

Antara bahagia dan tak percaya nama saya bisa masuk dalam daftar tersebut, juga ada Ardian Je yang sama-sama dari FLP. InsyaAllah akan dibimbing oleh para master yaitu Maman S Mahayana, Agus R. Sardjono dan Cecep Syamsul Hari.

Selama sepekan para peserta akan digembleng untuk menciptakan esai yang baik, semoga saya kuat. (Kuat udara dingin Lembang terutama, karena saya manusia Serang yang langsung menggigil padahal suhu baru 23°C.

Teman-teman dari Rumah Dunia dan FLP Banten pun menyemangati. Sebab saya sempat minder karena masuk acara besar seperti ini, tapi mereka semua berbahagia. Ya, dari RD dan FLP saya mulai mengenal dunia penulisan. Salah satunya esai. Betapa gembiranya saat tulisan pertama saya masuk koran, meskipun hanya surat pembaca.

Ada banyak orang hebat yang memberikan sumbangsih ilmunya kepada saya. Mas Gol A Gong, Pak Firman Venayaksa, Kang Qizink La Aziva, Teh Fey Chandra dan Kak Tatang Ade Chandra, beserta semua teman-teman FLP Banten yang senantiasa solid terutama dalam hal ngerujak mangga.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kakanda Goblin tercinta, suamiku yang mengizinkan aku mengikuti acara ini. Sepekan meninggalkan rumah dan anak-anak. Bebas tugas nyuci baju seminggu, yeaaay..... Demi memberikan aku jeda waktu untuk belajar tentang apa yang menjadi passionku.

Semoga acaranya nanti sukses, lancar dan pulang membawa banyak pengalaman.


*) Ditulis di pinggir jalan sambil menunggu bus Merak-Bandung